Latest Entries »

ARTHROPODA

ARTHROPODA

1.
2.
3.

4.

menjelaskan ciri-ciri tubuh Arthropoda,
mengelompokkan Arthropoda berdasarkan struktur tubuhnya,
menjelaskan perbedaan ciri-ciri tubuh kelas Arachnida, Myriapoda, Crustacea dan Insecta,
menjelaskan peranan Arthropoda dalam kehidupan manusia.
Ciri-ciri Arthropoda | Klasifikasi Arthropoda | Crustacea | Arachnida | Myriapoda | Insecta | Uji Kompetensi | Kegiatan Belajar 2 | Kegiatan Belajar 3 | Home


Uraian
Setelah Anda mempelajari modul tentang Porifera, Coelentarata, Platyhelminthes, Nemathelmintes, dan Annelida, maka sekarang marilah kita pelajari hewan invertebrata lainnya yaitu tentang Arthropoda.

Hewan ( Animalia )

Hewan  ??


Rentang fosil: Ediacaran – Sekarang

Dari kiri ke kanan mulai dari atas-kiri: Kodok Pohon Hijau Australia, Burung Hantu Tawny, Harimau Siberia, Laba-laba kebun Eropa, Keong badan bening, Kura-kura laur hijau, Lebah soliter, Arwana Asia, Macaque Barbaria, Hiu gergaji dan kupu-kupu Marbled Putih.

Hewan atau binatang atau margasatwa atau satwa saja adalah kelompok organisme yang diklasifikasikan dalam kerajaan Animalia atau Metazoa, adalah salah satu dari berbagai makhluk hidup yang terdapat di alam semesta. Hewan dapat terdiri dari satu sel (uniselular) atau pun banyak sel (multiselular).

Para ilmuwan mengklasifikasikan hewan kepada dua kelompok besar, yaitu hewan bertulang belakang dan hewan tanpa tulang belakang.

Hewan juga diklasifikasikan menurut makanan mereka.

AVERTEBRATA (Hewan tanpa tulang belakang )

1. Arthropoda ?!

A. Ciri-ciri Arthropoda
- Tubuh beruas-ruas terdiri atas kepala (caput), dada (toraks) dan perut (abdomen).
- Bentuk tubuh bilateral simetris, triploblastik, terlindung oleh rangka luar dari kitin.
- Alat pencernaan sempurna, pada mulut terdapat rahang lateral yang beradap- tasi untuk mengunyah dan mengisap. Anus terdapat di bagian ujung tubuh.
- Sistem peredaran darah terbuka dengan jantung terletak di daerah dorsal (punggung) rongga tubuh.
- Sistem pernafasan:

Arthropoda yang hidup di air bernafas dengan insang, sedangkan yang hidup di darat bernafas dengan paru-paru buku atau permukaan kulit dan trakea.

- Sistem saraf berupa tangga tali. Ganglion otak berhubungan dengan alat indera.
- Arthropoda memiliki alat indera seperti antena yang berfungsi sebagai alat peraba, mata tunggal (ocellus) dan mata majemuk (facet), organ pendengaran (pada insecta) dan statocyst (alat keseimbangan) pada Curstacea.
- Alat eksresi berupa coxal atau kelenjar hijau, saluran Malpighi.
- Alat reproduksi, biasanya terpisah. Fertilisasi kebanyakan internal (di dalam tubuh).
B. Klasifikasi (penggolongan) Arthoproda
Berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya, Arthropoda dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu:
1. Kelas Crustacea (golongan udang).
2. Kelas Arachnida (golongan kalajengking dan laba-laba).
3. Kelas Myriapoda (golongan luwing).
4. Kelas Insecta (serangga).

Untuk dapat memahami klasifikasi Arthropoda secara menyeluruh, perhatikan bagan berikut ini.

Gambar 1. Hewan-hewan kelompok Arthropoda

Perbedaan dari masing-masing kelas akan dijelaskan berikut ini. Perhatikan tabelnya!

CIRI KELAS
1. Crustacea 2.Arachnida 3. Myriapoda 4. Insecta
Tubuh
a. Mempunyai rangka yang keras
b. Terdiri atas 2 bagian : kepala-dada dan perut
Terdiri atas 2 bagian :

kepala-dada dan perut

a. Chilopoda: kepala dan badan gepeng (dorso ventra)
b. Diplopoda : kepala dan badan silindris
Terdiri atas kepala, dada dan abdomen (perut)
Kaki 1 pasang pada setiap segmen tubuh 4 pasang pada kepala – dada 1 pasang atau 2 pasang pada setiap ruas 3 pasang pada dada atau tidak ada
Sayap Tidak ada Tidak ada Tidak ada 2 pasang atau tidak ada
Antena 2 pasang Tidak ada
a. Chilopoda : 1 pasang dan panjang
b. Diplopoda : 1 pasang dan pendek
1 pasang
Organ Pernafasan Insang atau seluruh permukaan tubuh Paru-paru buku Trakea Trakea
Tempat hidup Air tawar, air laut Di darat Di darat Di darat

Sekarang silahkan Anda pelajari uraian tiap-tiap kelas dimulai dari Crustacea.

1.Crustacea
Crustacea adalah hewan akuatik (air) yang terdapat di air laut dan air tawar.

Ciri-ciri crustacea adalah sebagai berikut:

a. Struktur Tubuh
Tubuh Crustacea bersegmen (beruas) dan terdiri atas sefalotoraks (kepala dan dada menjadi satu) serta abdomen (perut). Bagian anterior (ujung depan) tubuh besar dan lebih lebar, sedangkan posterior (ujung belakang)nya sempit.

Pada bagian kepala terdapat beberapa alat mulut, yaitu:

1) 2 pasang antena
2) 1 pasang mandibula, untuk menggigit mangsanya
3) 1 pasang maksilla
4) 1 pasang maksilliped

Maksilla dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan menghantarkan makanan ke mulut. Alat gerak berupa kaki (satu pasang setiap ruas pada abdomen) dan berfungsi untuk berenang, merangkak atau menempel di dasar perairan.

Gambar 2. Struktur tubuh Crustacea

Cobalah perhatikan gambar di atas! Anda cari/tunjukkan organ struktur tubuh pada bagian kepala – dada dan perut.

b. Sistem Organ

1) Sistem Pencernaan

Makanan Crustacea berupa bangkai hewan-hewan kecil dan tumbuhan. Alat pencernaan berupa mulut terletak pada bagian anterior tubuhnya, sedangkan esophagus, lambung, usus dan anus terletak di bagian posterior. Hewan ini memiliki kelenjar pencernaan atau hati yang terletak di kepala – dada di kedua sisi abdomen. Sisa pencernaan selain dibuang melalui anus, juga dibuang melalui alat eksresi disebut kelenjar hijau yang terletak di dalam kepala.

2) Sistem Saraf

Susunan saraf Crustacea adalah tangga tali. Ganglion otak berhubungan dengan alat indera yaitu antena (alat peraba), statocyst (alat keseimbangan) dan mata majemuk (facet) yang bertangkai.

3) Sistem Peredaran Darah

Sistem peredaran darah Crustacea disebut peredaran darah terbuka. Artinya darah beredar tanpa melalui pembuluh darah. Darah tidak mengandung hemoglobin, melainkan hemosianin yang daya ikatnya terhadap O2 (oksigen) rendah.

Gambar 3. Struktur dalam Crustacea

4) Sistem Pernafasan

Pada umumnya Crustacea bernafas dengan insang. Kecuali Crustacea yang bertubuh sangat kecil bernafas dengan seluruh permukaan tubuhnya.

5) Alat Reproduksi

Alat reproduksi pada umumnya terpisah, kecuali pada beberapa Crustacea rendah. Alat kelamin betina terdapat pada pasangan kaki ketiga. Sedangkan alat kelamin jantan terdapat pada pasangan kaki kelima. Pembuahan terjadi secara eksternal (di luar tubuh).

Dalam pertumbuhannya, udang mengalami ekdisis atau pergantian kulit. Udang dewasa melakukan ekdisis dua kali setahun, sedangkan udang yang masih muda mengalami ekdisis dua minggu sekali. Selain itu udang mampu melakukan autotomi (pemutusan sebagian anggota tubuhnya). Misalnya: udang akan memutuskan sebagian pangkal kakinya, bila kita menangkap udang pada bagian kakinya. Kemudian kaki tersebut akan tumbuh kembali melalui proses regenerasi.

c. Klasifikasi Crustacea

Berdasarkan ukuran tubuhnya Crustacea dikelompokkan sebagai berikut:

1) Entomostraca (udang tingkat rendah)

Hewan ini dikelompokkan menjadi empat ordo, yaitu:

a) Branchiopoda
b) Ostracoda
c) Copecoda
d) Cirripedia
2) Malakostraca (udang tingkat tinggi)

Hewan ini dikelompokkan dalam tiga ordo, yaitu:

a) Isopoda
b) Stomatopoda
c) Decapoda
Entomostraca (udang tingkat rendah)

Kelompok Entomostraca umumnya merupakan penyusun zooplankton, adalah melayang-layang di dalam air dan merupakan makanan ikan. Adapun pembagian ordo yang termasuk Entomostraca antara lain :

a) Branchiopoda

Contoh: Daphnia pulex dan Asellus aquaticus.

Hewan ini sering disebut kutu air dan merupakan salah satu penyusun zooplankton. Pembiakan berlangsung secara parthenogenesis.

Gambar 4. Contoh : Branchiopoda

b) Ostracoda

Contoh: Cypris candida, Codona suburdana.

Hidup di air tawar dan laut sebagai plankton, tubuh kecil dan dapat bergerak dengan antena.

Gambar 5. Contoh Ostracoda

c) Copepoda

Contoh: Argulus indicus, Cyclops.

Hidup di air laut dan air tawar, dan merupakan plankton dan parasit,
segmentasi tubuhnya jelas.

Gambar 6. Contoh Copecoda

d) Cirripedia

Contoh: Lepas atau Bernakel, Sacculina.

Tubuh dengan kepala dan dada ditutupi karapaks berbentuk cakram dan hidup di laut melekat pada batu atau benda lain. Cirripedia ada yang bersifat parasit  Cara hidup Cirripedia beraneka ragam. Salah satu diantaranya adalah Bernakel yang terdapat pada dasar kapal, perahu dan tiang-tiang yang terpancang di laut atau mengapung di laut.

Malakostraca (udang tingkat tinggi) Hewan ini kebanyakan hidup di laut, adapula yang hidup di air tawar. Tubuhnya terdiri atas sefalotoraks yaitu kepala dan dada yang bersatu serta perut (abdomen). Malakostraca dibagi menjadi 3 ordo, yaitu Isopoda, Stomatopoda dan Decapoda.

a) Isopoda
Tubuh pipih, dorsiventral, berkaki sama.

Contoh:
- Onicus asellus (kutu perahu)
- Limnoria lignorum
Keduanya adalah pengerek kayu.

b) Stomatopoda

Contoh: Squilla empusa (udang belalang).

Hidup di laut, bentuk tubuh mirip belalang sembah dan mempunyai warna yang mencolok. Belakang kepala mempunyai karapaks. Kepala dilengkapi dengan dua segmen anterior yang dapat bergerak, mata dan antena. c) Decapoda (si kaki sepuluh) Yang termasuk ordo ini adalah udang dan ketam. Hewan ini mempunyai sepuluh kaki dan merupakan kelompok udang yang sangat penting peranannya bagi kehidupan manusia. Decapoda banyak digunakan sebagai sumber makanan yang kaya dengan protein. Contohnya adalah udang, kepiting, ketam dan rajungan. Kepala – dada menjadi satu (cephalothorax) yang ditutupi oleh karapaks. Tubuh mempunyai 5 pasang kaki atau sepuluh kaki sehingga disebut juga hewan si kaki sepuluh. Hidup di air tawar, dan beberapa yang hidup di laut.

Beberapa contoh Decapoda berikut uraiannya, yaitu:
- Udang
1. Penacus setiferus (udang windu), hidup di air payau, enak dimakan dan banyak dibudidayakan.
2. Macrobrachium rasenbengi (udang galah), enak dimakan, hidup di air tawar dan payau.
3. Cambarus virilis (udang air tawar)
4. Panulirus versicolor (udang karang), hidup di air laut dan tidak memiliki kaki catut.
5. Palaemon carcinus (udang sotong)
- Ketam
1. Portunus sexdentatus (kepiting)
2. Neptunus peligicus (rajungan) / Pagurus sp.
3. Parathelpusa maculata (yuyu)
4. Scylla serrata (kepiting)
5. Birgus latro (ketam kenari)

Perhatikan gambar berikut ini!

Gambar 9. Kelompok Malakostraca

d) Peran Crustacea bagi Kehidupan Manusia

Jenis Crustacea yang menguntungkan manusia dalam beberapa hal, antara lain:

1) Sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi, misal udang, lobster dan kepiting.
2) Dalam bidang ekologi, hewan yang tergolong zooplankton menjadi sumber makanan ikan, misal anggota Branchiopoda, Ostracoda dan Copepoda.
Sedangkan beberapa Crustacea yang merugikan antara lain:
1) Merusak galangan kapal (perahu) oleh anggota Isopoda.
2) Parasit pada ikan, kura-kura, misal oleh anggota Cirripedia dan Copepoda.
3) Merusak pematang sawah atau saluran irigasi misalnya ketam.
Sekarang marilah kita pelajari kelas yang ke 2 yang termasuk ke dalam Arthropoda yaitu Arachnida.

2. Arachnida

Anggota Arachnida meliputi kalajengking, laba-laba, tungau atau caplak. Kebanyakan hewan ini bersifat parasit yang merugikan manusia, hewan dan tumbuhan. Arachnida bersifat karnivora sekaligus predator. Tempat hidupnya adalah di darat.

Ciri-ciri Arachnida
- Tubuh terbagi atas kepala-dada (sefalotoraks) dan perut yang dapat dibedakan dengan jelas, kecuali Acarina.
- Pada bagian kepala-dada tidak terdapat antena, tetapi mempunyai beberapa pasang mata tunggal, mulut, kelisera dan pedipalpus.
- Mempunyai 4 pasang kaki pada kepala-dada.
- Alat ekskresi dilengkapi dengan saluran malphigi dan kelenjar coxal.
- Alat pernafasan berupa trakea, paru-paru buku atau insang buku.
- Alat kelamin jantan dan betina terpisah, lubang kelamin terbuka pada bagian anterior abdomen, pembuahan internal (di dalam).
- Sistem saraf tangga tali dengan ganglion dorsal (otak) dan tali saraf ventral dengan pasangan-pasangan ganglia.
- Alat mulut dan alat pencernaan makanan terutama disesuaikan untuk mengisap serta memiliki kelenjar racun.
- Habitat (tempat hidup) di darat, pada umumnya tetapi ada pula sebagai parasit.

a. Scorpionida
Contohnya:
- Kalajengking (Vejovis sp, Hadrurus sp, Centrurus sp)
- Ketonggeng (Buthus)
Hewan ini memiliki perut beruas-ruas dan ruas terakhir berubah menjadi alat pembela diri.
b. Arachnoida
Contohnya adalah segala macam laba-laba, antara lain :
- Laba-laba jaring kubah (terdapat di Bostwana, Afrika Selatan)
- Laba-laba primitif Liphistius (di rimba Asia Tenggara)
- Laba-laba penjerat (di Malaysia)
- Laba-laba pemburu (di Meksiko)
- Laba-laba srigala
- Laba-laba beracun Latrodectes natans dan Laxosceles reclusa
- Tarantula (Rhechostica hentz)
Umumnya laba-laba mempunyai perut tidak beruas-ruas.

Gambar 10. Beberapa contoh hewan Arachnida

c. Aracina contohnya:
- Caplak kudis (Sacroptes scabiei)
- Caplak unggas (Dermanyssus)
- Caplak sapi (Boophilus annulatus)
- Tungau (Dermacentor sp.)

Ciri khas yang terdapat pada tubuh hewan ini adalah tubuh tidak berbuku- buku, umumnya parasit pada burung dan mamalia termasuk manusia.

Gambar 11. Jenis-jenis caplak

Arachnida bermanfaat untuk pengendalian populasi serangga terutama serangga hama. Akan tetapi hewan ini juga banyak hewan ini juga banyak merugikan manusia terutama hewan Acarina misalnya:
a. Caplak menyebabkan gatal atau kudis pada manusia
b. Psoroptes equi menyebabkan kudis pada ternak domba, kelinci, kuda.
c. Ododectes cynotis (tungau kudis telinga) menyerang anjing dan kucing.

Selesai sudah Anda mempelajari Arachnida dan Crustacea. Cobalah sekarang jawab pertanyaan berikut:

1. a. Sebutkan ciri-ciri Crustacea!
b. Buatlah bagan pengelompokan Crustacea disertai contohnya!
2. Apakah peranan Crustacea bagi manusia?
3. a. Sebutkan ciri-ciri Arachnida!
b. Sebutkan ordo dan contoh Arachnida!
4. Apakah peranan Arachnida bagi manusia?

Untuk lebih memahami dan lebih mengenal hewan Arthropoda, cobalah Anda lakukan kegiatan pengamatan bersama teman-temanmu di sekolah dengan bimbingan guru binamu. Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan ini sebagai berikut.

1. Botol kosong
2. Lup dan / atau mikroskop
3. Papan bedah
4. Eter (kloroform)
5. Kapas
6. Udang atau kepiting
7. Lipan atau keluwing
8. Laba-laba
Lakukan kegiatan ini dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
- Hewan-hewan yang telah Anda bawa dibius terlebih dahulu dengan Eter (chloroform) dengan cara meneteskan cairan tersebut pada kapas. Kemudian letakkan kapas pada tubuh hewan (udang, laba-laba, lipan atau kepiting).
- Setelah kelihatan tidak bergerak, cobalah Anda gambarkan hewan-hewan tersebut pada kertas gambar.
No Gambar Keterangan Gambar
1.
2.
3.
dst
- Kemudian cobalah bandingkan struktur tubuh hewan tersebut apakah mempunyai ciri yang sama?
- Masukkan hasil pengamatan tersebut ke dalam tabel pengamatan berikut.
Tabel hasil pengamatan
No Hal yang dibandingkan Crustacea Arachnida Keterangan
1. Tubuh
2. Antena
3. Tipe mulut
4. Kaki
5. Organ respirasi
6. Lubang kelamin
7. Mata facet
8. Habitat
Setelah Anda menuliskan pada tabel pengamatan, sekarang cobalah jawab beberapa pertanyaan di bawah ini.
1. Apakah ciri-ciri utama Arthropoda berdasarkan hasil pengamatanmu?
2. Apakah fungsi setiap kaki pada hewan Arthropoda yang Anda amati?
3. Jelaskan peranan Arthropoda bagi manusia!
a. Menguntungkan

b. Merugikan

4. Apakah yang menjadi dasar udang dan laba-laba dijadikan satu kelompok Arthropoda ?

Setelah selesai melakukan keiatan pengamatan, marilah kita bahas hewan Arthropoda lainnya yang termasuk kelas Myriapoda dan Insecta.

3. Myriapoda

Myriapoda adalah gabungan dari kelas Chilopoda dan Diplopoda dengan tubuh beruas-ruas dan setiap ruas mempunyai satu pasang atau dua pasang kaki. Tubuh dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kepala dan abdomen (perut). Hewan ini banyak dijumpai di daerah tropis dengan habitat di darat terutama tempat yang banyak mengandung sampah, misal kebun dan di bawah batu-batuan.

Ciri-ciri Myriapoda
- Tubuh bersegmen (beruas) tidak mempunyai dada jadi hanya kepala dan perut.
- Pada setiap ruas perut terdapat satu pasang atau 2 pasang kaki.
- Pada kepala terdapat 2 kelopak mata tunggal (ocellus), 1 pasang antena dan alat mulut.
- Susunan saraf tangga tali.
- Sistem pernafasan dengan trakea. Mempunyai spirakel yang terdapat pada setiap ruas tubuhnya untuk keluar masuknya udara.
- Sistem peredaran darah terbuka.
- Alat kelamin jantan dan betina terpisah, cara perkembangbiakan dengan cara bertelur.
- Hidup di darat, misal di bawah batu, dalam tanah, humus atau tempat lembab lainnya.

Klasifikasi (penggolongan Myriapoda) Dalam penggolongannya Myriapoda merupakan gabungan dari dua kelas, yakni:
1. Kelas Chilopoda
2. Kelas Diplopoda

Kelas Chilopoda
Contoh: kelabang : Lithobius forticatus dan Scolopendra morsitans.

Ciri-cirinya Chilopoda
- Tubuh agak gepeng, terdiri atas kepala dan badan yang beruas-ruas (15 – 173 ruas). Tiap ruas memiliki satu pasang kaki, kecuali ruas (segmen) di belakang kepala dan dua segmen terakhirnya. Pada segmen di belakang kepala terdapat satu pasang “taring bisa” (maksiliped) yang berfungsi untuk membunuh mangsanya. Pada kepala terdapat sepasang antena panjang yang terdiri atas 12 segmen, dua kelompok mata tunggal dan mulut. Hewan ini memangsa hewan kecil berupa insecta, mollusca, cacing dan binatang kecil lainnya, sehingga bersifat karnivora.
- Alat pencernaan makanannya sudah sempurna artinya dari mulut sampai anus. Alat eksresi berupa dua buah saluran malphigi.
- Respirasi (pernafasan) dengan trakea yang bercabang-cabang dengan lubang yang terbuka hampir pada setiap ruas.
- Habitat (tempat hidup) di bawah batu-batuan/timbunan tumbuhan yang telah membusuk. Kelas ini sering disebut Sentipede.

Kelas Diplopoda

Contoh: kaki seribu (Julus nomerensis)

Gambar 13. Julus Nomerensis (kaki seribu)

Ciri-cirinya Diplopoda
- Tubuh berbentuk silindris dan beruas-ruas (25 – 100 segmen) terdiri atas kepala dan badan. Setiap segmen (ruas) mempunyai dua pasang kaki, dan tidak mempunyai “taring bisa” (maksiliped). Pada ruas ke tujuh, satu atau kedua kaki mengalami modifikasi sebagai organ kopulasi.
- Pada kepala terdapat sepasang antena yang pendek, dua kelompok mata tunggal.
- Hidup di tempat yang lembab dan gelap dan banyak mengandung tumbuhan yang telah membusuk.
- Respirasi dengan trakea yang tidak bercabang.
- Alat eksresi berupa dua buah saluran malphigi.

4. Insecta

Insecta sering disebut serangga atau heksapoda. Heksapoda berasal dari kata heksa berarti 6 (enam) dan kata podos berarti kaki. Heksapoda berarti hewan berkaki enam. Diperkirakan jumlah insecta lebih dari 900.000 jenis yang terbagi dalam 25 ordo. Hal ini menunjukkan bahwa banyak sekali variasi dalam kelas insecta baik bentuk maupun sifat dan kebiasaannya.

Ciri-ciri Insecta, antara lain:
- Tubuh dapat dibedakan dengan jelas antara kepala, dada dan perut.
- Kepala dengan:

a. Satu pasang mata facet (majemuk), mata tunggal (ocellus), dan satu pasang antena sebagai alat peraba.
b. Alat mulut yang disesuaikan untuk mengunyah, menghisap, menjilat dan menggigit.
- Bagian mulut ini terdiri atas rahang belakang (mandibula), rahang depan (maksila), dan bibir atas (labrum) serta bibir bawah (labium)

-         Dada (thorax) terdiri atas tiga ruas yaitu prothorax,mesothorax dan metathorax. Pada segmen terdapat sepasang kaki.

-         Kaki berubah bentuk disesuaikan dengan fungsinya yakni:
a. kaki untuk menggali (anjing tanah)
b. kaki untuk meloncat (belalang)
c. kaki untuk berenang (kumbang air)
d. kaki untuk pengumpul serbuk sari
e. kaki untuk berjalan (kumbang tanah)
f. kaki untuk memegang (belalang sembah)

-

Gambar 14. Berbagai tipe mulut serangga

Pada setiap mesotoraks (mesothorax) dan metatoraks (metathorax) terdapat dua pasang sayap, tetapi ada pula yang tidak memiliki sayap.

- Perut (abdomen) memiliki sebelas (11) ruas atau beberapa ruas saja. Pada belalang betina, bagian belakang perut terdapat ovipositor yang berfungsi untuk meletakkan telurnya. Pada segmen pertama terdapat alat pendengaran atau membran tympanum.
- Alat pencernaan terdiri atas: mulut, kerongkongan, tembolok, lambung, usus, rektum dan anus.
- Sistem saraf tangga tali.
- Sistem pernafasan dengan sistem trakhea.
- Sistem peredaran darah terbuka.
- Alat kelamin terpisah (jantan dan betina), pembuahan internal.
- Tempat hidup di air tawar dan darat.
- Umumnya serangga mengalami perubahan bentuk (metamorfosis) dari telur sampai dewasa.

Pelajarilah struktur dalam belalang pada gambar berikut!

Gambar 15. Struktur dalam belalang

Untuk menguji kemampuan Anda, cobalah jawab pertanyaan berikut.
1. Cobalah bandingkan perbedaan ciri-ciri Insecta dengan Myriapoda.
2. Perhatikan gambar struktur tubuh belalang, tunjukkan urutan sistem pencernaannya!

Bila Anda kesulitan untuk menjawabnya, cobalah baca sekali lagi uraian di atas dengan seksama. Kemudian coba jawab kembali pertanyaan tersebut. Berikutnya Anda dapat mempelajari mengenai klasifikasi serangga.

Klasifikasi (penggolongan) Insecta (serangga)

Serangga dalam perkembangannya menuju dewasa mengalami metamorfosis. Metamorfosis adalah perubahan bentuk serangga mulai dari larva sampai dewasa. Adapula serangga yang selama hidupnya tidak pernah mengalami metamorfosis, misal kutu buku (Episma saccharina). Berdasarkan metamorfisnya, serangga dibedakan atas dua kelompok, yaitu: Hemimetabola dan Holometabola.

-Hemimetabola
Hemimetabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Dalam daur hidupnya Hemimetabola serangga mengalami tahapan perkembangan sebagai berikut:

1. Telur
2. Nimfa, ialah serangga muda yang mempunyai sifat dan bentuk sama dengan dewasanya. Dalam fase ini serangga muda mengalami pergantian kulit.
3. Imago (dewasa), ialah fase yang ditandai telah berkembangnya semua organ tubuh dengan baik, termasuk alat perkembangbiakan serta sayapnya.

Sebagai contoh pelajarilah daur hidup belalang berikut ini!

Gambar 16. Daur hidup belalang

Kelompok Hemimetabola meliputi beberapa ordo, antara lain:
1. Achyptera atau Isoptera
2. Orthoptera
3. Odonata
4. Hemiptera
5. Homoptera

Berikut pelajarilah uraian ordo-ordo tersebut satu persatu dan dimuali dari ordo Archyptera/Isoptera.

1. Ordo Archyptera atau Isoptera
Ciri-ciri ordo Archyptera:
- Metamorfosis tidak sempurna.
- Mempunyai satu pasang sayap yang hampir sama bentuknya. Kedua sayap tipis seperti jaringan.
- Tipe mulut menggigit.

Contoh: Reticulitermis flavipes (rayap atau anai-anai)

Keterangan:
Pada rayap terjadi polimorfisme, artinya di dalam satu spesies terdapat bermacam-macam bentuk dengan tugas yang berbeda. Rayap hidup berkoloni, dalam koloni ini terjadi pembagian tugas kerja, yaitu:
- Ratu, yakni laron (rayap betina fertil). Biasanya tubuh gemuk dan tugasnya adalah bertelur.
- Raja, yaitu laron (rayap jantan fertil), tugasnya melestarikan keturunan.
- Serdadu, rayap yang bertugas mempertahankan sarang dan koloni dari gangguan hewan lain.
- Pekerja, rayap yang bertugas memberi makan ratu dan raja, serta menjaga sarang dari kerusakan. Sifat rayap pekerja dan rayap serdadu bersifat steril.
Perhatikan perkembangan rayap dari telur sampai dewasa pada bagan berikut ini!

Gambar 17. Perkembangan telur rayap sampai dewasa

2. Ordo Orthoptera (serangga bersayap lurus)
Ciri-ciri ordo Orthoptera:
- Memiliki satu pasang sayap, sayap depan lebih tebal dan sempit disebut tegmina. Sayap belakang tipis berupa selaput. Sayap digunakan sebagai penggerak pada waktu terbang, setelah meloncat dengan tungkai belakangnya yang lebih kuat dan besar.
- Hewan jantan mengerik dengan menggunakan tungkai belakangnya pada ujung sayap depan, untuk menarik betina atau mengusir saingannya.
- Hewan betinanya mempunyai ovipositor pendek dan dapat digunakan untuk meletakkan telur.
- Tipe mulutnya menggigit.
Contoh:
- Belalang (Dissostura sp)
- Belalang ranting (Bactrocoderma aculiferum)
- Belalang sembah (Stagmomantis sp)
- Kecoak (Blatta orientalis)
- Gangsir tanah (Gryllotalpa sp)
- Jangkrik (Gryllus sp)

Gambar 18. Belalang

3. Ordo Odonata
Ciri-ciri Ordo Odonata:
- Mempunyai dua pasang sayap
- Tipe mulut mengunyah
- Metamorfosis tidak sempurna
- Terdapat sepasang mata majemuk yang besar
- Antenanya pendek
- Larva hidup di air
- Bersifat karnivora
Contohnya :
- Capung (Aeshna sp)
- Capung besar (Epiophlebia)

4. Ordo Hemiptera (bersayap setengah)
Ciri-ciri Hemiptera :
- Mempunyai dua pasang sayap, sepasang tebal dan sepasang lagi seperti selaput.
- Tipe mulut menusuk dan mengisap
- Metamorfosis tidak sempurna.
Contohnya :
- Walang sangit (Leptocorixa acuta)
- Kumbang coklat (Podops vermiculata)
- Kutu busuk (Eimex lectularius)
- Kepinding air (Lethoverus sp)

Gambar 19. Contoh hewan Hemiptera

5. Ordo Homoptera (bersayap sama)
Ciri-ciri Homoptera :
- Tipe mulut mengisap
- Mempunyai dua pasang sayap
- Sayap depan dan belakang sama, bentuk transparan.
- Metamorfosis tidak sempurna.
Contohnya :
- Tonggeret (Dundubia manifera)
- Wereng hijau (Nephotetix apicalis)
- Wereng coklat (Nilapervata lugens)
- Kutu kepala (Pediculushumanus capitis)
- Kutu daun (Aphid sp)

Gambar 20. Contoh hewan Homoptera

Kelompok Holometabola

Holometabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Tahapan dari daur serangga yang mengalami metamorfosis sempurna adalah telur – larva – pupa – imago. Larva adalah hewan muda yang bentuk dan sifatnya berbeda dengan dewasa. Pupa adalah kepompong dimana pada saat itu serangga tidak melakukan kegiatan, pada saat itu pula terjadi penyempurnaan dan pembentukan organ. Imago adalah fase dewasa atau fase perkembangbiakan.

Berdasarkan ciri sayap dan alat mulutnya, kelompok Holometabola ini meliputi 6 ordo, yaitu ordo:
1. Neuroptera
2. Lepidoptera
3. Diptera
4. Coleoptera
5. Siphonoptera
6. Hymenoptera

Selanjutnya pelajarilah uraian tiap-tiap ordo dan dimulai dengan ordo Neuroptera.

1. Ordo Neuroptera (serangga bersayap jala)
Ciri serangga ini adalah mulut menggigit, dan mempunyai dua pasang sayap yang urat-uratnya berbentuk seperti jala.
Contoh: undur-undur – metamorfosis sempurna (siklus hidupnya: telur, larva, pupa (kepompong), imago)

2. Ordo Lepidoptera (bersayap sisik)
Ciri-ciri ordo Lepidoptera:
- Mempunyai 2 pasang sayap yang dilapisi sisik.
- Metamorfosis sempurna, yaitu memiliki siklus hidup: telur – larva – kepompong (pupa) – imago
- Pupa pada Lepidoptera dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Pupa mummi: bagian badan kepompong terlihat dari luar
b. Pupa kokon, bagian tubuh pupa terlindung kokon.
- Tipe mulut mengisap dengan alat penghisap berupa belalai yang dapat dijulurkan.
Ordo Lepidoptera dibagi menjadi 2 sub ordo:
a. Sub ordo Rhopalocera (kupu-kupu siang)
Contohnya:
- Hama kelapa (Hidari irava)
- Hama daun pisang (Erlonata thrax)
- Kupu-kupu pastur (Papiliomemnon)
- Kupu sirama-rama (Attacus atlas)
b. Sub ordo Heterocera (kupu-kupu malam)
Sering juga disebut ngengat. Hidup aktif pada malam hari. Jika hinggap kedudukan sayap mendatar membentuk otot.
Contohnya:
- Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
- Ulat jengkol (Plusia signata)
- Kupu ulat sutra (Bombyx mori)

3. Ordo Diptera (serangga bersayap dua buah/sepasang)

Ciri-ciri ordo Diptera:

- Mempunyai sepasang sayap depan, dan satu pasang sayap belakang berubah menjadi alat keseimbangan yang disebut halter.   – Mengalami metamorfosis sempurna.   – Tipe mulut ada yang menusuk dan mengisap atau menjilat dan mengisap, membentuk alat mulut seperti belalai disebut probosis.

Contohnya:
- Lalat (Musca domestica)
- Nyamuk biasa (Culex natigans)
- Nyamuk Anopheles
- Aedes (inang virus demam berdarah)

Gambar 22. Macam-macam Diptera

(a) lalat rumah; (b) lalt tze-tze; (c) nyamuk kecil; (d) nyamuk

Untuk membedakan nyamuk Culex, Anopheles dan Aedes perhatikan gambar 23 berikut ini!

Gambar 23. Perbedaan posisi larva dan pupa nyamuk di dalam air serta posisi nyamuk dewasa dalam keadaan hinggap

4. Ordo Coleoptera (bersayap perisai)
Ciri-ciri ordo Coleoptera:
- Mempunyai dua pasang sayap.
- Sayap depan keras, tebal dan mengandung zat tanduk disebut dengan elitra, sayap belakang seperti selaput.
- Mengalami metamorfosis sempurna.
- Tipe mulut menggigit.
Contoh:
a. Kumbang kelapa (Orytec rhynoceros) menyerang pucuk kelapa, pakis, sagu, kelapa sawit dan lain-lain.
b. Kumbang buas air (Dystisticus marginalis)
c. Kumbang beras (Calandra oryzae)

Gambar 24. Hewan kelompok Coleoptera

5. Ordo Siphonoptera (bangsa pinjal)
Ciri-ciri ordo Siphonoptera :
- Serangga ini tidak bersayap, kaki sangat kuat dan berguna untuk meloncat.
- Mempunyai mata tunggal.
- Tipe mulut mengisap.
- Segmentasi tubuh tidak jelas (batasan antara kepala – dada dan perut tidak jelas)
- Metamorfosis sempurna

Contoh:

- Pinjal manusia (Pubex irritans)
- Pinjal anjing (Ctenocephalus canis)
- Pinjal kucing (Ctenocephalus felis)
- Pinjal tikus (Xenopsylla cheopis), pinjal pada tikus dapat menularkan kuman pes / sampar.

6. Ordo Hymenoptera (bersayap selaput)
Ciri-ciri ordo Hymenoptera:
- Mempunyai dua pasang sayap, tipis seperti selaput.
- Tipe mulut menggigit.
Contoh:
- Lebah madu (Apis mellifera)
- Kumbang pengisap madu (Xylocopa) biasanya melubangi kayu pada bangunan rumah

Peranan Insecta dalam Kehidupan Manusia

Seperti halnya hewan-hewan invertebrata lainnya, insecta pun ada yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan, diantaranya adalah:

1. Insecta yang menguntungkan
a. Insecta terutama golongan kupu-kupu dan lebah sangat membantu para petani karena dapat membantu proses penyerbukan pada bunga.
b. Insecta dibudidayakan karena dapat menghasilkan madu. Misal: lebah madu (Apis mellifera).
c. Dalam bidang industri, kupu-kupu, ulat sutera membuat kepompong yang dapat menghasilkan sutra (contoh: Bombix mori).
d. Untuk dimakan, misal laron, gangsir dan larva lebah (tempayak) yang dapat diperoleh secara musiman.
e. Merupakan mata rantai makanan yang amat penting bagi kehidupan.
2. Beberapa insecta yang merugikan antara lain
a. Menularkan beberapa macam bibit penyakit seperti tikus, kolera dan disentri oleh lalat dan kecoak.
b.
- Merusak tanaman budidaya manusia, misal: belalang, kumbang kelapa, ulat.
- Menyebabkan penyakit pada tanaman, misal: Nilapervata lugens (wereng) menyebabkan penyakit virus tungro, belalang (walang sangit) yang mengisap cairan biji padi muda sehingga tanaman padi menjadi puso.
c. Parasit pada manusia (mengisap darah), misal: nyamuk, kutu kepala dan kutu busuk.
d. Merusak bahan makanan yang disimpan (tepung kedelai) oleh berbagai Coleoptera, misal: kumbang beras.
e. Serangga banyak yang hidup parasit pada ternak maupun ikan.
f. Dapat merusak bahan bangunan, misal: kumbang kayu dan rayap.

Setelah Anda mempelajari manfaat serangga bagi kehidupan manusia, untuk lebih mengenal struktur dan fungsi bagian-bagian tubuh serangga sebagai contoh belalang, marilah kita lakukan kegiatan pengamatan. Lakukan pengamatan ini bersama teman-temanmu di sekolah (laboratorium), sebelumnya siapkan alat dan bahannya sebagai berikut.

ALAT BAHAN
1. gunting 1. NaOH 10%
2. lup (kaca pembesar) 2. belalang
3. pinset 3. eter/kloroform
4. jarum pentul
5. tabung reaksi
6. cawan petri
7. pembakar spirtus
8. penjepit tabung reaksi

Adapun langkah-langkah kerjanya adalah:

1. Matikan belalang dengan menggunakan eter/kloroform.
2. Amati ketiga pasang kaki belalang tersebut, kemudian gambarkan lengkap dengan keterangan.
3. Dengan menggunakan lup/kaca pembesar amati dan gambarkan struktur mata facet belalang.
4. Amati bagian mulut dengan:
a. memotong kepala belalang dengan menggunakan gunting tepat di leher
b. masukkan kepala tersebut ke dalam larutan NaOH 10% dalam tabung reaksi
c. masukkan jarum pentul untuk menahan goncangan,
d. panaskan larutan NaOH, usahakan jangan sampai meluap,
e. bila kepala belalang telah tenggelam ke dasar tabung reaksi, hentikan pemanasan
f. angkat lalu cucilah kepala belalang tersebut dengan air,
g. gunakan jarum pentul (ditusukkan) pada kepala belalang, amati dengan kaca pembesar (loupe),
h. cocokkan bagian itu dengan gambar (A).
5. Amatilah ruas terakhir perut belalang, lalu bandingkan dengan gambar (B).

Dengan berakhirnya Anda melaksanakan praktikum mengamati serangga, berarti telah selesai mempelajari Insecta (serangga). Sekarang cobalah baca kembali materi yang telah Anda pelajari, kemudian untuk menguji pemahaman Anda, cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini yang merupakan uji kompetensi 1.

Uji Kompentensi Kegiatan1

I. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar.

1. Pernyataan berikut merupakan alat gerak yang terdapat pada kepala Crustacea, kecuali…
a. 2 pasang antena
b. 1 pasang sayang
c. 1 pasang maxila pertama
d. 1 pasang mandibula
e. 1 pasang maxila kedua
2. Laba-laba mempunyai kaki sebanyak …
a. 3 pasang
b. 4 pasang
c. 5 pasang
d. 4 buah
e. 5 buah
3. Alat keseimbangan pada udang disebut…
a. Koklea
b. Statocyst
c. Statokles
d. Halter
e. Rostum
4. Entomostraka yang mempunyai kantung telur yang terdapat pada sisi kanan dan kiri tubuh belakang adalah …
a. Daphnia
b. Eucypris
c. Cirripedia
d. Cyclops
e. Ligia
5. Pedipalpus pada golongan laba-laba jantan berguna sebagai alat …
a. Memegang mangsa
b. merobek mangsa
c. pemintai
d. ekskresi
e. regulasi
6. Untuk melumpuhkan mangsanya laba-laba mengeluarkan racun yang berasal dari kelenjar racun yang terletak di dalam …
a. Pedipalpus
b. maxila
c. Mandibula
d. Kalisera
e. Ovavisitor
7. Caplak/kutu kepala manusia termasuk ke dalam ordo …
a. Opilonidae
b. Scorpionidae
c. Mandibula
d. Acarinae
e. Chilopoda
8. Arthropoda dibagi menjadi kelas-kelas di bawah ini kecuali …
a. Insecta
b. Myriapoda
c. Echninodermata
d. Arachnida
e. Crustacea
9. Crustacea yang parasit umumnya termasuk …
a. Branchiopoda
b. Copepoda
c. Ostracoda
d. Cirripedia
e. Malakostraka
10. Kepiting termasuk ordo …
a. Dekapoda
b. Stomatopoda
c. Isopoda
d. Copepoda
e. Branchiopoda

II. Jawablah dengan benar pertanyaan di bawah ini.

.: KEGIATAN BELAJAR 2

MOLLUSCA

>>Tujuan : Setelah mempelajari kegiatan belajar ini diharapkan Anda dapat:
1.
2.
3.
4.
menjelaskan ciri hewan Mollusca,
memberikan beberapa contoh hewan dan kelas Mollusca,
membuat diagram daur hidup kerang air tawar, dan
menjelaskan manfaat Mollusca bagi manusia.

Mollusca | Gastropoda | Chepalopoda | Pelecypoda/Bivalvia | Amphineura | Scaphopoda | Peran Mollusca bagi manusia | Uji Kompetensi | Kegiatan Belajar 1 | Kegiatan Belajar 3 | Home


Uraian

Anda pernah melihat bahkan mungkin makan hewan seperti: kerang, bekicot, keong, cumi-cumi atau sotong. Atau mungkin Anda di rumah mengoleksi berbagai jenis hiasan dari cangkang kerang yang begitu indah. Semua contoh hewan tersebut adalah jenis Mollusca. Memang Mollusca merupakan hewan yang akrab dengan kehidupan manusia, karena jenis hewan ini dimanfaatkan sebagai bahan makanan yang bergizi atau untuk barang perhiasan. Hewan ini hidup di darat, air tawar dan di laut.

Apakah Mollusca ?
Mollusca adalah hewan lunak dan tidak memiliki ruas. Tubuh hewan ini tripoblastik, bilateral simetri, umumnya memiliki mantel yang dapat menghasilkan bahan cangkok berupa kalsium karbonat. Cangkok tersebut berfungsi sebagai rumah (rangka luar) yang terbuat dari zat kapur misalnya kerang, tiram, siput sawah dan bekicot. Namun ada pula Mollusca yang tidak memiliki cangkok, seperti cumi-cumi, sotong, gurita atau siput telanjang. Mollusca memiliki struktur berotot yang disebut kaki yang bentuk dan fungsinya berbeda untuk setiap kelasnya. Untuk lebih memahaminya, coba Anda perhatikan gamnar di bawah ini. Dapatkah Anda menjelaskan perbedaan diantara jenis hewan ini?

Gambar 25. (a) kerang, (b) siput, (c) cumi-cumi

Cangkok kerang ini terdiri dari dua belahan, sedangkan cangkok siput berbentuk seperti kerucut yang melingkar. Perbedaan lainnya, kaki siput tipis dan rata. Fungsinya adalah untuk berjalan dengan cara kontraksi otot. Lain halnya dengan kerang yang mempunyai kaki seperti mata kapak yang dipergunakan untuk berjalan di lumpur atau pasir. Sementara itu cumi-cumi dan sotong tidak punya cangkok, kakinya terletak di bagian kepala yang berfungsi untuk menangkap mangsa.

Mollusca memiliki alat pencernaan sempurna mulai dari mulut yang mempunyai radula (lidah parut) sampai dengan anus terbuka di daerah rongga mantel. Di samping itu juga terdapat kelenjar pencernaan yang sudah berkembang baik. Peredaran darah terbuka ini terjadi pada semua kelas Mollusca kecuali kelas Cephalopoda.

Pernafasan dilakukan dengan menggunakan insang atau “paru-paru”, mantel atau oleh bagian epidermis. Alat ekskresi berupa ginjal. Sistem saraf terdiri atas tiga pasang ganglion yaitu ganglion cerebral, ganglion visceral dan ganglion pedal yang ketiganya dihubungkan oleh tali-tali saraf longitudinal. Alat reproduksi umumnya terpisah atau bersatu dan pembuahan internal atau eksternal.
Bagaimana? Sampai di sini jelas bukan? Sekarang kita lanjutkan dengan pembagian kelas Mollusca. Berdasarkan simetri tubuh, ciri kaki dan cangkoknya, Mollusca dibagi menjadi lima kelas, yaitu kelas Gastropoda, Cephalopoda, Bivalvia atau Pelecypoda, Amphineura dan kelas Scaphopoda. Berikut akan dibahas satu persatu.

A.

Klasifikasi Mollusca

1. Kelas Gastropoda
Jika Anda pergi ke pasar, jangan heran apabila dijumpai banyak penjual siput dan bekicot. Karena ternyata jenis hewan ini sangat digemari masyarakat dan bergizi tinggi. Nah, bagaimana dengan Anda, pernahkan makan siput (Lymnea) dan bekicot (Achatina)? Kedua hewan ini adalah jenis hewan kelas Gastropoda. Jenis hewan ini juga ada yang hidup di laut, air tawar dan banyak pula yang hidup di darat. Gastropoda merupakan kelas Mollusca yang terbesar dan populer. Ada sekitar 50.000 jenis/spesies Gastropoda yang masih hidup dan 15.000 jenis yang telah menjadi fosil. Karena banyaknya jenis Gastropoda, maka hewan ini mudah ditemukan.

Sebagian besar Gastropoda mempunyai cangkok (rumah) dan berbentuk kerucut terpilin (spiral). Bentuk tubuhnya sesuai dengan bentuk cangkok. Padahal waktu larva, bentuk tubuhnya simetri bilateral. Namun ada pula Gastropoda yang tidak memiliki cangkok, sehingga sering disebut siput telanjang (vaginula). Hewan ini terdapat di laut dan ada pula yang hidup di darat.

Kenapa hewan ini disebut Gastropoda? Gaster artinya perut, dan podos artinya kaki. Jadi Gastropoda adalah hewan yang bertubuh lunak, berjalan dengan perut yang dalam hal ini disebut kaki. Gerakan Gastropoda disebablan oleh kontraksi-kontraksi otot seperti gelombang, dimulai dari belakang menjalar ke depan. Pada waktu bergerak, kaki bagian depan memiliki kelenjar untuk menghasilkan lendir yang berfungsi untuk mempermudah berjalan, sehingga jalannya meninggalkan bekas. Hewan ini dapat bergerak secara mengagumkan, yaitu memanjat ke pohon tinggi atau memanjat ke bagian pisau cukur tanpa teriris.

Gambar 26. Siput air tawar (lemnaea javanica)

Coba Anda perhatikan gambar di atas. Di kepala siput terdapat sepasang tentakel panjang dan sepasang tentakel pendek. Pada tentakel panjang, terdapat mata. Mata ini hanya berfungsi untuk membedakan gelap dan terang. Sedangkan pada tentakel pendek berfungsi sebagai indera peraba dan pembau. Sistem pencernaan dimulai dari mulut yang dilengkapi dengan rahang dari zat tanduk. Di dalam mulut terdapat lidah parut atau radula dengan gigi-gigi kecil dari kitin. Selanjutnya terdapat kerongkongan, kemudian lambung yang bulat, usus halus dan berakhir di anus. Gastropoda umumnya pemakan tumbuh-tumbuhan atau disebut hewan herbivora.

Pernafasan bagi Gastropoda yang hidup di darat menggunakan paru-paru, sedangkan Gastropoda yang hidup di air, bernafas dengan insang.

Alat ekskresi berupa sebuah ginjal yang terletak dekat jantung. Hasil ekskresi dikeluarkan ke dalam rongga mantel. Sistem peredaran darah adalah sistem peredaran darah terbuka. Jantung terdiri dari serambi dan bilik (ventrikel) yang terletak dalam rongga tubuh.

Sistem saraf terdiri atas tiga buah ganglion utama yakni ganglion otak (ganglion cerebral), ganglion visceral atau ganglion organ-organ dalam dan ganglion kaki (pedal). Ketiga ganglion utama ini dihubungkan oleh tali saraf longitudinal, sedangkan tali saraf longitudinal ini dihubungkan oleh saraf transversal ke seluruh bagian tubuh. Di dalam ganglion pedal terdapat statosit (statocyst) yang berfungsi sebagai alat keseimbangan.

Gastropoda mempunyai alat reproduksi jantan dan betina yang bergabung atau disebut juga ovotestes. Gastropoda adalah hewan hemafrodit, tetapi tidak mampu melakukan autofertilisasi. Beberapa contoh Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput air tawar (Lemnaea javanica), siput laut (Fissurella sp), dan siput perantara fasciolosis (Lemnaea trunculata).

Nah, sekarang coba Anda cari seekor siput yang masih hidup di sekitar tempat tinggalmu. Biarkan kaki, perut dan kepalanya keluar dari cangkoknya. Perhatikan bagian-bagian tubuhnya. Bagaimana ia bergerak, bernafas atau saat memakan mangsanya. Selanjutnya coba Anda sentuh, apa yang terjadi? Diskusikan dengan temanmu!

2. Kelas Chepalopoda
Sekarang kita lanjutkan pada kelas Cephalopoda. Tubuh Cephalopoda dilindungi oleh cangkok, kecuali Nautillus. Mengapa cumi-cumi (Loligo), sotong (Sepia) dan gurita (Octopus) disebut jenis Cephalopoda? Cephalopoda (cephale : kepala, podos : kaki) adalah Mollusca yang berkaki di kepala. Cumi-cumi dan sotong memiliki 10 tentakel yang terdiri dari 2 tentakel panjang dan 8 tentakel lebih pendek.
Gurita memiliki 8 tentakel. Kaki (tentakel) ini berfungsi sebagai tangan untuk mencari, merasa dan menangkap makanan. Cumi-cumi, sotong dan gurita adalah contoh hewan kelas Cephalopoda. Sekarang perhatikan gambar 27. cumi-cumi!

Tubuh cumi-cumi dibedakan atas kepala. Leher dan badan. Di depan kepala terdapat mata yang besar dan tidak berkelopak. Mata ini berfungsi sebagai alat untuk melihat. Masih di dekat kepala terdapat sifon atau corong berotot yang berfungsi sebagai kemudi. Jika ia ingin bergerak ke belakang, sifon akan menyempurnakan air ke arah depan, sehingga tubuhnya bertolak ke belakang. Sedangkan gerakan maju ke depan menggunakan sirip dan tentakelnya.

Gambar 27. Cumi-cumi

Apabila Anda makan cumi, di bagian perut tepatnya sebelah sifon akan ditemukan cairan tinta berwarna hitam yang mengandung pigmen melanin. Fungsinya untuk melindungi diri. Jika dalam keadaan bahaya cumi-cumi menyemprotkan tinta hitam ke luar sehingga air menjadi keruh. Pada saat itu cumi-cumi dapat meloloskan diri dari lawan.

Sistem pembuluh darah cumi-cumi adalah sistem pembuluh darah tertutup, jadi darah seluruhnya mengalir di dalam pembuluh darah. Hewan ini bernafas dengan insang yang terdapat di rongga mantel. Sedangkan ekskresi dilakukan dengan ginjal. Alat reproduksinya terpisah, masing-masing dengan gonad yang terletak dekat ujung rongga mantel.

Sistem pencernaan makanan terdiri atas: mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus buntu, usus dan anus. Juga dilengkapi dengan kelenjar pencernaan yaitu kelenjar ludah, hati dan pankreas. Makanan cumi-cumi berupa ikan, udang dan Mollusca lainnya.

Untuk lebih jelasnya, coba Anda bersama teman mencari cumi-cumi yang masih segar. Bedakan kepala, leher, dan badannya! Cari pula rongga mantel dan sifon. Kemudian Anda coba untuk membedahnya. Pembedahan dimulai dengan mengiris bagian leher menuju posterior hingga rongga mantel dapat terbuka. Perhatikan pula otot-otot dan alat dalamnya. Apa yang Anda ketahui? Hasilnya diskusikan dengan temanmu!

Nah, ternyata Mollusca kelas Gastropoda dan Cephalopoda tadi sudah tidak asing bagi kita. Mungkin di sekitar Anda banyak ditemukan. Dan tentu saja dengan mempelajari uraian tadi, Anda semakin memahami hewan jenis ini. Nah, sekarang mari kita lanjutkan dengan kelas lainnya yaitu kelas Bivalvia.

A.

Klasifikasi Mollusca

3. Kelas Bivalvia atau Pelecypoda
Pernahkah anda makan kerang atau remis? Kerang yang hidup di laut dan remis yang hidup di air tawar adalah contoh kelas Bivalvia. Hewan Bivalvia bisa hidup di air tawar, dasar laut, danau, kolam, atau sungai yang lainnya banyak mengandung zat kapur. Zat kapur ini digunakan untuk membuat cangkoknya.

Gambar 28. Struktur luar kerang air tawar

Hewan ini memiliki dua kutub (bi = dua, valve = kutub) yang dihubungkan oleh semacam engsel, sehingga disebut Bivalvia. Kelas ini mempunyai dua cangkok yang dapat membuka dan menutup dengan menggunakan otot aduktor dalam tubuhnya. Cangkok ini berfungsi untuk melindungi tubuh. Cangkok di bagian dorsal tebal dan di bagian ventral tipis. Kepalanya tidak nampak dan kakinya berotot. Fungsi kaki untuk merayap dan menggali lumpur atau pasir.

Cangkok ini terdiri dari tiga lapisan, yaitu :

a. Periostrakum adalah lapisan terluar dari zat kitin yang berfungsi sebagai pelindung.
b. Lapisan prismatik, tersusun dari kristal-kristal kapur yang berbentuk prisma.
c. Lapisan nakreas atau sering disebut lapisan induk mutiara, tersusun dari lapisan kalsit (karbonat) yang tipis dan paralel.

Untuk lebih memahami kelas Bivalvia atau Pelecypoda, di bawah ini adalah gambar bagian-bagian tubuh kerang yang dipotong secara melintang. Perhatikan gambar penampang melintang cangkok dan mantel berikut ini!.

Gambar 29.
(A) Penampang melintang tubuh Pelecypoda; (B) Penampang melintang cangkok dan mantel

Jika Anda memperhatikan kerang yang masih hidup, kaki hewan ini berbentuk seperti kapak pipih yang dapat dijulurkan ke luar. Hal ini sesuai dengan arti Pelecypoda (pelekis = kapak kecil; podos = kaki). Kerang bernafas dengan dua buah insang dan bagian mantel. Insang ini berbentuk lembaran-lembaran (lamela) yang banyak mengandung batang insang. Sementara itu antara tubuh dan mantel terdapat rongga mantel. Rongga ini merupakan jalan masuk keluarnya air.

Sistem pencernaan dimulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus dan akhirnya bermuara pada anus. Anus ini terdapat di saluran yang sama dengan saluran untuk keluarnya air. Sedangkan makanan golongan hewan kerang ini adalah hewan-hewan kecil yang terdapat dalam perairan berupa protozoa diatom, dll. Makanan ini dicerna di lambung dengan bantuan getah pencernaan dan hati. Sisa-sisa makanan dikeluarkan melalui anus. Perhatikan baik-baik, struktur dalam kerang air tawar pada gambar berikut!

Gambar 30. Struktur dalam kerang air tawar

Hewan seperti kerang air tawar ini memiliki kelamin terpisah atau berumah dua. Umumnya pembuahan dilakukan secara eksternal. Untuk memudahkan memahami daur hidup Bivalvia dapat digambarkan melalui contoh daur hidup kerang air tawar pada gambar 31.

Gambar 31. Diagram daur hidup kerang air tawar

Dalam kerang air tawar, sel telur yang telah matang akan dikeluarkan dari ovarium. Kemudian masuk ke dalam ruangan suprabranchial. Di sini terjadi pembuahan oleh sperma yang dilepaskan oleh hewan jantan. Telur yang telah dibuahi berkembang menjadi larva glochidium. Larva ini pada beberapa jenis ada yang memiliki alat kait dan ada pula yang tidak. Selanjutnya larva akan keluar dari induknya dan menempel pada ikan sebagai parasit, lalu menjadi kista. Setelah beberapa hari kista tadi akan membuka dan keluarlah Mollusca muda. Akhirnya Mollusca ini hidup bebas di alam.

Untuk lebih memahami lagi coba Anda gambar bagian-bagian kerang yang telah dijelaskan di atas tanpa menuliskan nama bagian-bagiannya. Setelah gambar Anda selesai, tutuplah modul ini. Kemudian berikan nama bagian-bagian pada gambar tersebut. Selanjutnya cocokkan dengan gambar yang ada pada modul. Mudah bukan? Sekarang mari kita lanjutkan pada kelas Amphineura.

A.

Klasifikasi Mollusca

4. Amphineura
Hewan Mollusca kelas Amphineura ini hidup di laut dekat pantai atau di pantai. Tubuhnya bilateral simetri, dengan kaki di bagian perut (ventral) memanjang. Ruang mantel dengan permukaan dorsal, tertutup oleh 8 papan berkapur, sedangkan permukaan lateral mengandung banyak insang.

Hewan ini bersifat hermafrodit (berkelamin dua), fertilisasi eksternal (pertemuan sel teur dan sperma terjadi di luar tubuh). Contohnya Cryptochiton sp atau kiton. Hewan ini juga mempunyai fase larva trokoper.

A.

Klasifikasi Mollusca

5. Scaphopoda
Dentalium vulgare adalah salah satu contoh kelas Scaphopoda. Jika Anda berjalan-jalan di pantai, hati-hati dengan cangkang jenis Scaphopoda ini. Karena biasanya hewan ini tumbuh di batu atau benda laut lainnya yang berbaris menyerupai taring. Coba Anda amati gambar hewan berikut ini!

Dentalium vulgare hidup di laut dalam pasir atau lumpur. Hewan ini juga memiliki cangkok yang berbentuk silinder yang kedua ujungnya terbuka. Panjang tubuhnya sekitar 2,5 s.d 5 cm. Dekat mulut terdapat tentakel kontraktif bersilia, yaitu alat peraba. Fungsinya untuk menangkap mikroflora dan mikrofauna. Sirkulasi air untuk pernafasan digerakkan oleh gerakan kaki dan silia, sementara itu pertukaran gas terjadi di mantel. Hewan ini mempunyai kelamin terpisah.

Gambar 33. (a) Dentalium vulgare, (b) Struktur tubuh Dentalium sp.

Bagaimana sudah paham tentang lima kelas Mollusca tadi? Jika masih belum, coba ulangi sekali lagi. Apabila sudah paham, mari kita lanjutkan dengan mempelajari peran Mollusca bagi kehidupan manusia.

B.

Peran Mollusca bagi manusia Mengapa banyak orang yang suka makan cumi-cumi, kerang, bekicot, keong atau sotong? Alasannya cukup sederhana, di samping rasanya enak, ternyata hewan ini memiliki kandungan protein yang tinggi. Bagaimana, pernahkah Anda memakannya? Jika pernah, bagaimana rasanya? Hewan ini juga bisa dibudidayakan dan Andapun bisa memelihara hewan ini seperti: tutut, bekicot atau keong dapat dipelihara di kolam.

Selain sebagai bahan makanan yang bergizi, cangkok hewan ini bisa dimanfaatkan untuk membuat hiasan dinding, perhiasan wanita, atau dibuat kancing. Ada pula yang suka mengumpulkan berbagai macam cangkang Mollusca untuk koleksi atau perhiasan. Bahkan ada cangkang Mollusca yang digunakan untuk bahan mainan, seperti kuwuk.

Sejak abad ke-17 mutiara merupakan barang perhiasan mewah yang diburu kaum jutawan dan harganya cukup mahal. Pernahkah Anda berpikir, darimana mutiara itu dihasilkan? Mutiara dihasilkan dari tiram mutiara seperti Pinctada margaritifera dan Pinctada mertensi dari kelas Pelecypoda (Bivalvia).

Mutiara ini ada yang dihasilkan secara alami, dan adapula yang dibudidayakan. Saat ini banyak orang yang membudidayakan tiram untuk menghasilkan mutiara. Caranya, benda asing (kerikil, pasir atau arang) dimasukkan diantara mantel dan cangkok tiram. Ketika benda asing itu ada di tubuhnya, tiram berusaha mengeluarkan dengan cara membungkusnya dengan lendir. Lendir ini akhirnya mengeras dan menjadi mutiara. Mudah bukan? Jika Anda tertarik untuk membudidayakan mutiara, Anda dapat mempelajari dari buku-buku yang khusus membahas budidaya ini. Silahkan Anda mempelajari dan mencobanya.

Gambar 34. Perhiasan yang dibuat dari mutiara

Di samping menguntungkan, ternyata ada beberapa jenis Mollusca yang merugikan. Misalnya keong mas adalah musuh para petani yang sering merusak tanaman padi. Begitu pula bekicot Achatina fulica merupakan hama tanaman yang sulit diberantas. Sekarang coba diskusikan dengan temanmu, bagaimana agar jenis Mollusca yang merugikan ini bisa bermanfaat bagi manusia?

Bagaimana, sudah paham? Jika masih belum, pelajari kembali terutama bagian yang dianggap sulit. Jangan lupa buat rangkuman isi materi. Kalau sudah paham, coba Anda kerjakan uji kompetensi 2 berikut ini! Anda juga boleh mengerjakan latihan sambil berdiskusi dengan teman dekatmu.

Uji Kompentensi Kegiatan 2

Tidak terasa kini Anda telah selesai mempelajari uraian modul kegiatan 2. Sekarang jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas!

1. Sebutkan 3 ciri hewan Mollusca!
2. Siput, bekicot dan keong adalah termasuk hewan Mollusca kelas …..
3. Jelaskan perbedaan antara kelas Cephalopoda dan kelas Bivalvia!
4. Sebutkan masing-masing satu contoh Amphineura dan Scaphopoda!
5. Jelaskan 3 contoh manfaat hewan Mollusca bagi manusia!
6. Buatlah bagan daur hidup kerang air tawar!

Setelah selesai Anda menjawab uji kompentensi 2 ini, cocokkan jawaban Anda dengan kunci uji kompetensi 2 yang terdapat pada akhir modul. Jika sudah benar, silahkan Anda lanjutkan mempelajari kegiatan belajar 3. Namun apabila masih belum dipahami, coba pelajari kembali.
Selamat belajar!

Uraian
Setelah Anda mempelajari modul tentang Porifera, Coelentarata, Platyhelminthes, Nemathelmintes, dan Annelida, maka sekarang marilah kita pelajari hewan invertebrata lainnya yaitu tentang Arthropoda.

Apakah Arthropoda ?
Setelah Anda mempelajari modul tentang Porifera, Coelentarata, Platyhelminthes, Nemathelmintes, dan Annelida, maka sekarang marilah kita pelajari hewan invertebrata lainnya yaitu tentang Arthopoda.

A. Ciri-ciri Arthropoda
- Tubuh beruas-ruas terdiri atas kepala (caput), dada (toraks) dan perut (abdomen).
- Bentuk tubuh bilateral simetris, triploblastik, terlindung oleh rangka luar dari kitin.
- Alat pencernaan sempurna, pada mulut terdapat rahang lateral yang beradap- tasi untuk mengunyah dan mengisap. Anus terdapat di bagian ujung tubuh.
- Sistem peredaran darah terbuka dengan jantung terletak di daerah dorsal (punggung) rongga tubuh.
- Sistem pernafasan:
Arthropoda yang hidup di air bernafas dengan insang, sedangkan yang hidup di darat bernafas dengan paru-paru buku atau permukaan kulit dan trakea.
- Sistem saraf berupa tangga tali. Ganglion otak berhubungan dengan alat indera.
- Arthropoda memiliki alat indera seperti antena yang berfungsi sebagai alat peraba, mata tunggal (ocellus) dan mata majemuk (facet), organ pendengaran (pada insecta) dan statocyst (alat keseimbangan) pada Curstacea.
- Alat eksresi berupa coxal atau kelenjar hijau, saluran Malpighi.
- Alat reproduksi, biasanya terpisah. Fertilisasi kebanyakan internal (di dalam tubuh).

.: KEGIATAN BELAJAR 3

ECHINODERMATA

>>Tujuan : Setelah mempelajari kegiatan belajar ini diharapkan Anda dapat:
1.
2.
3.
4.
menjelaskan ciri-ciri tubuh Echinodermata,
menjelaskan sistem ambulakral pada Echinodermata,
membandingkan ciri-ciri dari masing-masing kelas Echinodermata, dan
menjelaskan peranan Echinodermata bagi kehidupan manusia.

Echinodermata | Sistem Tubuh Echinodermata | Klasifikasi Echinodermata | Peran Echinodermata | Uji Kompetensi | Kegiatan Belajar 1 | Kegiatan Belajar 2 | Home


Uraian

Tentunya Anda telah memahami Mollusca sebagai hewan lunak yang bisa hidup di darat, air tawar dan di laut pada kegiatan 2. Nah, pada kegiatan 3 ini Anda akan mempelajari Echinodermata. Jenis hewan ini hanya bisa ditemukan di laut, misalnya bintang laut, bulu babi, landak laut, mentimun laut, dan lain-lain.

Mengapa jenis hewan ini disebut Echinodermata? Echinodermata berasal dari kata Yunani, echinos artinya duri dan derma artinya kulit. Jadi Echinodermata dapat diartikan sebagai hewan berkulit duri. Memang jika Anda meraba kulit hewan ini akan terasa kasar, karena kulitnya mempunyai lempeg-lempeng zat kapur dengan duri-duri kecil.

Gambar 35. (a) Bintang laut; (b) Bintang ular laut; (c) Bulu babi; (d) Mentimun laut

Hewan ini biasanya hidup di pantai dan di dalam laut sampai kedalaman sekitar 366 m. Sebagian hidup bebas, hanya gerakannya lamban. Anda jangan khawatir hewan ini tidak ada yang parasit. Ada sekitar 5.300 jenis Echinodermata yang sudah dikenal manusia. Jumlahnya amat banyak, karena musuh hewan ini hanya sedikit.

Keistimewaan Echinodermata adalah memiliki tubuh (organ tubuh) lima atau kelipatannya. Di samping itu hewan ini memiliki saluran air yang sering disebut sistem ambulakral. Sistem ini digunakan untuk bergerak, bernafas, atau untuk membuka mangsanya yang memiliki cangkok. Ciri umum lainnya adalah pada waktu masih larva tubuhnya berbentuk bilateral simetri. Sedangkan setelah dewasa bentuk tubuhnya menjadi radial simetri.

Bagaimana? Apakah sampai di sini penjelasan tentang hewan Echinodermata bisa Anda pahami? Coba sekali lagi Anda perhatikan gambar dan uraian di atas. Kemudian rumuskan beberapa ciri Echinodermata dalam buku catatan menurut bahasa Anda sendiri. Hasilnya bandingkan dengan hasil temanmu!

A.

Sistem Tubuh Echinodermata

1. Sistem Ambulakral
Untuk memudahkan dalam mempelajari sistem ambulakral pada hewan Echinodermata, Anda perhatikan gambar bintang laut (Asterias forbesi) berikut!..

Gambar 36. Struktur tubuh bintang laut

Coba Anda perhatikan gambar di atas! Mungkin Anda bisa membayangkan bahwa posisi tubuh hewan ini terbalik. Mulutnya ada di permukaan bawah tubuh dan anusnya ada di permukaan atas tubuh. Coba Anda diskusikan dengan temanmu, kenapa posisinya bisa seperti itu dan bagaimana pengaruhnya dalam kebiasaan hidupnya sehari-hari?

Hewan ini memiliki kerangka dalam yang terdiri dari lempeng-lempeng kapur. Lempeng-lempeng kapur ini bersendi satu dengan yang lainnya dan terdapat di dalam kulit. Hewan ini juga umumnya mempunyai duri-duri kecil. Duri-durinya berbentuk tumpul dan pendek.

Kemudian apa yang disebut sistem ambulakral? Sistem ambulakral sebenarnya merupakan sistem saluran air.
Sistem saluran air ini terdiri atas:
a. Madreporit, merupakan lubang tempat masuknya air dari luar tubuh.
b. Saluran batu
c. Saluran cincin
d. saluran radial, meluas ke seluruh tubuh.
e. Saluran lateral
f. Ampula
g. Kaki tabung

Sistem ini berfungsi untuk bergerak, bernafas atau membuka mangsa. Pada hewan ini air laut masuk melalui lempeng dorsal yang berlubang-lubang kecil (madreporit) menuju ke pembuluh batu. Kemudian dilanjutkan ke saluran cincin yang mempunyai cabang ke lima tangannya atau disebut saluran radial selanjutnya ke saluran lateral. Pada setiap cabang terdapat deretan kaki tabung dan berpasangan dengan semacam gelembung berotot atau disebut juga ampula. Dari saluran lateral, air masuk ke ampula. Saluran ini berkahir di ampula. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar di bawah ini!

Gambar 37. Sistem ambulakral pada Echinodermata

Jika ampula berkontraksi, maka air tertekan dan masuk ke dalam kaki tabung. Akibatnya kaki tabung berubah menjulur panjang. Apabila hewan ini akan bergerak ke sebelah kanan, maka kaki tabung sebelah kanan akan memegang benda di bawahnya dan kaki lainnya akan bebas. Selanjutnya ampula mengembang kembali dan air akan bergerak berlawanan dengan arah masuk. Kaki tabung sebelah kanan yang memegang objek tadi akan menyeret tubuh hewan ini ke arahnya. Begitulah cara hewan ini bergerak. Di samping itu hewan ini juga bergerak dalam air dengan menggunakan gerakan lengan-lengannya.

Pernahkan Anda membuka kerang yang masih hidup? Jika Anda pernah melakukannya, hal ini jelas tidak mudah, keras. Tetapi bagi hewan ini seperti jenis binatang laut, membuka mangsa kerang merupakan pekerjaan sehari-hari. Caranya ternyata menggunakan sistem ambulakral tadi. Tubuhnya menindih dari atas, kemudian tubuh kerang yang rapat dan keras itu dikelilingi oleh kaki ambulakral. Dengan ketangkasan dan kekuatannya ini cangkang kerang yang keras itu bisa dibuka dan akhirnya ia bisa memakan dagingnya.

Sampai di sini bagaimana? Untuk menyegarkan tubuh, silahkan Anda menggerakan tubuh sejenak atau minum air dulu. Jika sudah segar kembali, mari kita lanjutkan!

2. Sistem Reproduksi

Echinodermata mempunyai jenis kelamin terpisah, sehingga ada yang jantan dan betina. Fertilisasi terjadi di luar tubuh, yaitu di dalam air laut. Telur yang telah dibuahi akan membelah secara cepat menghasilkan blastula, dan selanjutnya berkembang menjadi gastrula. Gastrula ini berkembang menjadi larva. Larva atau disebut juga bipinnaria berbentuk bilateral simetri. Larva ini berenang bebas di dalam air mencari tempat yang cocok hingga menjadi branchidaria, lalu mengalami metamorfosis dan akhirnya menjadi dewasa. Setelah dewasa bentuk tubuhnya berubah menjadi radial simetri. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut !

Gambar 38. Perkembangan telur bintang laut setelah terjadi pembuahan

3. Sistem Pencernaan Makanan

Sistem pencernaan makanan hewan ini sudah sempurna. Sistem pencernaan dimulai dari mulut yang posisinya berada di bawah permukaan tubuh. Kemudian diteruskan melalui faring, ke kerongkongan, ke lambung, lalu ke usus, dan terakhir di anus. Anus ini letaknya ada di permukaan atas tubuh dan pada sebagian Echinodermata tidak berfungsi. Pada hewan ini lambung memiliki cabang lima yang masing-masing cabang menuju ke lengan. Di masing-masing lengan ini lambungnya bercabang dua, tetapi ujungnya buntu.

4. Sistem Pernafasan dan Ekskresi

Echinodermata bernafas menggunakan paru-paru kulit atau dermal branchiae (Papulae) yaitu penonjolan dinding rongga tubuh (selom) yang tipis. Tonjolan ini dilindungi oleh silia dan pediselaria. Pada bagian inilah terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida. Ada pula beberapa jenis Echinodermata yang bernafas dengan menggunakan kaki tabung. Sisa-sisa metabolisme yang terjadi di dalam sel-sel tubuh akan diangkut oleh amoebacyte (sel-sel amoeboid) ke dermal branchiae untuk selanjutnya dilepas ke luar tubuh.

5. Sistem Pencernaan Makanan

Sistem peredaran darah Echinodermata umumnya tereduksi, sukar diamati. Sistem peredaran darah terdiri dari pembuluh darah yang mengelilingi mulut dan dihubungkan dengan lima buah pembuluh radial ke setiap bagian lengan.

6. Sistem Saraf

Sistem saraf terdiri dari cincin saraf dan tali saraf pada bagian lengan-lengannya. Perhatikan gambar berikut ini!

Gambar 39. Struktur umum bagian tubuh bintang laut

Tampaknya materi ini makin menarik saja. Jangan lupa, catat materi yang Anda anggap penting dalam buku catatan. Ayo kita lanjutkan pada materi selanjutnya!

B.

Klasifikasi Echinodermata Hewan Echinodermata berdasarkan bentuk tubuhnya dapat dibagi menjadi 5 kelas, yaitu kelas Asteroidea, Echinoidea, Ophiuroidea, Crinoidea, dan Holoturoidea. Penjelasan masing-masing kelas dapat Anda ikuti dalam uraian berikut ini!

1. Asteroidea
Asteroidea sering disebut bintang laut. Sesuai dengan namanya itu, jenis hewan ini berbentuk bintang dengan 5 lengan. Di permukaan kulit tubuhnya terdapat duri-duri dengan berbagai ukuran. Hewan ini banyak dijumpai di pantai. Ciri lainnya adalah alat organ tubuhnya bercabang ke seluruh lengan. Perhatikan gambar di samping ini.

Mulut terdapat di permukaan bawah atau disebut permukaan oral dan anus terletak di permukaan atas (permukaan aboral). Kaki tabung tentakel (tentacle) terdapat pada permukaan oral. Sedangkan pada permukaan aboral selain anus terdapat pula madreporit. Madreporit adalah sejenis lubang yang mempunyai saringan dalam menghubungkan air laut dengan sistem pembuluh air dan lubang kelamin.

Gambar 40. Bintang laut

2. Echinoidea

Jika Anda jalan-jalan di pantai, hati-hati dengan binatang ini karena tubuhnya dipenuhi duri tajam. Duri ini tersusun dari zat kapur. Duri ini ada yang pendek dan ada pula yang panjang seperti landak. Itulah sebabnya jenis hewan ini sering disebut landak laut. Jenis hewan ini biasanya hidup di sela-sela pasir atau sela-sela bebatuan sekitar pantai atau di dasar laut. Tubuhnya tanpa lengan hampir bulat atau gepeng.

Gambar 41. Landak laut

Ciri lainnya adalah mulutnya yang terdapat di permukaan oral dilengkapi dengan 5 buah gigi sebagai alat untuk mengambil makanan. Hewan ini memakan bermacam-macam makanan laut, misalnya hewan lain yang telah mati, atau organisme kecil lainnya. Alat pengambil makanan digerakkan oleh otot yang disebut lentera arisoteteles. Sedangkan anus, madreporit dan lubang kelamin terdapat di permukaan atas.

3. Ophiuroidea

Hewan ini jenis tubuhnya memiliki 5 lengan yang panjang-panjang. Kelima tangan ini juga bisa digerak-gerakkan sehingga menyerupai ular. Oleh karena itu hewan jenis ini sering disebut bintang ular laut (Ophiuroidea brevispinum)

Coba Anda perhatikan gambar di atas! Mulut dan madreporitnya terdapat di permukaan oral. Hewan ini tidak mempunyai anus, sehingga sisa makanan atau kotorannya dikeluarkan dengan cara dimuntahkan melalui mulutnya. Hewan ini hidup di laut yang dangkal atau dalam. Biasanya bersembunyi di sekitar batu karang, rumput laut, atau mengubur diri di lumpur/pasir. Ia sangat aktif di malam hari. Makanannya adalah udang, kerang atau serpihan organisme lain (sampah).

4. Crinoidea

Jika Anda pernah menyelam ke dasar laut, mungkin Anda mengira jenis hewan Crinoidea ini adalah tumbuhan. Memang sekilas hewan ini mirip tumbuhan bunga. Ia memiliki tangkai dan melekat pada bebatuan, tak beda seperti tumbuhan yang menempel di bebatuan. Ia juga memiliki 5 lengan yang bercabang-cabang lagi mirip bunga lili. Oleh karena itu hewan ini sering disebut lili laut (Metacrinus sp).

Gambar 43. Lili laut

Ciri lainnya mulut dan anus hewan ini terdapat di permukaan oral dan tidak mempunyai madreporit. Hewan ini sering ditemukan menempel dengan menggunakan cirri (akar) pada bebatuan di dasar laut. Ia juga bisa berenang bebas, sehingga jika lingkungan tidak menguntungkan akan pindah dan menempel pada tempat lain. Jenis lainnya adalah Antedon tenella, dengan tubuhnya kecil-kecil, bentuk piala disebut calyx (kaliks) tanpa tangkai.

5. Holoturoidea

Hewan jenis ini kulit durinya halus, sehingga sekilas tidak tampak sebagai jenis Echinodermata. Tubuhnya seperti mentimun dan disebut mentimun laut atau disebut juga teripang. Hewan ini sering ditemukan di tepi pantai. Gerakannya tidak kaku, fleksibel, lembut dan tidak mempunyai lengan. Rangkanya direduksi berupa butir-butir kapur di dalam kulit. Mulut terletak pada ujung anterior dan anus pada ujung posterior (aboral). Di sekeliling mulut terdapat tentakel yang bercabang sebanyak 10 sampai 30 buah. Tentakel dapat disamakan dengan kaki tabung bagian oral pada Echinodermata lainnya. Tiga baris kaki tabung di bagian ventral digunakan untuk bergerak dan dua baris di bagian dorsal berguna untuk melakukan pernafasan. Selain itu pernafasan juga menggunakan paru-paru air.

Kebiasaan hewan ini meletakkan diri di atas dasar laut atau mengubur diri di dalam lumpur/pasir dan bagian akhir tubuhnya diperlihatkan. Jika Anda mengganggunya biasanya ia mengkerut. Coba perhatikan gambar di bawah ini!

Gambar 44. Teripang / mentimun laut (Thyone briareus)

Apakah sampai di sini Anda bisa paham? Jika Anda masih ragu-ragu, coba pelajari sekali lagi! Amati pula gambar dan penjelasannya dengan teliti!Apabila sudah paham, mari kita lanjutkan ke materi selanjutnya!

Untuk lebih memahami jenis hewan Echinodermata ini, sangat disarankan Anda pergi ke pantai yang dangkal tapi airnya jernih dan tidak bergelombang. Bagi yang jauh dari pantai, boleh sambil rekreasi bersama teman-temanmu. Kemudian Anda cari hewan bintang laut, bintang ular laut, teripang dan landak laut. Selanjutnya Anda amati semuanya! Perhatikan bagian mulut, gigi, duri, madreporit dan bagian lainnya seperti pembahasan di atas. Jangan lupa Anda catat apa persamaan dan perbedaan dari semua jenis hewan itu, lalu diskusikan dengan temanmu!


C.

Peran Echinodermata

Bagaimana jadinya jika di laut tidak ada hewan Echinodermata. Para ahli biologi membayangkan mungkin di laut akan menjadi limbah raksasa yang penuh dengan benda berbau busuk. Laut bisa bersih seperti sekarang ini antara lain merupakan jasa hewan Echinodermata. Hewan ini adalah pemakan bangkai, sisa-sisa hewan, dan kotoran hewan laut lainnya. Oleh karena itu hewan ini sering disebut sebagai hewan pembersih laut/pantai.

Hewan Echinodermata juga dapat dijadikan sebagai bahan makanan. Misalnya mentimun laut setelah dikeringkan dijadikan bahan sup atau dibuat kerupuk. Juga telur bulu babi sangat enak untuk dimakan. Jika Anda ingin mencobanya, silahkan! Jenis hewan ini juga sering dijadikan sebagai barang hiasan/koleksi binatang laut yang indah.

Di samping itu Echinodermata juga bisa merugikan, karena hewan laut ini sebagai pemakan tiram/kerang mutiara. Juga ada diantara jenis bintang laut yang memakan binatang karang sehingga banyak yang mati.

Tidak terasa kini Anda telah menyelesaikan modul ini. Bagaimana, Anda bisa paham? Jika belum paham, coba ulangi sekali lagi. Nah, kalau sudah paham, silahkan Anda kerjakan uji kompetensi berikut ini.

Uji Kompentensi Kegiatan 3

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas!

1. Sebutkan 3 ciri dari hewan Echinodermata!
2. Jelaskan apa yang dimaksud sistem ambulakral pada hewan Echinodermata!
3. Sebutkan satu contoh jenis hewan kelas Ophiuroidea, Holoturioidea dan Crinoidea!
4. Sebutkan manfaat hewan Echinodermata bagi ekosistem laut dan bagi manusia!
5. Isilah tabel di bawah ini!
No. Kelas Echinodermata Bentuk Tubuh Letak Mulut dan Anus Tempat Hidup
1. Esteroidea
2. Echinodermata
3. Ophiuroidea
4. Crinoidea
5. Holoturoidea

KUNCI JAWABAN

UJI KOMPETENSI 1

I. Pilihan Ganda
1. B
2. B
3. B
4. D
5. A
6. D
7. D
8. C
9. B
10. A
II. Uraian

UJI KOMPETENSI 2

1. a. Tubuhnya lunak, tidak memiliki ruas
b. Umumnya memiliki cangkok
c. Memiliki kaki
d. Mempunyai sistem organ tubuh
2. Kelas Gastropoda
3. Pada kelas Cepalopoda kepada digunakan sebagai kaki, fungsinya sebagai tangan yang berguna untuk mencari, merasa dan menangkap makanan, contohnya cumi-cumi, sotong dan gurita. Hewan jenis ini tidak memiliki cangkok. Sedangkan ciri kelas Bivalvia hewan ini memiliki dua cangkok yang dihubungkan semacam engsel. Cangkok ini berfungsi untuk melindungi tubuh, contohnya kerang.
4. Jenis Amphineura: Chiton dan jenis Scaphopoda: Dentalium vulgare
5. a. sebagai bahan makanan yang bergizi tinggi
b. sebagai hiasan dinding, kancing atau barang koleksi
c. penghasil mutiara
6. Bagan daur hidup kerang air tawar adalah

UJI KOMPETENSI 3

1. a. umumnya berkulit duri
b. hanya hidup di laut
c. umumnya memiliki organ tubuh lima atau kelipatannya
d. memiliki sistem ambulakral
2. Sistem ambulakral adalah sistem saluran air yang berfungsi untuk pergerakan, bernafas atau membuka mangsa.
3. Kelas Ophiuroidea: bintang ular laut, kelas Holoturoidea: teripang, kelas Crinoidea: lili laut.
4. a. Pembersih laut karena hewan ini memakan kotoran dan sisa-sisa hewan lainnya.
b. Beberapa jenis dapat digunakan sebagai bahan makanan.
c. Sebagai barang hiasan dan koleksi binatang laut
5.
No. Kelas Echinodermata Bentuk Tubuh Letak Mulut dan Anus Tempat Hidup
1. Asteroidea Berbentuk bintang dengan 5 lengan Mulut di permukaan oral dan anus di permukaan aboral Sekitar pantai di batu karang dan di lumpur
2. Echinoidea Hampir bulat / gepeng dipenuhi duri tajam seperti duri landak Mulut di permukaan oral dan anus di permukaan aboral Sela-sela pasir atau bebatuan
3. Ophiuroidea Memiliki 5 lengan panjang-panjang Mulut di daerah oral, tidak mempunyai amus Di sekitar bebatuan, rumput laut atau dalam lumpur / pasir
4. Crinoidea Seperti tumbuhan, memiliki 5 lengan bercabang Mulut dan anus di permukaan oral Menempel di bebatuan di dasar laut
5. Holoturoidea Seperti mentimun, berduri halus, tidak mempunyai lengan Mulut di ujung anterior dan posterior Di tepi pantai

DAFTAR ISTILAH

Biliteral Simetris : Bentuk tubuh organisme.
Triploblastik : Hewan yang memiliki 3 lapisan lembaga, yaitu : eksoderm, mesoderm, dan endoderm.
Lateral : Sisi samping.
Sistem saraf tangga tali : Sistem saraf yang terdiri dari sepasang simpul saraf (ganglia) dan 2 tali saraf yang memanjang dan bercabang-cabang melintang seperti tangga tali.
Anterior : Bagian depan tubuh, dekat dengan kepala.
Posterior : Bagian belakang tubuh, dekat dengan ekor.
Abdomen : Bagian perut.
Regenerasi : Kemampuan menumbuhkan bagian tubuh yang lepas atau terpisah menjadi individu baru yang lengkap.
Parthenogenesis : Pembentukan individu baru tanpa melalui fertilisasi.
Karapaks : Kulit keras yang menutupi bagian kepala dan dada seperti pada Cirripedia dan Decapoda .
Kelisera : Alat mulut yang bentuknya runcing, memiliki lubang racun guna melumpuhkan mangsanya pada Arachnida .
Pedipalpus : Alat pada mulut yang berupa capit pada arachnida yang berguna untuk memegang mangsanya.
Insecta : Kelompok hewan yang memiliki sepasang sayang, 3 pasang kaki dan dalam daur hidupnya mengalami metamorfosis. Kelompok hewan ini disebut juga serangga.
Mollusca : Kelompok hewan yang bertubuh lunak, tubuhnya memiliki cangkang luar, contoh hewan mollusca adalah siput, cumi, kerang dan oktopus.
Ovipositor : Alat penyimpan telur serangga, bentuknya memanjang, terdapat pada segmen akhir dari abdomennya.
Metamorfosis : Perubahan ukuran dan bentuk tubuh Insecta saat berkembang dari muda menjadi dewasa.
Herbivora : Hewan pemakan tumbuh-tumbuhan.
Karnivora : Pemakan daging hewan lain.
Invertebrata : Kelompok hewan yang tidak memiliki tulang punggung.
Ganglion Cerebral : Simpul saraf otak.
Ganglion Visceral : Simpul saraf organ-organ dalam.
Ganglion Pedal : Simpul saraf kaki.
Ovotestes : Organ reproduksi yang dapat menghasilkan ovum dan sperma.
Hermafrodit : Hewan yang memiliki organ kelamin jantan (testis) dan organ kelamin betina (ovarium).
Autofertilisasi : Pembuahan sendiri.
Gonad : alat penghasil sel kelamin jantan (spermatozoa) ataupun sel kelamin betina (ovum).
Berumah dua : Hewan jantan dan hewan betina dapat dibedakan.
Mikroflora : Tumbuhan kecil.
Mikrofauna : Hewan kecil.
Silia : Rambut getar.
Bilateral simetris : Bentuk tubuh hewan yang apabila dipotong secara longitudinal, maka akan membentuk menjadi 2 bagian yang sama besar, dan setangkup.
Radial simetri : Bentuk tubuh hewan yang apabila dipotong melalui sumbu pusat ke segala arah akan membagi tubuh hewan menjadi 2 atau lebih bagian yang sama.
Antena : Sungut.
Apterygota : Serangga tak bersayap.
Decapoda : Hewan berkaki sepuluh.
Imago : Bentuk serangga dewasa.
Kokon : Selaput pelindung pupa dari Insecta.
Nimfa : Serangga muda yang bentuknya sama dengan bentuk dewasanya, tetapi sebahagian organ tubuhnya belum berkembang dengan baik.
Oselus : Mata tunggal .
Statocyst : Alat keseimbangan pada udang.
Esofagus : Kerongkongan.
Eksdisis : Pergantian kulit.
Autotomi : Pemutusan sebagian anggota tubuh.
Cephalothorax : Bagian kepala menyatu dengan bagian dada.
Amubalakral : Kaki pembuluh pada hewan Echinodermata.
Ampula : Gelembung otot pada hewan Echinodermata.
Parasit : Sifat organisme yang merugikan dan hidup menumpang pada organisme lain.
Sifat Ambulakral : Sistem saluran alir pada hewan Echinodermata yang berfungsi untuk bergerak, bernafas atau membuka mangsa.
Tentakel : Lengan hewan tingkat rendah yang panjang.
Ventrikel : Bilik jantung.
Pericardial : Ruang tempat jantung.
Madreprodit : Lubang yang dilengkapi dengan sejenis saringan tempat keluar masuknya air laut pada Echinodermata.

DAFTAR PUSTAKA

- Arthur, Alex. Kerang :Seri Eyewitness. Jakarta : PT Saksama, 1992.
- Demardjati, Boen S dan Wisnu Wardhana. Taksonomi Avertebrata : pengantar praktek laboratorium. Jakarta : UI Press, 1990.
- David and Jennifer George. Marine Life : an illustrated Encyclopedia of Invertebrata in the Sea. Melbourne : Lionel Leventhal, 1979.
- Dwidjoseputro D. biologi 1 untuk SMA. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984.
- D.A. Pratiwi, et.al. Buku Penuntun Biologi SMU Kelas I. Jakarta : Erlangga, 2000.
- Darsana Setiawan, et.al. Biologi SMU 1. Jakarta : Rakaditu
- Dadang Sunardi, et.al : Biologi SMU 1, Jakarta : Aries Lima, 1995.
- Djamhur Wiratasasmita, Sukarno. Biologi SMA 1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993.
- Dadang Sunardi, Drs. Modul SMU Terbuka “Arthropoda”. Pustekkom, Jakarta.
- Oliver, A.PH., Shells of the World. London : Hamlyn, 1975.
- Jasin, Maskoeri. Sistematika Hewan : invertebrata dan vertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya, 1984.
- Kanwil DKI Jakarta. Program Kerja Guru Kelas I, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996.
- Supeni, Tri, dkk. Biologi : buku pelajaran Biologi SMU. Jakarta : Erlangga, 1997.
- Syamsuri, Istamar, dkk. Biologi 2000, SMU Kelas 1. Jakarta : Erlangga, 2000.
- Slamet Prawirohartono. Biologi SMU 1B. Jakarta : Bumi Aksara, 1996.
- Tim Penyusun Biologi, Mikrobiologi dan Invertebrata SMA 1. Bandung : Pakor Raya, 1992.



TUMBUHAN PAKU (Pteridophyta)

Tumbuhan paku (Pteridophyta) adalah divisi dari kingdom Plantae yang anggotanya memiliki akar, batang, dan daun sejati, serta memiliki pembuluh pengangkut. Tumbuhan paku sering disebut juga dengan kormofita berspora karena berkaitan dengan adanya akar, batang, daun sejati, serta bereproduksi aseksual dengan spora. Tumbuhan paku juga disebut sebagai tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) karena memiliki pembuluh pengangkut.

A. Ciri-ciri tumbuhan paku
Ciri tumbuhan paku meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh
Ukuran dan bentuk tubuh
Tumbuhan paku memiliki ukuran yang bervariasi dari yang tingginya sekitar 2 cm, misalnya pada tumbuhan paku yang hidup mengapung di air, sampai tumbuhan paku yang hidup di darat yang tingginya mencapai 5 m misalnya paku tiang (Sphaeropteris). Tumbuhan paku purba yang telah menjadi fosil diperkirakan ada yang mencapai tinggi 15 m. Bentuk tumbuhan paku yang hidup saat ini bervariasi, ada yang berbentuk lembaran, perdu atau pohon, dan ada yang seperti tanduk rusa.
Tumbuhan paku terdiri dari dua generasi, yaitu generasi sporofit dan generasi gametofit. Generasi sporofit dan generasi gametofit ini tumbuh bergantian dalam siklus tumbuahan paku. Generasi sporofit adalah tumbuhan yang menghasilkan spora sedangkan generasi gametofit adalah tumbuhan yang menghasilkan sel gamet (sel kelamin). Pada tumbuhan paku, sporofit berukuran lebih besar dan generasi hidupnya lebih lama dibandingkan generasi gametofit. Oleh karena itu, generasi sporofit tumbuhan paku disebut generasi dominan. Generasi sporofit inilah yang umumnya kita lihat sebagai tumbuhan paku.

Struktur dan fungsi tubuh tumbuhan paku generasi sporofit
Tumbuhan paku sporofit pada umumnya memiliki akar, batang, dan daun sejati. Namun, ada beberapa jenis yang tidak memiliki akar dan daun sejati. Batang tumbuhan paku ada yang tumbuh di bawah tanah disebut rizom dan ada yang tumbuh di atas permukaan tanah. Batang yang yang tumbuh di atas tanah ada yang bercabang menggarpu dan ada yang lurus tidak bercabang. Tumbuhan paku yang tidak memilki akar sejati memilki akar berupa rizoid yang terdapat pada rizom atau pangkal batang. Tumbuhan paku ada yang berdaun kecil (mikrofil) dan ada yang berdaun besar (makrofil). Tumbuhan paku yang berdaun kecil, daunnya berupa sisik. Daun tumbuhan paku memiliki klorofil untuk fotosintesis. Klorofil tumbuhan paku yang tak berdaun atau berdaun kecil terdapat pada batang.
Tumbuhan paku sporofit memiliki sporangium yang menghasilkan spora. Pada jenis tumbuhan paku sporofit yang tidak berdaun, sporangiumnya terletak di sepanjang batang. Pada tumbuhan paku yang berdaun, sporangiumnya terletak pada daun yang fertil (sporofil). Daun yang tidak mengandung sporangium disebut daun steril (tropofil). Sporofil ada yang berupa helaian dan ada yang berbentuk strobilus. Strobilus adalah gabungan beberapa sporofil yang membentuk struktur seperti kerucut pada ujung cabang. Pada sporofil yang berbentuk helaian, sporangium berkelompok membentuk sorus. Sorus dilindungi oleh suatu selaput yang disebut indisium. Sebagian besar tumbuhan paku memiliki pembuluh pengangkut berupa floem dan xilem. Floem adalah pembuluh pengangkut nutrien organik hasil fotosintesis. Xilem adalah pembuluh pengangkut senyawa anorganik berupa air dan mineral dari akar ke seluruh bagian tumbuhan. Spora yang menghasilkan sporofit akan tumbuh membentuk struktur gametofit berbentuk hati yang disebut protalus atau protaliaum.
Struktur dan fungsi tubuh tumbuhan paku generasi gametofit
Gametofit tumbuhan paku hanya berukuran beberapa milimeter. Sebagian besar tumbuhan paku memiliki gametofit berbentuk hati yang disebut protalus. Protalus berupa lembaran, memiliki rizoid pada bagian bawahnya, serta memiliki klorofil untuk fotosintesis. Protalus hidup bebas tanpa bergantung pada sporofit untuk kebutuhan nutrisinya. Gametofit jenis tumbuhan paku tertentu tidak memilki klorofil sehingga tidak dapat berfotosintesis. Makanan tumbuhan paku tanpa klorofil diperoleh dengan cara bersimbiosis dengan jamur.
Gametofit memilki alat reproduksi seksual. Alat reproduksi jantan adalah anteridium. Anteridium menghasilkan spermatozoid berflagelum. Alat reproduksi betina adalah arkegonium. Arkegonium menghasilkan ovum. Gametofit tumbuhan paku jenis tertentu memiliki dua jenis alat reproduksi pada satu individu. Gametofit dengan dua jenis alat reproduksi disebut gametofit biseksual. Gametofit yang hanya memiliki anteridium saja atau arkegonium saja disebut disebut gametofit uniseksual. Gametofit biseksual dihasilkan oleh paku heterospora (paku yang menghasilkan dua jenis spora yang berbeda).

B. Cara Hidup dan Habitat Tumbuhan Paku
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan fotoautotrof. Tumbuhan paku ada yang hidup mengapung di air ( misalnya Azolla pinnata dan Marsilea crenata). Namun, pada umumnya tumbuhan paku adalah tumbuhan terestrial (tumbuhan darat).

C. Reproduksi
Tumbuhan paku berkembang biak secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dan seksual pada tumbuhan paku terjadi seperti pada lumut. Reproduksi tumbuhan paku menunjukkan adanya pergiliran antara generasi gametofit dan generasi sporofit (metagenesis). Pada tumbuhan paku, generasi sporofit merupakan generasi yang dominan dalam daur hidupnya.

Generasi gametofit dihasilkan oleh reproduksi aseksual dengan spora. Spora dihasilkan oleh pembelahan sel induk spora yang terjadi di dalam sporangium. Sporangium terdapat pada sporofit (sporogonium) yang terletak di daun atau di batang. Spora haploid (n) yang dihasilkan diterbangkan oleh angin dan jika sampai di tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi protalus dan selanjutnya menjadi gametofit yang haploid (n).
Gametofit memiliki dua jenis alat reproduksi, yaitu anteridium dan arkegonium, atau satu jenis alat reproduksi, yaitu anteridium saja atau arkegonium saja. Arkegonium menghasilkan satu ovum yang haploid (n). Anteridium menghasilkan banyak spermatozoid berflagelum yang haploid (n). Spermatozoid bergerak dengan perantara air menuju ovum pada arkegonium. Spermatozoid kemudian membuahi ovum. Pembuahan ovum oleh spermatozoid di arkegonium menghasilkan zigot yang diploid (2n). Zigot membelah dan tumbuh menjadi embrio (2n). Embrio tumbuh menjadi sporofit yang diploid (2n). Metagenesis tumbuhan paku dapat dilihat melalui bagan metagenesis tumbuhan paku, sebagai berikut :

Metagenesis Tumbuhan Paku
Arkegonium (n)
Spora (n)
Mitosis
Protalus atau protalium (n)
(gametofit)
Anteridium (n)
Sel telur (n)
Spermatozoid (n)
Zigot (2n)
Tumbuhan paku (2n)
(sporofit)
Sporangium
Spora (n)
Meiosis

D. Klasifikasi
Berdasarkan jenis spora yang dihasilkan, tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Paku Homospora,
Paku Homospora yaitu jenis tumbuhan paku yang menghasilkan satu jenis spora yang sama besar. Contohnya adalah paku kawat (Lycopodium)
2. Paku Heterospora
Paku heterospora merupakan jenis tumbuhan paku yang menghasilkan dua jenis spora yang berbeda ukuran. Spora yang besar disebut makrospora (gamet betina) sedangkan spora yang kecil disebut mikrospora (gamet jantan). Contohnya adalah paku rane (Selaginella) dan Semanggi (Marsilea).
3. Paku Peralihan
Paku peralihan merupakan jenis tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran yang sama, serta diketahui gamet jantan dan betinanya. Contoh tumbuhan paku peralihan adalah paku ekor kuda (Equisetum)
Berdasarkan ciri tubuhnya, tumbuhan paku diklasifikasikan menjadi empat subdivisi, yaitu paku purba (Psilopsida), paku kawat (Lycopsida), Paku ekor kuda (Sphenopsida), dan paku sejati (Pteropsida).
1. Paku Purba (Psilopsida)
Tumbuhan paku purba yang masih hidup saat ini diperkirakan hanya tinggal 10 spesies sampai 13 spesies dari dua genus. Paku purba hidup di daerah tropis dan subtropis. Sporofit paku purba ada yang tidak memiliki akar sejati dan tidak memiliki daun sejati.
Paku purba yang memilki daun pada umumnya berukuran kecil (mikrofil) dan berbentuk sisik. Batang paku purba bercabang dikotomi dengan tinggi mencapai 30 cm hingga 1 m. Paku purba juga tidak memiliki pembuluh pengangkut. Batang paku purba mengandung klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis. Cabang batang mengandung mikrofil dan sekumpulan sporangium yang terdapat di sepanjang cabang batang. Sporofil paku purba menghasilkan satu jenis spora (homospora). Gametofitnya tidak memiliki klorofil dan mengandung anteridium dan arkegonium. Gametofit paku purba bersimbiosis dengan jamur untuk memperoleh nutrisi. Contoh tumbuhan paku purba yaitu paku purba tidak berdaun (Rhynia) dan paku purba berdaun kecil (Psilotum).
2. Paku Kawat (Lycopsida)
Paku kawat mencakup 1.000 spesies tumbuhan paku, terutama dari genus Lycopodium dan Selaginella. Paku kawat banyak tumbuh di hutan-hutan daerah tropis dan subtropis. Paku kawat menempel di pohon atau hidup bebas di tanah. Anggota paku kawat memiliki akar, batang, dan daun sejati. Daun tumbuhan paku kawat berukuran kecil dan tersusun rapat. Sporangium terdapat pada sporofil yang tersusun membentuk strobilus pada ujung batang. Strobilus berbentuk kerucut seperti konus pada pinus. Oleh karena itu paku kawat disebut juga pinus tanah. Pada paku rane (Selaginella) sporangium terdiri dari dua jenis, yaitu mikrosporangium dan megasporangium. Mikrosporangium terdapat pada mikrosporofil (daun yang mengandung mikrosporangium). Mikrosporangium menghasilkan mikrospora yang akan tumbuh menjadi gametofit jantan. Megasporangium terdapat pada megasporofil (daun yang mengandung megasporangium). Megasporangium menghasilkan megaspora yang akan tumbuh menjadi gametofit betina.
Gametofit paku kawat berukuran kecil dan tidak berklorofil. Gametofit memperoleh makanan dari jamur yang bersimbiosis dengannnya. Gemetofit paku kawat ada yang uniseksual, yaitu mengandung anteridium saja atau arkegonium saja. Gametofit paku kawat juga ada yang biseksual, yaitu mengandung anteridium dan arkegonium. Gametofit uniseksual terdapat pada Selaginella. Selaginella merupakan tumbuhan paku heterospora sedangkan gametofit biseksual terdapat pada Lycopodium.
3. Paku Ekor Kuda (Sphenopsida)
Paku ekor kuda saat ini hanya tinggal sekitar 25 spesies dari satu genus, yaitu Equisetum. Equisetum terutama hidup pada habitat lembab di daerah subtropis. Equisetum yang tertinggi hanya mencapai 4,5 m sedangkan rata-rata tinggi Equisetum kurang dari 1 m. Equisetum memiliki akar, batang, dan daun sejati. Batangnya beruas dan pada setiap ruasnya dikelilingi daun kecil seperti sisik. Equisetum disebut paku ekor kuda karena bentuk batangnya seperti ekor kuda. Batangnya yang keras disebabkan dinding selnya mengandung silika. Sporangium terdapat pada strobilus. Sporangium menghasilkan satu jenis spora, sehingga Equisetum digolongkan pada tumbuhan paku peralihan. Gametofit Equisetum hanya berukuran beberapa milimeter tetapi dapat melakukan fotosintesis. Gametofitnya mengandung anteridium dan arkegonium sehingga merupakan gametofit biseksual.
4. Paku Sejati (Pteropsida)
Paku sejati mencakup jenis tumbuhan paku yang paling sering kita lihat. Tempat tumbuh paku sejati sebagian besar di darat pada daerah tropis dan subtropis. Paku sejati diperkirakan berjumlah 12.000 jenis dari kelas Filicinae. Filicinae memiliki akar, batang, dan daun sejati. Batang dapat berupa batang dalam (rizom) atau batang di atas permukaan tanah. Daun Filicinae umumnya berukuran besar dan memiliki tulang daun bercabang. Daun mudanya memiliki ciri khas yaitu tumbuh menggulung (circinnatus). Jenis paku yang termasuk paku sejati yaitu Semanggi (Marsilea crenata), Paku tanduk rusa (Platycerium bifurcatum), paku sarang burung (Asplenium nidus), suplir (Adiantum cuneatum), Paku sawah (Azolla pinnata), dan Dicksonia antarctica.
E. Manfaat Tumbuhan Paku
Beberapa jenis tumbuhan paku dapat diamanfaatkan bagi kepentingan manusia. Jenis tumbuhan paku yang dapat dimanfaatkan yaitu semanggi (Marsilea crenata) dimakan sebagai sayur, paku rane (Selaginella plana) sebagai obat untuk menyembuhkan luka, Paku sawah (Azolla pinnata) sebagai pupuk hijau tanaman padi di sawah, suplir (Adiantum cuneatum) dan paku rusa (Platycerium bifurcatum) sebagai tanaman hias.

F. DAFTAR PUSTAKA
Aryulina, Diah dkk. 2007. Biologi 1 SMA dan MA untuk Kelas X. Jakarta : Esis

PENERAPAN STRATEGI TANDUR (TUMBUHKAN, ALAMI, NAMAI, DEMONSTRASIKAN, ULANGI, DAN RAYAKAN) BERVISI SETS (SCIENCE ENVIRONMENT TECHNOLOGY AND SOCIETY) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA SUB POKOK BAHASAN EKOSISTEMDI KELAS X SMA NEGERI 5 KOTA CIREBON

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar belakang masalah

Pendidikan sangat penting dalam kehidupan, oleh karena itu pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Bahkan maju mundurnya suatu masyarakat atau bangsa ditentukan oleh maju dunia pendidikan. Dalam setiap proses pendidikan, peserta didik merupakan komponen yang mempunyai kedudukan yang paling sentral, dan tidak mungkin suatu proses pendidikan dapat berlangsung tanpa adanya kehadiran peserta didik.

Pendidikan merupakan usaha yang di lakukan orang dewasa dalam situasi pergaulan dengan anak – anak melalui proses perubahan yang di alami oleh anak – anak dalam bentuk pembelajaran atau pelatihan, perubahan itu meliputi perubahan pemikiran, perasaan dan ketrampilan. ( Taqiyuddin, 2008:45 )

Masalah pendidikan adalah masalah yang selalu berpusat pada manusia. Tujuan pendidikan terarah kepada manusia dan oleh karena itu tergantung pada aspirasi masyarakat, Bangsa dan Negara. Sebagai suatu Bangsa dan Negara Indonesia mempunyai tujuan pendidikan sendiri berdasarkan identitasnya sebagai bangsa yaitu pancasila. Misi pendidikan sebagaimana di nyatakan dalam Undang – undang 1945 ialah “ mencerdaskan kehidupan Bangsa” ( Gulo, 2002 : 41 ).

Untuk mencapai tujuan pendidikan, pada setiap lembaga pendidikan tertentu di susun kurikulum yang berorentasi pada kemampuan yang berorentasi pada kemampuan yang di tuntut oleh tujuan instutisional. Perangkat kemampuan itu di jabarkan dalam sejumlah mata pelajaran yang di kelompok-kelompokan menurut kemampuan yang di dukungnya. Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak pernah terhenti. Reformasi pendidikan yakni memperbaiki pola hubungan sekolah dengan lingkunganya dan dengan pemerintah. Pola pengembangan perencanaan serta pola pengembangan pemberdayaan guru.

Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000: 24).Rencana pengajaran adalah rencana guru mengajar mata pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu dalam kegiatan pembelajaran perencanaan program pengajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pengajaran yang di anut dalam kurikulum. Penyusunan program pengajaran sebagai sebuah proses disiplin ilmu pengetahuan, realitas, sistem dan teknologi pembelajaran bertujuan agar pelaksanaan pengajaran berjalan dengan efektif dan efesien. ( Majid, 2008:18 ).

Dari uraian di atas, pengembangan program di lakukan berdasarkan pendekatan kompetensi. Penggunaan pendekatan ini menunjukan desain program dapat di laksanakan secara efektif dan tepat. Hasil-hasil pembelajaran di nilai dan di jadikan umpan balik untuk mengadakan perubahan terhadap tujuan pembelajaran dan prosedur pembelajaran.

Untuk mencapai pembelajaran yang memuaskan terutama dalam pembelajaran IPA Biologi. Tentu harus ada model atau pendekatan pembelajaran yang tepat. Usaha untuk melakukan perbaikan terhadap hasil belajar siswa, dapat di terapkan pendekatan yang sesuai dengan topiknya. Pendekatan tertentu itu merupakan titik tolak atau sudut pandang kita dalam memandang seluruh masalah yang ada dalam program belajar mengajar.

Hasil diskusi dengan guru terungkap bahwa guru lebih banyak menerapkan metode ceramah dan latihan soal dalam proses pembelajaran karena guru mengalami kesulitan merancang strategi pembelajaran yang menarik, inovatif, dan lebih mengaktifkan siswa.

Selain itu untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap lingkungan dan masyarakat perlu di lakukan suatu strategi belajar yang efektif yaitu dalam hal ini menggunakan strategi TANDUR yang bervisi pendekatan pembelajaran SETS. Konsep – konsep yang dapat di kaitkan pada pendekatan pembelajaran SETS salah satunya mengenai Ekosistem . Di mana konsep tersebut biasa di dapatkan siswa melalui kehidupan sehari – harinya. Dengan demikian siswa akan lebih memahaminya terhadap materi yang di berikan.

Melalui strategi TANDUR yang bervisi pendekatan SETS peserta didik akan dapat dengan segera mengetahui cakupan pendidikan SETS itu sendiri. Tujuan dari di terapkanya pendidikan SETS Juga di tujukan untuk membantu peserta didik mengetahui Sains, perkembangannya dan bagaimana Sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik.

Ketika kurikulum 1994 dilaksanakan, bahasan Ekosistem mungkin belum begitu terasa manfaat dan aplikasinya bagi siswa. Cakupan materi yang masih bersifat teoritis dan penyampaian materi yang mengejar target membuat guru agak mengabaikan metode pengajaran yang sebenarnya berpengaruh pada siswa.

Salah satu pilihan dalam pembelajaran sains adalah Pendekatan SETS. Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology and Society) memberi penekanan pada konservasi nilai positif pendidikan, budaya dan agama, sementara tetap maju dalam bidang sains, teknologi dan ekonomi (Binadja, 1999). Pembelajaran dalam pendekatan SETS selalu dihubungkan dengan kejadian nyata yang dijumpai siswa dalam kehidupannya (bersifat kontekstual) dan terintegrasi dalam empat komponen SETS.

B. Rumusan masalah

1. identifikasi masalah

a. wilayah penelitian :

Wilayah penelitian yang di gunakan adalah penerapan strategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS pada materi biologi di kelas X di SMAN 5 Kota Cirebon ?

b. Pendekatan penelitian

Pendekatan penelitian yang di gunakan adalah pendekatan teoritik dan empirik. Pendekatan teoritik melalui study pustaka dan pendekatan empirik dengan observasi ( study lapangan ).

c. Jenis masalah

Jenis masalah ini adalah mengkaji tentang penerapan strategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS pada pokok bahasan Ekosistem terhadap hasil belajar siswa di SMAN 5 Kota Cirebon

2. Pembatasan masalah

  1. Penerapan strategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS
  2. Pokok bahasan biologi dalam penelitian ini yaitu Ekosistem pada Semester II kelas X.
  3. Hasil belajar yang di ukur yaitu dari afektif ( sikap ) , kognitif ( pretest dan postest ), psikomotor ( observasi  ).

3. Pertanyaan penelitian

  1. Bagaimana penerapan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS di SMAN 5 Kota Cirebon ?
  2. Bagaimanakah respon siswa dengan penerapan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS di SMAN 5 Kota Cirebon ?
  3. Seberapa besar hasil belajar siswa yang menggunakan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS dengan yang tidak menggunakan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS di SMAN 5 Kota Cirebon ?

C. Tujuan penelitian

Tujuan di lakukanya penelitian ini di antaranya yaitu :

  1. Untuk mengkaji penerapan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS di SMAN 5 Kota Cirebon ?
  2. Untuk mengkaji sikap siswa dengan penerapan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS di SMAN 5 Kota Cirebon ?
  3. Untuk mengakaji seberapa besar hasil belajar siswa yang menggunakan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS dengan yang tidak menggunakan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS di SMAN 5 Kota Cirebon ?

D. Manfaat penelitian

Manfaat dengan dilakukannya penelitian ini di antaranya :

  1. Untuk siswa

Penerapan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS di harapkan dapat membantu siswa dan mempercepat pemahaman siswa dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

  1. Untuk Guru

Penerapan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS di harapkan merupakan suatu pendekatan yang dapat membantu guru dalam meningkatkan pembelajaran terhadap peserta didiknya.

  1. Untuk lembaga

Penerapan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS di harapkan dapat memberikan sumbangan informasi kepada lembaga sebagai sumbangan yang efektif.

  1. E. Kerangka pemikiran

Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang di anutnya. Sebagai suatu rencana pengajaran, kurikulum berisi tujuan yang ingin di capai, bahan yang akan di sajikan, kegiatan pengajaran dan jadwal waktu pengajaran. Sebagai suatu sistem, kurikulum merupakan bagian atau subsistem dari keseluruhan kerangka organisasi sekolah atau sistem sekolah.                          ( Syaodih, 2002 : 7 ).

Pada saat ini kurikulum yang di gunakan yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan  ( KTSP ) maka implementasi pembelajaran pun di sesuaikan dengan kurikulum yang di terapkan. Pembelajaran yang berbasis KTSP yaitu suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan KTSP dalam suatu aktifitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai interaksi dengan lingkungannya. ( Mulyasa, 2007 : 246 ).

Guru mempunyai peranan amat penting dalam proses belajar mengajar dalam  upaya pendidikan. Bimbingan guru merupakan bagian terpadu dari keseluruhan upaya pendidikan yang dilakukan agar anak dapat mencapai hasil kegiatan yang optimal. Hal ini dapat diupayakan melalui peningkatan kualifikasi pendidikan, kinerja profesionalisme guru, tentunya diiringi dengan kesejahteraan bagi guru dan pemberian penghargaan. Siswa dapat berhasil dalam pendidikan apabila proses pendidikannya itu berlangsung terus menerus baik di sekolah maupun di dalam keluarga. Tetapi pada akhirnya tidak terlepas pada kompetensi yang dimiliki setiap guru dalam proses pembelajaran.

Belajar merupakan aktivitas atau usaha perubahan tingkah laku yang terjadi pada dirinya atau diri individu. ( Dahar , 1989 : 11 ). Perubahan tingkah laku tersebut merupakan pengalaman- pengalaman baru. Dengan belajar individu mendapatkan pengalaman- pengalaman baru. Perubahan dalam kepribadian yang menyatakan sebagai suatu pola baru dan pada reaksi yang berupa kecakapan.

Pemilihan pendekatan pembelajaran yang tepat atau sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang akan di ajarkan yang melibatkan siswa baik secara fisik, emosional, intelektual, sesuai tingkat perkembangan siswa. Tidak tepatnya suatu pendekatan, baru akan terbukti dari hasil belajar siswa dengan demikian yang dapat di ketahui adalah hasilnya.

Suatu pendekatan pembelajaran yang akan menghubungkan dalam proses belajar mengajar untuk dapat mengkomunikasikan antara kompetensi siswa dengan konsep yang tersusu dalam kurikulum yaitu strategi TANDUR  bervisi pembelajaran SETS .

Secara mendasar dapat di katakan bahwa melalui strategi TANDUR bervisi SETS ini di harapakan agar peserta didik akan memiliki kemampuan memandang sesuatu secara terintegratif dengan memperhatikan keempat dari unsur SETS.

Upaya untuk mengaitkan pengetahuan yang sudah di miliki oleh peserta didik Strategi TANDUR bervisi SETS ini bisa di kaitkan dengan mata pelajaran Ekosistem. Pada proses pembelajaran, guru dapat mengangkat isu yang berkembang di masyarakat mengenai Ekosistem. Siswa akan dituntut berpikir aktif dan kreatif. Pemikiran yang kreatif mendorong siswa menguasai pengetahuan, manfaat dan efek sampingnya. Secara utuh, pendidikan Sains di tujukan untuk membantu peserta didik mengetahui Sains, perkembanganya dan bagaimana perkembangan Sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi, dan masyarakat secara timbale balik. ( Binadja, 2001 : 3 )

Sumber belajar pada pembelajaran Ekosistem pada manusia. tidak hanya berasal dari guru tetapi juga berasal dari lingkungan dan masyarakat, misalnya dari media massa, media elektronik, buku-buku pengetahuan umum serta lingkungan sekitar. Hal ini diperlukan mengingat teknologi informasi berkembang sedemikian cepat dalam menyajikan berbagai macam informasi terkini yang perlu selalu diikuti perkembangannya baik oleh guru maupun siswa.

Dengan demikian proses pembelajaran akan menjadi lebih menarik sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sehingga tujuan dari pembelajaran akan dapat tercapai.

Hasil belajar adalah kemampuan siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Hasil belajar siswa dapat di tentukan oleh pengalaman belajar yang di alami oleh siswa tersebut yang berupa penguasaan materi ( pengetahuan ).

Untuk lebih mempermudah kerangka pemikiran tersebut penulis gambarkan dalam bentuk bagan kerangka pemikiran sebagai berikut.

Gambar 1 : Bagan Kerangka pemikiran

F. Hipotesis

Ha : Terdapat peningkatan hasil belajar yang menggunakan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS dalam pembelajaran biologi pokok bahasan ekosistem di SMAN 5 Kota Cirebon.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian strategi TANDUR

Strategi TANDUR ( Tumbuhkan, Alami, Namai demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan ) merupakan strategi pembelajaran yang dikembangkan dalam model pembelajaran quantum . Quantum teaching menguraikan cara – cara baru yang memudahkan proses belajar lewat perpaduan unsur seni dan pencapaian yang terarah, apaun mata pelajaran yang di ajarkan. Dengan menggunakan metode Quantum teaching dapat menggabungkan keistimewaan – keistimewaan belajar menuju bentuk perencanaan pengajaran yang akan melejitkan prestasi siswa           ( DePorter, 2003: 3 )

Strategi TANDUR dirancang untuk meningkatkan aktivitas siswa dengan pemberian pengalaman belajar melalui pengamatan, penyelidikan, maupun diskusi atas pemasalahan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman belajar tersebut dikemas dalam skenario pembelajaran yang menyenangkan. TANDUR adalah kependekan dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan yang merupakan kerangka rancangan pembelajaran quantum learning (DePorter, 2003 : 88 – 93 ). Penjelasan dari masing-masing tahap dalam TANDUR adalah sebagai berikut:

a. Tumbuhkan

Tumbuhkan, merupakan tahap penumbuhan minat siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan. Melalui tahap ini guru berusaha mengikutsertakan siswa dalam proses pembelajaran. Motivasi yang kuat membuat siswa lebih tertarik untuk mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Tahap tumbuhkan bisa dilakukan dengan menggali permasalahan yang terkait dengan materi yang akan dipelajari, menampilkan suatu gambar atau benda nyata, cerita pendek atau video.

Dari tumbuhkan ini bisa di buat tuntunan pertanyaan seperti : Hal apa yang mereka pahami ? Apa yang mereka setujui ? Apa manfaatnya bagi mereka ? Pada apa mereka berkomitmen ?

b. Alami

Alami merupakan tahap saat guru menghadirkan suatu pengalaman yang dapat dimengerti oleh semua siswa dan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Tahap ini memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan pengetahuan awal yang telah dimiliki. Tahap alami bisa dilakukan dengan mengadakan pengamatan atau praktikum. Pengalaman membuat guru dapat mengajar lewat pintu belakang untuk memanfaatkan pengetahuan dan keinginan mereka.

c. Namai

Tahap namai merupakan tahap memberikan kata kunci, konsep, model, atau rumus atas pengalaman yang telah diperoleh siswa. Dalam tahap ini, siswa dengan bantuan guru berusaha menemukan konsep atas pengalaman yang telah dilewati. Tahap penamaan memacu struktur kognitif siswa untuk memberikan identitas, menguatkan dan mendefinisikan apa yang dialaminya. Proses penamaan dibangun dengan pengetahuan awal dan keingintahuan siswa saat itu. Tahap ini merupakan saat untuk mengajarkan konsep kepada siswa. Pemberian nama setelah pengalaman akan menjadikan sesuatu lebih bermakna dan berkesan bagi siswa. Untuk membantu penamaan dapat digunakan gambar, alat bantu, kertas tulis dan poster dinding. Prinsip yang sama membuat kita mengajarkan kembali informasi kepada siswa kita. Mereka mendapat informasi, tetapi harus mendapatkan pengalaman untuk benar – benar membuat pengetahuan tersebut berarti.

d. Demonstrasikan

Tahap ini menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka ketahui. Demonstrasi bisa dilakukan dengan penyajian di depan kelas, permainan, menjawab pertanyaan, dan menunjukkan hasil pekerjaan. Siswa beri kesempatan untuk membuat kaitan, berlatih, dan menunjukan apa yang mereka ketahui. Memberi siswa untuk menterjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka ke dalam pembelajaran yang lain, dan ke dalam kehidupan mereka.

e. Ulangi

Pengulangan akan memperkuat koneksi saraf sehingga menguatkan struktur kognitif siswa. Semakin sering dilakukan pengulangan, maka pengetahuan akan semakin mendalam. Pengulangan dapat dilakukan dengan menegaskan kembali pokok materi pelajaran, memberi kesempatan siswa untuk mengulangi pelajaran dengan teman atau melalui latihan soal.

f. Rayakan

Perayaan merupakan wujud pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan perolehan ketrampilan dan ilmu pengetahuan. Perayaan dapat dilakukan dengan memberikan pujian, tepuk tangan, bernyanyi bersama atau yang lainnya.

Dari penjelasan di atas dapat di ketahui bahwa dalam pembelajaran biologi, penerapan strategi TANDUR memerlukan kesediaan guru atau pendidik biologi untuk mengikuti perkembangan-perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Hal-hal yang bernuansa biologi tersebut dapat berupa penyakit, peristiwa alam, informasi baru dan aktual yang terkait dengan materi pelajaran yang akan diajarkan. Permasalah atau fakta yang diajukan menjadi bahan untuk penyelidikan atau diskusi siswa.

Penerapan strategi TANDUR dalam pembelajaran biologi perlu memperhatikan karakteristik pelajaran biologi. Biologi selain memiliki produk-produk dalam bentuk fakta, konsep dan teori juga mengembangkan proses-proses ilmiah. Tahap tumbuhkan, bisa dilakukan dengan menghadirkan fakta atau permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang ada di sekitar siswa. Pengalaman belajar bisa diberikan dengan pengamatan, penyelidikan, eksperimen ataupun kajian pustaka. Demikian halnya dengan bernyanyi bersama, sebagai contoh  kegiatan perayaan, akan lebih tepat bila nyanyian tersebut masih terkait materi pelajaran biologi yang diajarkan, sehingga selain menyenangkan juga terdapat materi yang bisa dipelajari siswa.

Secara garis besar tindakan yang dilakukan dalam setiap rencana pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. Guru mengawali pembelajaran dengan menghadirkan permasalahan atau fakta yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa untuk menumbuhkan motivasi siswa.
  2. Berdasarkan permasalahan yang dimunculkan, siswa melakukan penyelidikan, eksperimen ataupun kajian pustaka dengan panduan LKS yang telah dibuat.
  3. Siswa mencoba menginterpretasi hasil penyelidikannya.
  4. Pengetahuan yang telah diperoleh, didemonstrasikan oleh siswa dengan mempresentasikan hasil temuannya di depan kelas.
  5. Guru meluruskan dan menguatkan konsep yang dipahami siswa dengan tanya jawab atau menggunakan bagan dan torso alat ekskresi.

B. Pengertian pendekatan SETS

Kata SETS (Science Environment Technology and Society) dapat dimaknakan sebagai sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, merupakan satu kesatuan yang dalam konsep pendidikan mempunyai implementasi agar anak didik mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking). Pendidikan SETS dapat diawali dengan konsep-konsep yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar kehidupan sehari-hari peserta didik atau konsep-konsep rumit sains maupun non sains.Dalam konteks pendidikan SETS membawa pesan bahwa untuk menggunakan Sains ( S-Pertama ) ke bentuk teknologi ( T ) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat ( S-Kedua ) di perlukan pemikiran tentang berbagi implikasinya pada lingkungan ( E ) secara fisik maupun mental. Secara tidak langsung, hal ini menggambarkan arah pendidikan SETS yang realif memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan atau system kehidupan          ( manusia ) yang memuat juga unsur – unsur SETS selain lingkungan ( E ). Hal ini perlu di tekankan karena ulah manusianya yang memerlukan pendidikan ini untuk di perkenankan. ( Binadja, 2001 : 2 )

Di samping itu di harapkan agar melalui gamabaran pendidikan SETS peserta didik akan membaca akan dapat dengan segera menetahui cakupan pendidikan itu sendiri. Pendidikan SETS di usulkan agar peserta didik dapat mengetahui tiap – tiap unsur SETS dan juga mengerti tentang antar hubungan elemen – elemen ( unsur – unsur ) SETS. Selain itu SETS akan membimbing peserta didik agar berpikir secara global/keseluruhan dan bertindak memecahkan masalah local lingkungan, baik lingkungan local maupun hubungan lingkungan segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat dan berperan serta  dalam pemecahan masalah internasional sesuai kapasitasnya ( Binadja, 1999 : 2 )

Pendekatan SETS sekurang-kurangnya dapat membuka wawasan peserta didik untuk memahami hakikat pendidikan sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat (SETS) secara utuh. Hal ini ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik. Menurut Binadja 2001: 1) secara mendasar dapat dikatakan bahwa melalui pendekatan SETS diharapkan siswa memiliki kemampuan memandang sesuatu secara terintegratif dengan memperhatikan keempat unsur SETS, sehingga memperoleh pemahaman yang mendalam tentang pengetahuan yang dimiliki.

  1. 1. Tujuan pendekatan SETS

Dari keterangan – keterangan sebelumnya di harapkan bahwa program SETS sekurang – kurangnya dapat membuka wawasan peserta didik memahami hakikat pendidikan Sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat ( SETS ). Secara utuh, pendidikan Sains di tujukan untuk membantu peserta didik mengetahui Sains, perkembanganya dan bagaimana perkembangan Sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi, dan masyarakat secara timbale balik. ( Binadja, 2001 : 3 )

Fokus pengajaran SETS haruslah mengenai bagaimana cara membuat peserta didik agar dapat melakukan penelidikan untuk mendapatkan pengetahuan yang berkaitan dengan Sains, lingkungan, Teknologi, dan masyarakat yang saling berkaitan. Meminta peserta didik melakukan penyelidikan, berarti memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan lebih jauh pengetahuan yang telah mereka peroleh agar mereka dapat menyelesaikan masalah – masalah yang di perkirakan akan timbul di sekitar kehidupannya. Pengajaran SETS tampaknya bukanlah suatu tugas yang ringan bagi guru, tetapi pengajaran ini sangat berguna dan patut di beri perhatian. ( Binadja, 2001 : 4 )

Tujuan utama pendidikan SETS ialah bagaimana membuat agar SETS dapat menolong manusia. Di mana ada persamaan hak bagi seluruh manusia di dunia tanpa membedakan ras dan kekayaan. SETS sesungguhnya harus dapat menolong setiap Negara untuk mencapai kemakmuran bagi seluruh warga negaranya. Tujuan yang ideal ini mungkin sulit di capai tetapi kemungkinanya tetap ada. Sebagaimana kita ketahui bahwa semua manusia mengharapkan kemakmuran untuk kepuasan pribadi. Inilah untuk mencapai kepuasan, dengan mengikuti norma – norma masyarakat.

Dalam memberikan pengantar Pendidikan SETS kepada peserta didik, setiap guru harus dapat menciptakan variasi pendekatan atau konsep pembelajaran yang disesuaikan tingkat kemampuan maupun obyektivitas dari pendidikan SETS itu sendiri. Perlu diingat bahwa tidak tertutup kemungkinan seorang siswa memiliki peluang lebih besar untuk mengalami sesuatu topik masalah secara lebih nyata dibanding dengan gurunya. Apabila hal itu terjadi, para guru hendaknya tidak merasa berkecil hati, justru merasa lebih tertantang dengan kondisi yang ada untuk belajar lebih keras dan mencoba mendahului kemampuan muridnya dengan tujuan positif. Jangan sampai terjadi karena muridnya diketahui lebih cepat dapat mengakses pengetahuan yang ada, seorang guru menjadi tidak suka atau antipati kepada muridnya. Segi baik lainnya adalah setiap murid secara perorangan dapat mengoptimalkan pengetahuan yang dimilikinya untuk bekerja sama dengan temannya dalam proses Pendidikan SETS. Hal ini mengandung arti murid yang bersangkutan telah belajar bagaimana bersosial masyarakat. Hakekat SETS dalam pendidikan merefleksikan bagaimana harus melakukan dan apa saja yang bisa dijangkau oleh pendidikan SETS.

Pendidikan SETS harus mampu membuat peserta didik yang mempelajarinya baik siswa maupun warga masyarakat benar-benar mengerti hubungan tiap-tiap elemen dalam SETS. Hubungan yang tidak terpisahkan antara sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat merupakan hubungan timbal balik dua arah yang dapat dikaji manfaat-manfaat maupun kerugian-kerugian yang dihasilkan. Pada akhirnya peserta didik mampu menjawab dan mengatasi setiap problem yang berkaitan dengan kekayaan bumi maupun isu-isu sosial serta isu-isu global, hingga pada akhirnya bermuara menyelamatkan bumi. ( Utomo, 2010 )

2.   Cakupan pendidikan SETS

Pendidikan SETS akan mencakup topik dan konsep yang berhubungan dengan Sains, lingkungan, teknologi dan hal – hal yang berkenaan dengan masyarakat. Inti tujuan SETS adalah agar pendidikan ini dapat membuat pelajar/siswa mengerti unsur-unsur utama SETS serta keterkaitan antar unsure tersebut pada saat mempelajari sains. Dengan kata lain di perlukan pemikiran yang kritis untuk belajar setiap elemen SETS dengan memperhatikan berbagai keterhubungan anatara unsur-unsur SETS tersebut. (Binadja, 2001: 13).

Pendidikan SETS bukan suatu hal yang mengada – ngada. SETS membahas tentang hal – hal nyata yang dapat di pahami, dapat di lihat dan di bahas. Apabila kita membicarakan unsur – unsure SETS secara terpisah ini berarti bahwa kita sedang memberi perhatian khusus pada unsure SETS tersebut. Selanjutnya dari unsur ini kita mencoba menghubungkan keberadaan konsep sains dalam semua unsur SETS agar kita bisa mendapatkan gambaran umum dari peran konsep tersebut dalam unsur – unsur SETS yang lainnya itu. Apabila kita dapat melihat semua unsur itu dari luar, maka kita akan menyadari betapa pentingnya menggabungkan pecahan unsur – unsur tersebut untuk mendapatkan konsep total tentang SETS. .(Binadja, 2001: 14).

Untuk siswa hal yang perlu di ajarkan adalah : .(Binadja, 2001: 15).

  1. Menghubungkan konsep Sains yang di pelajari dengan unsure lain dalam SETS.
  2. Penekanan hendaknya di berikan pada nilai pendidikan SETS
  3. Penerapan konsep sains pada bidang teknologi dengan mengikuti urutan SETS.
  4. Materi pengajaran yang relevan untuk STS atau untuk serta pendidikan lingkungan dapat diadopsi akan tetapi dengan penyesuain seperlunya sehingga memenuhi harapan pendidikan SETS.

Dalam sistem pengenalan konsep – konsep SETS yang perlu di perkenalkan di harapkan memperhatikan sejumlah hal berikut :

  1. Subjek sains yang ada dalam kurikulum yang di perkenalkan dalam system pendidikan yang ada dengan mempertimbangkan perlunya mengaitkan konsep yang ada ke dalam  unsure SETS yang lain.
  2. Material yang dapat menyentuh minat dalam pengembangan karier di bidang sains.
  3. Berbagai contoh konsep dengan penerapannya dalam bentuk teknologi serta berbagai dampaknya, positif atau negative terhadap lingkungan maupun masyarakat, serta pada bidang teknologi itu sendiri.
  4. Penyajian materialnya hendaknya mengikuti urutan dari prasyarat ke yang utama. Material STS serta pendidikan lingkungan dapat di perkenalkan asalkan topik yang di ajarkan itu relevan dengan topik SETS yang di perkenalkan.

Sedangkan untuk siswa non Sains, yang belum di perkenalkan SETS yang perlu di pelajari oleh para siswa hendaknya memperhatikan hal – hal berikut :

  1. Sebaiknya di perkenalkan subjek sains yang telah ada di dalam kurikulum kepada peserta didik non sains yang di perkenalkan tersebut dengan unsur lingkungan, teknologi dan masyarakat.
  2. Di berikan mata pelajaran yang dapat menyentuh rasa kepedulian tentang keberadaab sains.
  3. penyajian materialnya hendaknya memgikuti urutan dari prasyarat ke yang utama.
  4. Bila SETS di perkenalkan melalui subjek yang berbeda, hendaknya peserta didik dapat segera mengetahui apa yang sedang di perkenalkan melalui materi pengajaran yang relevan.

3. Ciri – ciri pendekatan SETS

1)      Tetap memberi pengajaran sains

2)      Murid di bawa ke situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat.

3)      Murid di minta untuk berfikir tentang berbagai kemungkinan akibat yang terjadi dalam proses penstranferan sains tersebut ke bentuk teknologi.

4)      Murid di minta untuk menjelaskan keterkaitan antar unsur sains yang di bincangakan dengan unsur – unsur lain dalam SETS yang mempengaruhi berbagai keterkaitan antar unsure tersebut.

5)      murid di bawa untuk mempertimbangkan manfaat atau kerugian dari pada menggunakan konsep sains tersebut bila di ubah dalam bentuk teknologi berkenaan.

6)      Dalam konteks konstruktivisme, murid dapat di ajak berbincang tentang SETS dasar yang di miliki siswa bersangkutan dan berbagai macam arah dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan.

4. Pendekatan SETS yang berhubungan dengan topik – topik sains

Untuk memiliki kemampuan menghubungkan antara topik sains dapat di kaitkan dengan SETS, sebenarnya di perlukan kepekaan seorang guru sains. Setiap kali kita perlu menanyakanya pada diri kita sendiri sejumlah pertanyaan berikut : .(Binadja, 2001: 25).

  1. Apa kegunaan konsep ini untuk masyarakat ?
  2. Apakah akibat pengembangan konsep sains tersebut kepada teknologi ?
  3. Teknologi apa yang di buat dengan konsep sains tertentu ?
  4. Bagaimanakah kesan masyarakat terhadap teknologi yang di kembangkan tersebut ?
  5. Bagaimanakah lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan teknologi dan sains?
  6. Bagaimanakah bentuk pengaruh tersebut terhadap perkembangan sains dan teknologi.
  7. Bagaimanakah masyarakat secara langsung mempengaruhi perkembangan sain dan teknologi.

C. Defenisi Strategi pembelajaran

Strategi pembelajaran merupakan rencana dan cara-cara membawakan pembelajaran yang merupakan pola dan urutan perbuatan guru-murid yang tersusun dalam suatu rangkaian bertahap agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala tujuan pengajaran dapat tercapai secara efektif              (Gulo, 2002 : 46 ).

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis – garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah di temukan. Dalam pengertian lain strategi belajar mengajar adalah tindakan nyata dari guru atau praktek guru melaksanakan pengajaran melalui cara tertentu yang di nilai lebih efektif dan lebih efesien ( Sudjana, 2002 : 147 ). Dan Otiyanah ( 2009 ) dalam Trianto mendefenisikan strategi belajar sebagai tindakan khusus yang di lakukan oleh seseorang untuk mempermudah, mempercepat, lebih menikmati, lebih memahami secara langsung, lebih efektif dan lebih mudah ditranfer ke dalam situasi yang baru.

Dari beberapa pendapat di atas mengenai pengertian strategi belajar, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa strategi belajar mengajar adalah suatu upaya atau rencana yang di tempuh oleh guru dan siswa dalam menciptakan suasana belajar yang memungkinkan untuk melaksanakn kegiatan belajar mengajar dalam mencapai tujuan tertentu.

Untuk mengajarkan startegi belajar kepada siswa terdapat beberapa hal yang harus di perhatikan, yaitu :

  1. Memberitahukan siswa bahwa mereka akan di ajak ke suatu strategi pembelajaran, agar perhatian terfokus.
  2. Menunjukan hubungan positif penggunaan strategi belajar terhadap prestasi belajar dan memberitahukan perlunya kerja pikiran ekstra untuk membuahkan prestasi yang tinggi.
  3. Menjelelaskan dan memperagakan strategi yang di ajarkan.
  4. Menjelaskan kapan dan mengapa suatu strategi belajar di gunakan.
  5. Memberikan penguatan terhadap siswa yang memakai strategi belajar
  6. Memberikan umpan balik saat menguji materi dengan strategi belajar tertentu, dan.
  7. Mengevaluasi penggunaan strategi belajar, dan mendorong siswa  untuk melakukan evaluasi mandiri (Otiyanah, 2009 : 12).

D. Pengertian Belajar dan hasil Belajar

Belajar adalah seperangakat kegiatan, terutama kegiatan mental intelektual, mulai dari kegiatan yang paling sederhana sampai kegaiatan yang rumit. ( Gulo, 2002 : 73 ). Pada tahap pertama, kegiatan ini tampak seperti kegiatan fisik dalam arti kegiatan melihat, mendengar, meraba, dengan alat – alat indera manusia. Kegiatan ini di lakukan untuk melakukan kontak dengan stimulus atau bahan yang di pelajari. Akan tetapi, kegiatan belajar tidak terhenti sampai di sini. Proses melihat tidak terhenti pada telinga, tetapi di terusakan pada struktur kognitif orang yang bersangkutan.

Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata , proses situ terjadi pada diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud dengan belajar bukan tingkah laku yang nampak, tetapi proses terjadi secara internal di dalam diri indvidu dalam mengusahakan memperoleh hubungan- hubungan baru. Agar belajar dapat diperoleh hasil yang baik, siswa harus mau belajar sebaik mungkin. Supaya mereka mau belajar dengan baik yaitu belajar dengan baik dan teratur secara sendiri- sendiri, kelompok dan berusaha memperkaya bahan pelajaran yang diterima di sekolah dengan bahan pelajaran ditambah dengan usaha sendiri.

Belajar mengajar suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperabgkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Selaku suatu sistem, belajar mengajar meliputi suatu komponen, anatara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi.

Belajar dengan baik dapat diciptakan , apabila guru dapat mengorganisir belajar siswa, Sehingga minat dan motivasi belajar dapat ditumbuhkan dalam suasana kelas yang menggairahkan tugas siswa mengorganisir terletak pada si pendidik, oleh sebab itu bagaimana cara membantu si pendidik dalam menggunakan alat pelajaran yang ada. Belajar merupakan aktivitas atau usaha perubahan tingkah laku yang terjadi pada dirinya atau diri individu.

Perubahan tingkah laku tersebut merupakan pengalaman- pengalaman baru. ( Dahar, 1989 : 11 ).Dengan belajar individu mendapatkan pengalaman- pengalaman baru. Perubahan dalam kepribadian yang menyatakan sebagai suatu pola baru dan pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Untuk mempertegas pengertian belajar penulis akan memberikan kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses lahir maupun batin pada diri individu untuk memperoleh pengalaman baru dengan jalan mengalami atau latihan.

1 . Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Belajar

Telah dikatakan dimuka bahwa belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian, ilmu pengetahuan. Sampai dimanakah perubahan itu dapat dicapai atau dengan kata lain dapat berhasil baik atau tidaknya belajar itu tergantung pada macam- macam faktor. Adapun faktor- faktor itu, dapat dibedakan menjadi dua golongan  ( Purwanto, 1992 : 102 ) yaitu:

a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut faktor individu.

b. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan faktor sosial.

Berdasarkan faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar di atas menunjukkan bahwa belajar itu merupakan proses yang cukup kompleks. Aktivitas balajar individu memang tidak selamanya menguntungkan. Kadang- kadang juga tidakllancar., kadangmudah menangkap apa yang dipelajari, kadang sulit mencerna materi pelajaran. Dalam keadaan dimana anak didik/ siswa dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut kesulitan belajar.

2 . Hasil belajar siswa

Hasil belajar siswa dapat di ketahui melalui evaluasi. Evaluasi berasal dari kata evaluation dalam bahasa inggris dan di serap ke dalam bahasa Indonesia dengan tujuan mempertahankan kata aslinya dengan sedikit penyesuain lafal Indonesia “ evaluasi “ yang berarti kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu yang selanjutnya informasi tersebut di gunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan.

Menurut Arikunto ( 1995 : 21 ) membedakan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ada dua jenis yaitu : faktor dari dalam diri manusia itu sendiri ( faktor internal ) dan faktor yang berasal dari luar diri manusia             ( faktor eksternal ). Faktor internal meliputi faktor biologis ( usia, kesehatan ) dan faktor psikologis ( motivasi, minat dan kebiasaan belajar ). Sedangkan faktor eksternal terdiri atas faktor manusia ( keluarga, sekolah dan masyarakat ) dan faktor non manusia ( udara, suara, dan sebagainya ).

Di muka telah di katakan bahwa belajar merupakan suatu proses dan sudah barang tentu harus ada yang di proses ( masukan atau input ). Jadi dalam hal ini kita dapat menganalisis kegiatan belajar itu dengan pendekatan analisis sistem. Dengan pendekatan analisis sistem ini sekaligus kita dapat melihat adanya berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Dengan pendekatan sistem kegitan belajar dapat di gambarkan sebagai berikut :

Gambar 2 : Bagan kegitan belajar

Di samping itu, masih ada lagi faktor lain yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar ( Purwanto 2004 : 107 ) pada setiap orang dapat  di ikhtisar sebagai berikut :

Alam

Lingkungan                 sosial

Luar                                               kurikulum /  bahan pelajaran

Instrumen                        guru / pengajar

Faktor                                                                    sarana dan fasilitas

Administrasi / manajemen

Fisiologi                        kondisi fisik

Dalam                                                       kondisi panca indera

Bakat

Psikologi                     minat

Kecerdasan

Motivasi

Kemampuan kognitif

Gambar 3 : Bagan  proses dan hasil belajar

Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran. Hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Menurut Munawar ( 2010 ) hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran. Hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut :

1. Ranah Kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.

2. Ranah Afektif

Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.

3. Ranah Psikomotor

Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengamati).

Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi.

Selain itu faktor yang mempengaruhi hasil belajar atas factor luar dan factor dalam. Factor luar terdiri atas lingkungan ( alam dan sosial ) dan instrumental ( kurikulum, program, sarana dan fasilitas serta guru ). Adapun faktor dalam terdiri atas fisiologi ( kondisi fisiologi umum dan kondisi panca indera ) dan psikologi ( minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan kognitif ). ( Sumadi, 1989 : 7 ).

E. Konsep Ekosistem

Organisme hidup di dalam sebuah sistem yang di topang oleh berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling berpengaruh, baik secara langsung  atau tidak langsung. Kehidupan semua jenis makhluk hidup yang saling mempengaruhi serta berinteraksi dengan alam membentuk kesatuan yang di sebut ekosistem. Cabang biologi yang mempelajari ekosistem adalah ekologi

Ekologi berasal dari bahasa yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu eikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi kita mempelajari makhluk hidup sebagai bagian kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. ( Pratiwi, 2007 : 268 )

Pembahasan ekologi tidak terlepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik adalah faktor lingkungan antara lain suhu, kelembabab, cahaya dan topografi. Faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan dan mikroorganisme.

1. Komponen Ekosistem
Berdasarkan sifatnya, ekosistem tersusun atas dua komponen utama yaitu :

a. Faktor Biotik

Faktor biotik adalah faktor yang meliputi semua makhluk hidup di bumi.

Dalam ekosistem tumbuhan berperan sebagai produsen; hewan berperan sebagai konsumen; dan mikroorganisme  berperan sebagai pengurai. Faktor biotik juga meliputi tingkatan organisasi dalam ekologi yang meliputi :  individu, populasi, komunitas, ekosistem dan biosfer.

Individu merupakan organisme yang hidup berdiri secara fisiologis bersifat bebas atau tidak mempunyai hubungan organik  dengan sesamanya. jadi individu merupakan sebutan untuk satu makhluk hidup tunggal, misal sebatang padi, seekor harimau, dan lain – lain.

Populasi merupakan kumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah dan waktu tertentu. Contohnya; populasi  monyet di kebun binatang Surabaya, Jawa Timur pada bulan januari-maret 2008 sebanyak 30 ekor. Populasi dapat berubah setiap saat. Perubahan populasi dipengaruhi oleh faktor kelahiran, kematian, dan migrasi. Perubahan ukuran dalam populasi disebut dinamika populasi .

Komunitas merupakan kumpulan dari beberapa populasi yang berbeda dari hewan dan tumbuhan yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.

Ekosistem merupakan satu kesatuan makhluk hidup dengan lingkungannya atau merupakan hubungan timbal balik antara biotik dan abiotik yang saling mendukung kehidupan makhluk hidup tersebut di suatu wilayah, contoh ekosistem hutan gugur, ekosistem padang rumput.

Bioma, adalah salah satu komunitas utama dunia, diklasifikasikan berdasarkan vegetasi yang dominan dan ditandai oleh adaptasi organisme terhadap lingkungan tertentu tersebut. Bioma merupakan gabungan antara faktor biotik dan abiotik. Jadi bioma merupakan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Bioma secara garis besar terbagi berdasarkan letak geografis wilayah tersebut.

b.      Faktor Abiotik

Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia yang mempengaruhi ekosistem. Misalnya:

-  Air

Air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji. Bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain misalnya transportasi, mandi, memasak, dan merupakan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan bebatuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.

-   Suhu

Suhu merupakan salah satu syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu. Missal : Pingguin hanya bisa hidup di kutub utara yang memilki suhu 00C sampai minus 150C.

-   Sinar matahari

Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara Global karena matahari menentukan suhu lingkungan. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.

-  Tanah

Tanah merupakan tempat hidup bagi oranisme darat. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup di dalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.

-  Angin

Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan, juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu. Misal : angin membantu pemencaran biji tumbuhan paku-pakuan, membatu penyerbukan bunga rumput, dan lain – lain.

Terdiri atas

Berdasarkan sifatnya                                                        Berdasarkan fungsinya

Faktor biotik

Perlu dilakukan

Terjadi

karena adanya

Terlihat dalam                               antara lain

Di atasi dengan

Gambar 4 : Bagan Peta konsep ekosistem

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A. Waktu dan tempat penlitian
    1. Tempat penelitian

Penelitian ini di laksanakan di kelas X SMA Negeri 5 Kota Cirebon.

  1. Waktu penelitian

Penelitian ini di laksanakan selama dua bulan. Waktu penelitian pada semester II Tahun ajaran 2009 / 2010 pada bulan April  sampai Juni 2010. penelitian ini di laksanakan pada saat proses belajar mengajar        ( KBM ) berlangsung yaitu pada saat mata pelajaran biologi di SMA Negeri 5 Kota Cirebon.

B. Langkah – langkah penelitian

  1. 1. Sumber  data
  2. Sumber data teoritis

Sumber data teoritis ini di peroleh dari buku – buku pustaka yang relevan sesuai dengan kajian penelitian yang penulis lakukan yaitu mengenai Strategi TANDUR dan Pendekatan SETS.

b.   Sumber data empirik

Data empirik ini di peroleh berdasarkan pengamatan dan penelitian langsung di SMA Negeri 5 Kota Cirebon.

2. Populasi dan Sampel

  1. Populasi

Populasi penelitian menurut Arikunto (2004:115) adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1984:70) populasi penelitian adalah seluruh individu yang akan dikenai sasaran generalisasi dan sampel-sampel yang akan diambil dalam suatu penelitian. Menurut Margono          ( 1997 : 118 ) populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Dari ketiga pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa yang di maksud dengan populasi yaitu kumpulan semua hal yang ingin di ketahui dalam penelitian.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X, kelas XI dan kelas XII SMA Negeri 5 Kota Cirebon.

  1. Sampel

Sampel penelitian menurut Arikunto (2004:117) adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini sampel diambil dengan menggunakan sampel random dengan sistem undian dengan maksud agar setiap kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel dalam penelitian. Adapun tekniknya dengan mengundi gulungan kertas sejumlah kelas yang didalamnya tertulis nomor kelas, sehingga didapatkan satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol.

Menurut Margono ( 1997 : 121 ). Yang di maksud dengan sampel adalah sebagian dari populasi. Masalah sampel dalam suatu penelitian timbul di sebabkan hal berikut :

-          Penelitian bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dari besarnya jumlah populasi, sehingga harus meneliti sebagian saja dari populasi.

-          Penelitian bermaksud mengadakan genereralisasi dari hasil – hasil penelitianya, dalam arti mengenakan kesimpulan – kesimpulan objek, gejala, atau kejadian yang lebih luas.

Sampel dalam penelitian ini adalah kelas X1 dan X2 SMA Negeri 5 Cirebon.

3. Teknik pengumpulan data

Untuk memperoleh data dan informasi dari masalah yang diteliti, maka digunakan teknik-teknik pengumpulan data sebagai berikut :

a. Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara meakukan pengamatan langsung kelapangan. Observasi di gunakan untuk  penelitianta dari objek penelitian secara langsung.

Teknik observasi di lakukan dengan mengamati aktifitas siswa selama proses pembelajaran yang di lakukan dengan mengunakan Stratrgi TANDUR bervisi pendekatan SETS.

Hal ini merupakan teknik pengumpulan data yang sederhana dan tidak memerlukan keahlian yang luar biasa, sehingga dengan observasi ini bisa langsung memperoleh data yang diperlukan sesuai dengan objek yang diteliti, yakni observasi (pengamatan langsung) proses kegiatan belajar mengajar guru di kelas.
b. Angket

Angket adalah suatu teknik dalam penelitian dengan cara membagikan brosur pertanyaan yang tertulis (Winarno, 1978: 240). Teknik ini dilakukan dengan cara membagikan pertanyaan tertulis kepada guru dan siswa, untuk menilai keadaan siswa yang diteliti.

Skala yang di gunakan adalah skala likret, dengan ketentuan skor jika jawaban SS ( Sangat setuju ) = 1, S ( Setuju ) = 2 , TS ( Tidak setuju ) = 3, dan STS ( Sangat tidak setuju ) = 5

c. Metode Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. ( Arikunto, 2004:127).

Teknik ini di gunakan untuk mengukur kemampuan dan pencapaian hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini metode tes digunakan untuk mengetahui hasil prestasi belajar siswa. Dalam penelitian ini penulis menggunakan tes objektif        ( pilihan ganda ) mata pelajaran biologi, dengan jumlah soal sebanyak 40 butir soal dan Esay 5 butir.

d. LKS

Lembar kegiatan siswa ( LKS ) adalah lembaran – lembaran berisi tugas yang harus di kerjakan peserta didik. Lembar kegiatan ini di buat guru untuk kegiatan siswa sesuai dengan langkah – langkah LKS. KLS ini bertujuan untuk mengukur hasil belajar sehari – hari.

4. Desain  Penelitian

  1. 1. Desain Penelitian

Menurut Arikunto (2004:85-88) mengkategorikan desain eksperimen murni menjadi 8 yaitu control group pre-test post test, random terhadap subjek, pasangan terhadap subjek, random pre test post test , random terhadap subjek dengan pre test kelompok kontrol post test kelompok eksperimen, tiga kelompok eksperimen dan kontrol, empat kelompok dengan 3 kelompok kontrol, dan desain waktu.

Menurut Sutrisno (1982:441) mengkategorikan desain eksperimen menjadi enam yaitu simple randomaized, treatment by levels desaigns, treatments by subjects desaigns, random replications desaigns, factorial designs, dan groups within treatment designs. Desain penelitian eksperimen murni menjadi dua yaitu pre test post test kelompok kontrol dan post tes kelompok kontrol.

Dalam penelitian eksperimen murni, desain penelitian yang popular digunakan adalah sebagai berikut:

  1. a. Control Group Post test only design atau post tes kelompok kontrol

Desain ini subjek ditempatkan secara random kedalam kelompok-kelompok dan diekspose sebagai variabel independen diberi post test. Nilai-nilai post test kemudian dibandingkan untuk menentukan keefektifan tretment.

Desain ini cocok untuk digunakan bila pre test tidak mungkin dilaksanakan atau pre tes mempunyai kemungkinan untuk berpengaruh pada perlakuan eksperimen. Desain ini akan lebih cocok dalam eksperimen yang berkaitan dengan pembentukan sikap karena dalam eksperimen demikian akan berpengaruh pada perlakuan.

  1. b. Pre test post test control group design atau pre tes post tes kelompok kontrol

Desain ini melibatkan dua kelompok subjek, satu diberi perlakuan eksperimental (kelompok eksperimen) dan yang lain tidak diberi apa-apa (kelompok kontrol). Dari desain ini efek dari suatu perlakuan terhadap variabel dependen akan di uji dengan cara membandingkan keadaan variabel dependen pada kelompok eksperimen setelah dikenai perlakuan dengan kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.

  1. c. Solomon four group design

Desain ini menuntut penempatan subjek secara random kedalam empat kelompok. Pada kelompok 1 dan 2 diberi pre tes dan post test dan hanya kelompok 1 dan 3 yang dikenai perlakuan eksperimen.Kelemahannya adalah memerlukan subjek dua kali lipat jumlah subjek untuk desain eksperimen.

Pada penelitian ini telah ditetapkan kelompok yang diteliti maka langkah selanjutnya adalah mengadakan perlakuan pada kelompok sampel. Pada proses pembelajaran kedua kelompok memperoleh perlakuan yang berbeda. Kelompok SETS memperoleh pembelajaran dengan pendekatan SETS, sedangkan kelompok NONSETS memperoleh pembelajaran dengan pendekatan NONSETS. Oleh karena itu perubahan yang terjadi pada sampel setelah perlakuan disebabkan oleh perlakuan-perlakuan dalam proses pembelajaran tersebut. Pada akhir pembelajaran kedua kelompok melakukan tes hasil belajar yang digunakan untuk membandingkan kelompok mana yang memiliki hasil belajar yang lebih baik.

Dalam penelitian ini digunakan desain Pre Tes Post Test Control Group. Desain penelitian eksperimen  yang digunakan adalah sebagai berikut:

Tabel 1 . Desain Penelitian

Kelompok Pre-test Perlakuan Post-test
KE K – 1 Strategi TANDUR bervisi SETS K –2
KK K – 1 Ceramah, diskusi informasi K – 2

Keterangan :

KE       : Kelompok Eksperimen

KK      : Kelompok Kontrol

K-1      : Pre Test

K-2      : Post Test

Gambar 5 : Bagan Alur penelitian

5. Teknik pengolaan data

a. Pengujian Instrumen

1. Uji Validitas

Menurut Arikunto (2004: 144) menyatakan : Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat valid dari suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid mempunyai   validitas yang tinggi. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur  apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat.

Adapun yang digunakan untuk menguji validitas tes adalah korelasi product moment. Suatu instrumen tes dikatakan valid jika koefisien korelasi antara skor tiap-tiap item lebih besar dari kooefisien korelasi tabel (rxy > rTabel­).

( Arikunto, 1992 : 69 )

dimana :

rxy = kooefisien korelasi

X            = nilai hasil ujian

Y            = Skor total seluruh responden

N            = Banyak siswa

Nilai hasil perhitungan dikonsultasikan ke tabel harga kritik product moment sehingga dapat diketahui signifikan tidaknya korelasi tersebut. Jika harga r hitung lebih kecil dari harga kritik tabel maka korelasi tidak signifikan. Jika harga r hitung lebih besar dari harga kritik tabel maka korelasi tersebut signifikan atau instrumen tersebut valid ( Arikunto , 2004 : 72).

Tabel 2. Koefesien Validitas

No Nilai r interpretasi
1 0,80 < r 1,00 Sangat tinggi
2 0,60 < r 0,80 Tinggi
3 0,40 < r 0,60 sedang
4 0,20 < r 0,40 rendah
5 0,00 < r 0,20 Sangat rendah
6 r 0,00 Tidak valid

2. Uji Reliabilitas

Untuk mengetahui reliabilitas soal objektif digunakan rumus :

r11 =

Keterangan :

r11             : Reabilitas secara keseluruhan.

p : Proporsi subjek menjawab item dengan  benar

q : Proporsi subjek menjawab item dengan  salah ( q = p – 1)

pq : Jumlah hasil perkalian antara p dan q

n : jumlah item

s : Standar deviasi dari tes/ akar dari varian

( Arikunto, 2004 : 98)

Setelah diperoleh harga r11 kemudian dikonsultasikan  dengan tabel harga r product moment. Apabila harga r11 lebih besar dari harga r tabel maka dikatakan isntrumen tersebut reliabel. Sedang untuk menghitung variannya di gunakan rumus sebagai berikut :

σ=

Di mana : σ=  Varian

X =   Butir soal

N  =  Banyaknya sampel  ( Arikunto, 2004 : 178 )

Tabel 3. Interpretasi Reliabilitas

Nilai r interpretasi
0,80 < r 1,00 Sangat tinggi
0,60 < r 0,80 Tinggi
0,40 < r 0,60 sedang
0,20 < r 0,40 rendah
0,00 < r 0,20 Sangat rendah

3.Tingkat Kesukaran

Taraf kesukaran soal menyatakan beberapa bagian dari siswa yang dapat menjawab dengan benar suatu butir soal. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya.

Untuk menentukan derajat kesulitan digunakan rumus sebagai berikut:
P = B / JS
dengan :
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar
Js = Jumlah siswa peserta tes
Kriteria harga P adalah sebagai berikut :
Antara  0,00<P0,30= sukar
Antara 0,30<P0,70= sedang
Antara 0,70<P1,00= mudah
( Arikunto, 2004 : 210)

Sedangkan di bagian lain menurut Arikunto (2004:170-171) menerangkan reliabilitas adalah instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen itu sudah baik. Instrumen yang reliable berarti instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu mengungkap data yang bias dipercaya. Dalam penelitian ini untuk mengukur reliabilitas instrumen digunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut:

dengan keterangan:

r11           : reliabilitas  instrumen

r1/21/2 :  rxy yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belahan instrument.

4. Daya pembeda

Daya beda adalah kemampuan setiap butir soal untuk memisahkan siswa yang sangat mahir/ pandai dari siswa yang kurang mahir. Untuk mengetahui daya beda dari suatu item tes, terlebih dahulu dihitung besarnya proporsi kelompok atas yang menjawab benar dan proporsi kelompok bawah yang menjawab benar. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

dengan = DP = JA – JB

keterangan :

DP = Daya beda

JA = banyaknya peserta kelompok atas

JB = banyaknya peserta kelompok bawah

BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar

BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar

Menurut Arikunto ( 2004 : 216 ) Kriteria harga Daya pembeda adalah sebagai berikut :

Antara 0,00 -  0,20 = Buruk

Antara 0,21 -  0,40 = Cukup

Antara 0,41 -  0,70 = Baik

Antara 0,71 -  1,00 = Baik sekali

Item tes yang digunakan adalah item tes yang memiliki kriteria daya beda buruk  dengan prosentase 53,30 %, item tes dengan kriteria daya beda cukup sebesar 37,78 %, item tes dengan kriteria daya beda baik sebesar 8,89 % dan item tes dengan kriteria daya beda baik sekali sebesar 0 %. Semua kriteria itu tetap dipakai dengan catatan memenuhi syarat kevalidan instrumen.

b. Analisis data

Masalah dalam penelitian ini adalah penerapan pendekatan SETS untuk meningktkan prestasi belajar siswa maka Sebelum dilakukan analisis data guna membuktikan hipotesis yang telah diajukan dilakukan pengujian prasarat analisis yang meliputi :

1. Uji Normalitas

Syarat agar analisis varian dapat diterapkan adalah terpenuhinya sifat normalitas pada distribusi  populasi. Untuk mennguji apakah data yang diperoleh berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak digunakan uji normalitas.

Menurut Arikunto ( 2004 : 255 ) untuk mengiji frekuensi dengan uji chi kuadrat dengan rumus yang di gunakannya yaitu :

dengan :

Chi kuadrat

= frekuensi yang di harapkan yaitu hasil kali antara 2 dengan N dengan luas di bawah kurva normal  interval yang bersangkutan

= frekuensi observasi yaitu banykanya frekuensi dalam tiap kelas interval.

Kriteria pengujian untuk taraf nyata membandingkan dengan  dengan cara membandingkan harga dengan derajat kebebasan ( dk ) = k-1 di mana k adalah bannyaknya kelas criteria pengujianya adalah :

Jika = distribusi data tidak normal

Jika = distribusi data normal

2. Uji Homogenitas

Pengujian homogenitas di lakukan untuk mengetahui apakah sampel satu dengan lainnya memiliki persamaan atau tidak. Untuk menguji tingkat homogenitas di gunakan uji F dengan rumus sebagai berikut :

Dimana :  = Varians gabungan

= Varians tiap kelompok data

db     = n – 1 = derajat kebebasan tiap kelompok.

( Soemantri, 2006 : 295 )

3. Indeks Gain

Indeks gain di perlukan untuk memperoleh nilai gain kelas eksperimen dan kontrol kemudian di gunakan untuk pengujian hipotesis adapun rumus indeks gain yang di gunakan adalah sebagai berikut :

4. Uji T

Menurut Bambang ( 2008 : 8 )  Langkah – langkah yang di lakukan adalah sebagai berikut :

a. Pembuatan hipotesis yaitu :

b. Statistis Uji adalah sebagai berikut :

c. Menentukan level of signifikan

d. Menentukan peraturan – peraturan pengujiannya / kriterianya.

Ho di terima apabila   ()        ( )

Ho di tolak apabila   (

5. Uji hipotesis

Uji hipotesis di gunakan untuk menguji hipotesis yang di ajukan dalam penelitian ini yaitu :

Ha : Terdapat peningkatan hasil belajar yang menggunakan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS dalam pembelajaran biologi pokok bahasan ekosistem di SMAN 5 Kota Cirebon.

Ho : Tidak terdapat peningkatan hasil belajar yang menggunakan srategi pembelajaran TANDUR bervisi pendekatan SETS dalam pembelajaran biologi pokok bahasan ekosistem di SMAN 5 Kota Cirebon.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 1995. Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Arikunto, S. 2004 . Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Binadja, Achmad. 2001. Pembelajaran Sains Berdasarkan kurikulum 2004 bervisi dan erpendakatan SETS. Makalah ini disajikan dalam seminar Nasional pendidikan MIPA.Universitas Negeri Semarang.

Dahar, Ratna Wilis.1989. Teori – Teori Belajar. Jakarta : Erlangga

DePorter, Bobbi,dkk, 2000. Quantum Learning, Bandung: Mizan Media Utama

Darsono, Max, dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP  Semarang.Press ali.

Gulo,W. 2002. Strategi belajar mengajar. Jakarta. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Munawar, Indra. http://lembagastudiprofetik.blogspot.com/2009/09/ hasil belajar .html// ( di akses tanggal 21 Januari 2010/ 11: 19)

Margono. 1997. Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Majid, Abdul . 2008. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : Rosda Karya

Mulyasa. E. 2004. Implementasi kurikulum 2004. Panduan pembelajaran KBK : Bandung : Remaja Rosdakarya.

Otiyanah.  2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sub Pokok Bahasan Ekosistem di SMP Negeri 15 Kota Cirebon. Cirebon : STAIN Cirebon.

Pratiwi, D.A, dkk. 2007. Biologi Untuk SMA kelas X. Jakarta : Erlangga

Utomo, Pristiadi. http://ilmuwanmuda.wordpress.com/pembelajaran-fisika-denganpendekatan-sets/.com// ( di akses tanggal 21 Januari 2010 /11: 47 )

Purwanto, Ngalim. 2004. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung : Rosda Karya.

Sumadi, Suryabrata. 1989. Psikologi pendidikan. Jakarta : CV Rajawali

Sudjana, nana.2008. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Somantri dan Muhidin. 2006. Aplikasi Statistik dalam Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia.

Sutrisno Hadi. 1998. Statistik 2, Yogyakarta  : Andi Offset.

Taqiyuddin. 2008. Sejarah Pendidikan. Bandung : Mulia Press

Winarno Surakhmad. 1986. Metodologi Pengajaran Nasional. Bandung : Jemmars.

KATA PENGANTAR

Alhamdullilah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan proposal ini. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya dan kita selaku umatnya.

Dalam penulisan proposal ini, penulis menyadari bahwa terselesainya proposal ini tidak terlepas dari Nur Ilahi Rabbi, serta banyak mendapatkan bimbingan, pengarahan, dan bantuan dari berbagai pihak yang dapat di lupakan. Patutlah di sini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan tak terhingga kepada yang terhormat :

  1. Prof. H. M. Imron Abdullah, M.Ag, ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri ( STAIN ) Cirebon.
  2. Dari. H. Abdulatif, M.Pd, ketua Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri ( STAIN ) Cirebon.
  3. Djohar Maknun, M.Si, ketua program Studi Tadris IPA Biologi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri ( STAIN ) Cirebon.
  4. Ibu Dewi Cahyani, M.Pd yang telah membimbing dan mendidik penulis selama kuliah
  5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Khususnya yang telah membantu secara moril maupun materil.

Karena keterbatasan, penulis tidak dapat menyebutkan satu – persatu. Penulis mengakui bahwa proposal ini masih jauh dari kesempurnaan. Karena keterbatasan keilmuan oleh karena itu demi menyempurnakan makalah ini penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak.

Dengan rasa bangga hati penulis ucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan proposal ini sehingga terselaisaikan.

Cirebon,  November  2009

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Manusia mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan dalam siklus kehidupannya. Pertumbuhan dimaksudkan pada pertambahan ukuran badan dan fungsifisik. Sedangkan perkembangan mengacu pada sifat berkait dengan gejala  psikologis, misalnya kemampuan berpikir dan tingkat emosi. Salah satu fase yang dialami oleh manusia adalah masa pubertas yang berlangsung selama kurang lebih 8 – 10 tahun, berkisar pada usia 11 – 20 tahun. Fase ini disebut juga sebagai fase remaja. Beberapa tanda dimulainya masa ini adalah adanya perubahan fisik, naluri, interaksi sosial dan rasio (Surviani, 2004). Naluri seksual yang mulai berfungsi pada masa pubertas menjadi salah satu ciri yang paling menonjol pada remaja. Tak jarang potensi ini menjadi tidak terarah karena minimnya informasi dan pengetahuan yang mereka miliki.

Sujana dalam Pangesti (2003) menyebutkan bahwa di lima kota besar, Surabaya, Madiun, Malang, Jember dan Kediri menunjukkan 42 % dari 446 responden remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah. Data survey PKBI tahun 1994 (Hadisaputro, 2004) menunjukkan, dari 1485 perempuan usia 15 – 24 tahun yang mencari pelayanan aborsi, 62 %nya adalah remaja yang belum menikah. Fenomena ini terjadi bukan tanpa sebab. Pihak keluarga yang seharusnya menjadi “ sekolah” pertama bagi remaja tidak dapat memfasilitasi kebutuhan mereka akan pendidikan seks secara tepat. Menurut Psikolog Elly Risman dalam Surviani (2004), hal ini disebabkan banyak orang tua tidak siap mempersiapkan anaknya menghadapi informasi. Banyak dari mereka yang tidak siap mengetahui bahwa anaknya lebih siap dan lebih tahu dari mereka. Pada akhirnya anak mencari sarana lain yang bisa memberikan apa yang mereka inginkan.

Melihat kondisi ini, sekolah sebagai rumah kedua bagi remaja hendaknya bisa menjadi jembatan untuk mengatasi kesenjangan ini. Hal inipun dipermudah dengan adanya bahasan mengenai reproduksi manusia dalam materi pelajaran di sekolah. Melalui bahasan inilah pendidikan seks yang tepat dan sesuai dapat kita sampaikan. Pendidikan seks yang tepat menurut dr. Boyke Dian Nugraha adalah pengetahuan kepada anak mengenai cara melindungi diri dari kejahatan seksual, hamil di luar nikah, bahaya aborsi, penyakit kelamin dan bahaya AIDS.

Ketika kurikulum 1994 dilaksanakan, bahasan reproduksi manusia mungkin belum begitu terasa manfaat dan aplikasinya bagi siswa. Cakupan materi yang masih bersifat teoritis dan penyampaian materi yang mengejar target membuat guru agak mengabaikan metode pengajaran yang sebenarnya berpengaruh pada siswa. Penelitian Hanartani dkk (1997) dalam Berita Berkala, menyebutkan bahwa kebutuhan informasi tentang kesehatan reproduksi sangat besar, terutama di kalangan remaja putri. Dari 30 responden, 70%nya masih merasa perlu mendapat pengetahuan reproduksi untuk dirinya. Sayangnya, pihak

sekolah pada masa itu belum dapat memfasilitasi keinginan mereka secara optimal.

Salah satu pilihan dalam pembelajaran sains adalah Pendekatan SETS. Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology and Society) memberi penekanan pada konservasi nilai positif pendidikan, budaya dan agama, sementara tetap maju dalam bidang sains, teknologi dan ekonomi (Binadja, 1999).Pembelajaran dalam pendekatan SETS selalu dihubungkan dengan kejadian nyata yang dijumpai siswa dalam kehidupannya (bersifat kontekstual) dan terintegrasi dalam empat komponen SETS.

B. Rumusan Permasalahan

Berdasarkan uraian latar belakang di atas didapatkan permasalahan apakah penerapan pendekatan SETS pada bahasan Reproduksi Manusia akan memunculkan pengetahuan sikap yang berbeda pada siswa SMA Negeri 4 dan SMAIT Hidayatullah Semarang ?

C. Prosedur Pemecahan Masalah

Berdasarkan Rumusan Permasalahan di atas dapat di lakukan prosedur pemecahan masalahnya yaitu dengan menerapkan pendekatan SETS yang di lakukan oleh guru secara maksimal dan di lakukan tes untuk mengukur sejauh mana keberhasilan siswa dalam belajar serta di berikan penugasan berupa diskusi kelompok yang di hubungkan dengan empat komponen SETS, dan untuk membuat untuk mengetahui pengeyahuan sikap siswa di lakukan dengan angket sikap.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan sikap pada siswa SMA Negeri 4 dan SMAIT Hidayatullah Semarang terhadap bahasan Reproduksi Manusia yang disampaikan dengan pendekatan SETS.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

a. Bagi Siswa

Siswa dapat memahami konsep Reproduksi Manusia karena materi pembelajaran dikaitkan dengan kejadian di sekitar siswa yang di hubungkan dengan aspek SETS.

b. Bagi Guru

  1. Untuk mengetahui hasil belajar dan sikap siswa pada bahasan reproduksi manusia yang disampaikan dengan pendekatan SETS.
  2. Sebagai pertimbangan dalam menggunakan pendekatan SETS sebagai pendekatan untuk menyampaikan materi reproduksi manusia/materi lain yang relevan.

c. Bagi Sekolah

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perbaikan proses pembelajaran untuk menunjang penanganan masalah reproduksi manusia khususnya pada remaja.

d. Bagi Peneliti

Dapat mengetahui sikap siswa terhadap materi Reproduksi Manusia yang disampaikan dengan pendekatan SETS , yang diwakili oleh data dari siswa SMA Negeri 4 dan SMA Islam Terpadu Hidayatullah Semarang ?

F. Sistematika penulisan.

Cover

Kata pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN


  1. Latar belakang masalah

Latar belakang ini di ambil dari suatu fakta permasalahan yang ada Di SMA Negeri 4 dan SMAIT HIDAYATULLAH Semarang.

  1. Rumusan masalah

Rumusan masalah ini di ambil dari latar belakang di atas.

  1. Prosedur pemecahan masalah

Prosedur pemecahan masalah ini membuat langkah – langkah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

  1. Tujuan penulisan

Tujuan penulisan ini untuk memgetahui rumusan masalah yang ada.

  1. Manfaat penulisan

Manfaat penulisan untuk agar berguna bagi siswa, guru, bagi sekolah, dan peneliti.

  1. Sistematika penulisan

BAB II PEMBAHASAN

Pembahasan sesuai dengan rumusan masalah

BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

  1. Kesimpulan
  2. Rekomendasi

DAFTAR PUSTAKA

BAB II

PEMBAHASAN

PENERAPAN PENDEKATAN SETS TERHADAP PENGETAHUAN SIKAP SISWA SMA NEGERI 4 DAN SMAIT HIDAYATULLAH SEMARANG TERHADAP MATERI REPRODUKSI

A. Tinjauan Pustaka

1. Belajar dan Pembelajaran

Belajar mempunyai banyak definisi, baik itu berasal dari ahli pendidikan maupun psikolog. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya (Hamalik, 2003). Purwanto (1997) dalam Robini (2004) berpendapat bahwa, tingkah laku yang berubah karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, misalnya perubahan dalam pengertian, berpikir, ketrampilan, kebiasaan atau sikap.

Definisi belajar di atas, menunjukkan bahwa inti kegiatan belajar adalah adanya perubahan perilaku dari si pembelajar itu sendiri. Belajar harus dapat mendorong subjek pelakunya terlibat dalam proses perubahan ke arah yang lebih baik. Dan akhirnya akantercipta peningkatan kualitas pribadi dan masyarakat. Pembelajaran bagi siswa mempunyai tujuan agar siswa mendapatkan berbagai pengalaman , dan dengan pengalaman itu tingkah lakunya akan meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. Tingkah laku di sini meliputi pengetahuan, ketrampilan, dan norma pengendali sikap/perilaku siswa. Salah satu yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran adalah hasil belajar yang optimal.

Menurut Darsono dkk (2000) faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah :

  1. Kesiapan belajar, adalah kondisi awal kegiatan belajar baik fisik maupun psikologis.
  2. Perhatian, merupakan pemusatan tenaga psikis tertentu pada suatu objek.
  3. Motivasi, adalah kekuatan dalam diri yang mendorongnya melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan.
  4. Keaktifan siswa. Kegiatan belajar adalah kebutuhan siswa, oleh karena itu siswa harus aktif di dalamnya.
  5. Mengalami sendiri. Pemahaman yang mendalam diperoleh siswa jika konsep tidak hanya disampaikan secara teori melainkan juga secara praktis.
  6. Pengulangan. Materi akan tetap diingat oleh siswa jika guru memberikan latihan, artinya siswa mengulangi materi yang telah dipelajari.
  7. Materi pelajaran yang menantang akan mendorong rasa ingin tahu siswa sehingga motivasi siswa akan meningkat.
  8. Balikan dan penguatan. Balikan adalah masukan yang sangat penting untuk siswa dan guru. Sedangkan penguatan adalah tindakan menyenangkan untuk siswa yang berhasil melakukan sesuatu dalam kegiatan belajar.
  9. Perbedaan individual. Tiap individu mempunyai perbedaan, baik fisik, tingkat kemampuan maupun minat belajar. Aspek-aspek ini membutuhkan perhatian agar perkembangannya dapat berlangsung baik, sesuai kemampuan masing-masing. Proses pembelajaran akan berjalan lancar jika komponen di dalamnya saling mendukung, baik guru, siswa, kurikulum, pendekatan, sarana dan lingkungan (Darsono, 2000).

Kata “prestasi belajar” menurut Lukman Ali ( 1996 : 787 ) adalah hasil yang telah di capai ( dari yang telah di lakukan, di kerjakan, dan sebagainya ). Prestasi mencerminkan sejauhmana siswa telah dapat mencapai tujuan yang telah di tetapkan di setiap bidang studi. Gambaran prestasi siswa bisa di nayatakan dengan angka ( 0 s/d 10 ) ( Suharsimi Arikunto, 1993 ). Dari dua defenisi tersebut dapat di simpulkan bahwa prestasi adalah hasil maksimal yang telah di capai dari suatu usaha.

2.Kebiasaan Belajar

Kebiasaan bisa diartikan sebagai hal-hal yang dilakukan berulang-ulang, sehingga dalam melakukan itu tanpa memerlukan pemikiran. Misalnya orang yang terbiasa tidur setelah sholat zhuhur, akan melakukannya setiap hari tanpa begitu memerlukan pemikiran dan konsentrasi yang penuh.
Kebiasaan belajar adalah segenap perilaku siswa yang ditujukan secara ajeg dari waktu-kewaktu dalam rangka pelaksanaan studi di Sekolah.

Perlu diperhatikan bahwa kebiasaan belajar tidaklah sama dengan ketrampilan belajar. kebiasaan belajar adalah perilaku belajar seseorang dari waktu kewaktu dengan cara yang sama, sedang ketrampilan belajar adalah suatu sistem, metode, teknik yang telah dikuasai untuk melakukan studi.
( Suharsimi Arikunto, 1996 : 64 )

Kebiasaan belajar bukan merupakan bakat alamiah yang berasal dari faktor bawaan, tetapi merupakan perilaku yang dipelajari dengan secara sengaja dan sadar selama beberapa waktu. Karena diulang sepanjang waktu, berbagai perilaku itu begitu terbiasakan sehingga akhirnya terlaksana secara spontan tanpa memerlukan pikiran sadar sebagai tanggapan otomatis terhadap sesuatu proses belajar.

4. Faktor-Faktor Yang Menjadi Kendala Bagi Siswa Dalam Meraih Prestasi
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. ditentukan oleh faktor-faktor berikut:

1. Faktor yang ada pada diri siswa:

a. Taraf intelegensi

b. Bakat khusus

c. Taraf pengetahuan yang dimiliki

d. Taraf kemampuan berbahasa

e. Taraf organisasi kognitif

f. Motivasi

g. Perasaan

h. Sikap

i. Minat

j. Konsep diri

k. Kondisi fisik dan psikis.

2. Faktor-faktor yang ada pada lingkungan sekolah
a. Hubungan antara orang tua;
b. Hubungan orang tua-anak;
c. Jenis pola asuh;
d. Keadaan sosial ekonomi keluarga.

3. Faktor-faktor yang ada di lingkungan sekolah
a. Guru; kepribadian guru; sikap guru terhadap siswa; keterampilan didaktik, dan gaya mengajar.
b. Orgaisasi sekolah;
c. Sistem sosial di skeolah;
d. Keadaan fisik sekolah dan fasilitas pendidikan;
e. Hubungan sekolah dengan orang tua;
f. Loksi sekolah.

Menurut Suharsimi Arikunto ( 1993 : 21 ) membedakan factor-faktor yang mempengaruhi persatasi belajar ada dua jenis yaitu : factor dari dalam diri manusia itu sendiri ( factor internal ) dan factor yang berasal dari luar diri manusia ( factor eksternal ). Factor internal meliputi factor biologis ( usia, kesehatan ) dan factor psikologis ( motivasi, minat dan kebiasaan belajar ). Sedangkan factor eksternal terdiri atas factor manusia ( keluarga, sekolah dan masyarakat ) dan factor non manusia ( udara, suara, dan sebagainya ).

Selain itu factor yang mempengaruhi hasil belajar atas factor luar dan factor dalam. Factor luar terdiri atas lingkungan ( alam dan social ) dan instrumental ( kurikulum, program, sarana dan fasilitas serta guru ). Adapun factor dalam terdiri atas fisiologi ( kondisi fisiologi umum dan kondisi panca indera ) dan psikologi ( minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan kognitif ).       ( Sumadi, 1989 : 7 ).

5 . Pembelajaran dengan Pendekatan SETS

Pendidikan bervisi SETS memberi peluang siswa untuk berpikir komperhensif dengan mengintegrasikan berbagai pengetahuan yang telah dimiliki (Binadja, 2000). Tujuan pembelajaran berwawasan SETS baru dapat tercapai saat guru dan siswa berperan bersama didalamnya (Binadja, 2001). Guru harus dapat mencari informasi atau berita yang berkembang di masyarakat untuk diangkat pada saat membahas materi yang berkaitan.

Binadja (2001) menyebutkan ciri pembelajaran Biologi berpendekatan SETS adalah sebagai berikut :

  1. Memberi pembelajaran konsep Biologi yang diinginkan.
  2. Murid diajak melihat teknologi berkaitan konsep yang dipelajari/memanfaatkan konsep Biologi ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat.
  3. Murid diminta berpikir tentang berbagai kemungkinan akibat (positif/negatif) yang dapat terjadi dalam proses pentransferan Biologi ke dalam bentuk teknologi.
  4. Murid diminta menjelaskan keterkaitan unsur sains yang diperbincangkan dengan unsur lain dalam SETS yang saling mempengaruhi.
  5. Murid diajak mempertimbangkan manfaat/kerugian penggunaan konsep sains Biologi tersebut bila diubah dalam bentuk teknologi.
  6. Murid diajak mencari alternatif pengentasan terhadap kerugian yang mungkintimbul oleh penerapan sains ke bentuk teknologi terhadap lingkungan danmasyarakat (mencari bentuk teknologi yang lebih baik).
  7. Dalam konteks konstruktivisme, murid diajak berbincang tentang SETS berkaitandengan konsep sains yang dibelajarkan dari berbagai macam arah dan berbagaimacam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh siswa.Menurut Nurwati (2000), pendekatan SETS dalam pembelajaran Biologi akanmemotivasi siswa menjadi lebih tertarik terhadap bahasan yang sedang dipelajarinyakarena dikaitkan dengan hal nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari.

6.   Cakupan pendidikan SETS

Pendidikan SETS akan mencakup topik dan konsep yang berhubungan dengan Sains, lingkungan, teknologi dan hal – hal yang berkenaan dengan masyarakat. Inti tujuan SETS adalah agar pendidikan ini dapat membuat pelajar/siswa mengerti unsur-unsur utama SETS serta keterkaitan antar unsure tersebut pada saat mempelajari sains. Dengan kata lain di perlukan pemikiran yang kritis untuk belajar setiap elemen SETS dengan memperhatikan berbagai keterhubungan anatara unsur-unsur SETS tersebut. .(Binadja, 2001: 13).

Pendidikan SETS bukan suatu hal yang mengada – ngada. SETS membahas tentang hal – hal nyata yang dapat di pahami, dapat di lihat dan di bahas. Apabila kita membicarakan unsur – unsure SETS secara terpisah ini berarti bahwa kita sedang memberi perhatian khusus pada unsure SETS tersebut. Selanjutnya dari unsur ini kita mencoba menghubungkan keberadaan konsep sains dalam semua unsur SETS agar kita bisa mendapatkan gambaran umum dari peran konsep tersebut dalam unsur – unsur SETS yang lainnya itu. Apabila kita dapat melihat semua unsur itu dari luar, maka kita akan menyadari betapa pentingnya menggabungkan pecahan unsur – unsur tersebut untuk mendapatkan konsep total tentang SETS. .(Binadja, 2001: 14).

7. Remaja dan Perkembangannya

Siswa kelas XI merupakan bagian dari golongan remaja yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pada masa ini fenomena perubahan fisik dan psikologis nampak begitu menonjol dibandingkan masa sebelum atau sesudahnya. Remaja adalah suatu masa yang amat krisis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time (Conger, 1975 ). Salzman dan Pikunas (1976) dalam Yusuf (2005) menyebutkan bahwa, masa remaja ditandai dengan :

1. Berkembangnya sikap dependen kepada orang tua ke arah independen .

2. Adanya minat seksualitas.

3. Kecenderungan untuk memperhatikan diri sendiri, nilai etika dan isu moral. Havinghurst (1956) dalam Makmun (2004), menyusun fase perkembangan

kebutuhan yang harus dipenuhi oleh individu agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Fase perkembangan tersebut disusun sebagai berikut :

a. Masa Bayi dan Masa Kanak – Kanak Awal.

b. Masa Kanak – Kanak Akhir dan Anak Sekolah.

c. Masa Remaja

d. Masa Dewasa Awal.

Adapun tugas perkembangan pada masa remaja adalah :

1)      Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya dari kedua jenis.

2)      Mencapai suatu peran sosial sebagai pria dan wanita.

3)      Menerima dan menggunakan fisiknya secara efektif.

4)      Mencapai kebebasan emosional dari orang tua dan orang lain.

5)      Mencapai kebebasan keterjaminan ekonomis.

6)      Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan.

7)      Mempersiapkan diri sebagai persiapan perkawinan dan berkeluarga.

8)      Mengembangkan konsep dan ketrampilan intelektual yang diperlukan sebagai warga negara yang kompeten.

9)      Secara sosial menghendaki dan mencapai kemampuan bertindak secara bertanggungjawab.

10)  Mempelajari dan mengembangkan seperangkat sistem nilai dan etika sebagai pegangan dalam bertindak. Sejalan dengan pelaksanaan tugas perkembangan yang ada, remaja juga mengalami tahap perkembangan penghayatan agama. Remaja sebagai segmen dari siklus kehidupan manusia, menurut agama merupakan masa starting poin pemberlakuan hukum tasyri bagiseorang insan .

8.. Sikap Siswa dalam Pembelajaran

Terdapat 5 karakteristik sikap siswa, yaitu :

1)      Arah : Apabila seseorang dihadapkan pada suatu objek maka akan timbul dua kecenderungan. Kecenderungan ini menyatakan arah sikap, yang dapat saja berbentuk positif atau negatif.

2)      Intensitas Intensitas adalah kekuatan atau derajad sikap seseorang terhadap objek.

3)      Keluasan :Keluasan sikap adalah keluasan cakupan aspek yang dimiliki oleh objek sikap.

4)      Konsistensi :Konsistensi adalah kekuatan yang sangat positif , dan adanya kecenderungan untuk melaksanakan objek yang dihadapi.

5)      Spontanitas : Spontanitas adalah sejauh mana seseorang dapat menyatakan sikapnya secara spontan, tanpa tekanan.

DAFTAR PUSTAKA

-          Darsono, M., A. Sugandi, Martensi K. Dj., R.K. Sutadi & Nugroho. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.

-          Hamalik, O. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

-          Lukman Ali.1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta : Balai Pustaka

-          Suharsimi Arikunto. 1992. Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

-       ________________. 1995. Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

-       ________________. 1995. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta

-          Sumadi, Suryabrata. 1989. Psikologi pendidikan. Jakarta : CV Rajawali

-         


KULIAH KERJA NYATA ( KKN ) MANDIRI

PROPOSAL

Di Ajukan Untuk Memenuhi Kuliah Kerja Nyata ( KKN )

Di susun oleh kelompok :

Ketua : Asep Nurwahid ( 06410234 / PAI )

Sekretaris : Casini  ( 06460878 / Biologi )

Bedahara : Kokom Nur’aqliah ( 06440694 / IPS )

Anggota : ( Terlampir )

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )

SYEKH NURJATI

CIREBON

2010


KATA PENGANTAR

Bismillahrrahmaanrrahiim,,,

Puji syukur alhamddulilah penyusun panjatkan ke- Hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan proposan Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) ini tepat pada waktunya.

Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) merupakan mata kuliah yang wajib di laksanakan oleh semester VIII dan wajib di ikuti bagi yang telah memenuhi syarat. Tujuan dari KKN tak lain hanyalah suatu pembelajaran dan pengabdian langsung di masyarakat. Bagaimana peran mahasiswa di masyrakat sehingga memperoleh ilmu yang bermanfaat yang tidak di dapatkan di kampus. Dari KKN ini mahasiswa akan di latih bagaimana memecahkan masalah yang ada di masyarakat guna mencapai kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan proposal ini . Pembuatan proposal ini masih jauh dari sempurna kritik dan saran kami tunggu untuk pembelajaran pembuatan proposal selanjutnya.

Cirebon, 25 Februari 2010

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan wadah bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu – ilmu yang diperoleh dari Perguruan Tinggi di masyarakat. Pelaksanaan KKN sebagai wahana pengabdian masyarakat diharapkan juga dapat mengembangkan kemampuan praktis mahasiswa dalam menyerap keahlian yang ada dimasyarakat. Sehingga KKN diharapkan mampu membantu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada. Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang lahir dari proses pembangunan, pada hakekatnya merupakan pelaksanaan dari falsafah pendidikan nasional, dalam rangka Tri Darma Perguruan Tinggi.

Kuliah kerja nyata ( KKN ) juga merupakan salah satu mata kuliah dalam perguruan tinggi. Dalam kegiatan ini, mahasiswa melakukan segala tugas-tugas yang merupakan penerapan kegiatan akademik yang diwujudkan dalam kegiatan langsung oleh mahasiswa di lingkungan masyarakat atau lembaga. Harapannya, mahasiswa memperoleh pengalaman yang dapat meningkatkan kedewasaan atau profesionalisme untuk memperbaharui dan mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Dalam kaitannya dengan penelitian, mahasiswa diajak untuk meneliti dan merumuskan masalah yang kompleks, menelaah potensi-potensi dan kelemahan dalam masyarakat (sekolah) dan merumuskannya. Dengan makin tingginya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka mahasiswa dituntut untuk mengembangkan ilmu pengetahuan agar dapat berdaya dan berhasil guna. Oleh karena itu, teori yang didapatkan dari bangku kuliah diharapkan dapat diterapkan di lapangan. Pengetahuan teoritis belumlah dapat memberikan gambaran yang konkret jika belum diterapkan di lapangan.

Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat adalah suatu kegiatan intrakurikuler wajib yang memadukan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan metode pemberian pengalaman belajar dan bekerja kepada mahasiswa, dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. KKN juga merupakan wahana penerapan serta pengembangan ilmu dan teknologi, dilaksanakan di luar kampus dalam waktu, mekanisme kerja, dan persyaratan tertentu.

Oleh karena itu, KKN diarahkan untuk menjamin keterkaitan antara dunia akademik-teoritik dan dunia empirik-praktis. Dengan demikian akan terjadi interaksi sinergis, saling menerima dan memberi, saling asah, asih, dan asuh antara mahasiswa dan masyarakat. Melalui KKN mahasiswa memperoleh pengalaman belajar dan bekerja dalam kegiatan pembangunan masyarakat sebagai wahana penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Secara lebih nyata, KKN merupakan media penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di masyarakat secara sistematis dalam program pemberdayaan masyarakat. KKN juga diharapkan menjadi pendorong pengembangan riset terapan secara mutualistik dalam rangka membantu menyelesaikan permasalahan di masyarakat.

Kegiatan KKN diharapkan dapat mengembangkan kepekaan rasa dan kognisi sosial mahasiswa. Bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat, kegiatan KKN dapat membantu percepatan proses pembangunan serta membentuk kader penerus kegiatan pembangunan.

Kegiatan KKN yang akan kami lakukan di Desa Kedungsana Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon. Desa kedungsana ini berbatasan dengan :

Batas Desa / kelurahan Kecamatan
Sebelah utara Dana Mulya Plumbon
Sebelah selatan Karang Asem Plumbon
Sebelah timur Tegalsari Plered
Sebelah barat pesanggarahan Plumbon

Desa Kedungsana memiliki luas pemukiman sekitar 19, 1055 ha / m, luas persawahan 105.3000 ha / m, luas perkebunan 1.7500 ha / m, perkantoran 0,0400 ha / m, dan luas prasana umum lainya adalah 0, 2569 ha / m, dengan demikian luas totalnya adalah 126, 4524 ha / m.

Potensi sumber daya air di Kedungsana ini terdiri dari  :

Jenis Jumlah Unit Pemanfaat ( KK ) Kondisi

Baik / rusak

Sumur gali 537 568 baik
Sumur pompa 170 197 baik
Sungai 1 233 rusak
Depot isi ulang 2 150 baik

Selain dari sumber daya air berikut akan di uraikan mengenai tenaga kerja yang ada di Kedungsana :

TENAGA KERJA LAKI – LAKI PEREMPUAN
Penduduk usia 18 – 56 yang bekerja 1206 orang 1256 orang
Penduduk usia 18 – 56 yang tidak bekerja 59 orang 70 0rang
Penduduk masih sekolah umur 7 – 18 tahun 50 % 54 %

Di desa Kedungsana ini mempunyai jumlah penduduk 2106 laki – laki dan 2069 perempuan dengan mayoritas beragama islam. Alasan kami memilih desa ini sebagai tempat KKN adalah karena banyak sekali faktor yang perlu di kembangkan di sana. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pamong desa di sana tingkat pendidikan di sana masih rendah masyarakat nya pun masih memegang adat istiadat yang kuat.

Kepala desa di Kedungsana sudah menyetujui KKN di laksanakan di sana dan menurut beliau sangat senang sekali jika mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon melakukan pembelajaran KKN di sana guna mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera.

B. Rumusan Masalah

(1)         Bagaimana mahasiswa menjadi sarjana penerus pembangunan yang mampu menghayati permasalahan komplek yang dihadapi masyarakat dan belajar menanggulangi permasalahan tersebut ?

(2)         Bagaimana peran dan hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat, pemerintah daerah dan instansi lain yang terkait sehingga memperoleh umpan balik dalam rangka peningkatan relevansi Tridharma Perguruan Tinggi ?

(3)         Bagaimana sikap mahasiswa dalam pengembangan bidang – bidang yang bermanfaat di masyarakat ?

C. Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah:

(1)         Mempersiapkan mahasiswa menjadi sarjana penerus pembangunan yang mampu menghayati permasalahan komplek yang dihadapi masyarakat dan belajar menanggulangi permasalahan tersebut secara pragmatis dan terpadu.

(2)          Mendekatkan perguruan tinggi dengan masyarakat, pemerintah daerah dan instansi lain yang terkait sehingga memperoleh umpan balik dalam rangka peningkatan relevansi Tridharma Perguruan Tinggi dengan tuntutan pembangunan.

(3)          Mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan mahasiswa melalui penerapan ilmu, teknologi dan seni di bidang pertanian dalam arti luas melalui pengembangan kewirausahaan serta melatih mahasiswa untuk bekerjasama antar bidang keahlian secara terpadu.

D. Sasaran

Pada dasarnya kegiatan KKN diarahkan kepada 3 sasaran, yaitu :

a. Mahasiswa

1. Memperdalam pengertian, penghayatan, dan pengalaman mahasiswa tentang:

  1. Kegunaan hasil pendidikan dan penelitian bagi pembangunan pada umumnya dan pembangunan daerah pedesaan pada khususnya.
  2. Kesulitan yang dihadapi masyarakat dalam pembangunan serta keseluruhan konteks masalah pembangunan pengembangan daerah.

2. Mendewasakan alam pikiran mahasiswa dalam setiap penelaahan dan  pemecahan masalah yang ada di masyarakat secara pragmatis ilmiah.

3. Membentuk sikap dan rasa cinta, kepedulian sosial, dan tanggung jawab mahasiswa terhadap kemajuan masyarakat.

4. Memberikan ketrampilan kepada mahasiswa untuk melaksanakan program-program pengembangan dan pembangunan.

5. Membina mahasiswa agar menjadi seorang innovator, motivator, dan  problem solver.

6. Memberikan pengalaman dan ketrampilan kepada mahasiswa sebagai kader pembangunan.

b. Masyarakat (dan Pemerintah)

  1. Memperoleh bantuan pikiran dan tenaga untuk merencanakan serta melaksanakan program pembangunan.
  2. Meningkatkan kemampuan berfikir, bersikap dan bertindak agar sesuai dengan program pembangunan.
  3. Memperoleh pembaharuan-pembaharuan yang diperlukan dalam pembangunan di daerah.
  4. Membentuk kader – kader pembangunan di masyarakat sehingga terjamin kesinambungan pembangunan.

c. Perguruan tinggi

  1. Perguruan tinggi lebih terarah dalam mengembangkan ilmu dan pengetahuan kepada mahasiswa, dengan adanya umpan balik sebagai hasil integrasi mahasiswa dengan masyarakat. Dengan demikian, kurikulum perguruan tinggi akan dapat disesuaikan dengan tuntutan pembangunan. Tenaga pengajar memperoleh berbagai kasus yang dapat digunakan sebagai contoh dalam proses pendidikan.
  2. Perguruan tinggi dapat menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah atau departemen lainnya dalam melaksanakan pembangunan dan pengembangan IPTEK.
  1. Perguruan tinggi dapat mengembangkan IPTEK yang lebih bermanfaat dalam pengelolaan dan penyelesaian berbagai masalah pembangunan.

E.  Keluaran (Output)

Keluaran dari kegiatan ini adalah sejumlah hasil kegiatan pemberdayaan masyarakat (dalam bentuk laporan  hasil kegiatan, dokumentasi aktivitas lapang, publikasi, dll). Kegiatan – kegiatan yang ada di masyarakat yang telah dirintis, dalam kegiatan ini diharapkan  dapat terus tumbuh di masyarakat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

BAB II

PENGELOLAAN KULIAH KERJA NYATA ( KKN )

A.  METODE PELAKSANAAN PROGRAM

  1. Persipan

Yaitu perizinan dan perencanaan kegiatan KKN

  1. Pelaksanaan

Mahasiswa terjun ke lapangan dan mengadakan rapat koordinasi, serta pembuatan kelengkapan administrasi.

3.   Evaluasi Program

Pembenahan akhir dan pemantauan pelaksanaan tugas yang telah dilaksanakan

  1. Penyusunan laporan

Pembuatan laporan sebagai rekomendasi dari kegiatan yang telah dilaksanakan

B. Persyaratan Peserta

Peserta kegiatan ini adalah mahasiswa Semester VIII  IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang sudah memenuhi persyaratan sebagaimana mestinya.

C. Lama Kegiatan

Kegiatan lapangan dilaksanakan maksimum 40 hari

D. LEMBAGA PENGELOLA

Pelaksanaan KKN dikelola oleh Kepala Bidang Pengelolaan KKN dengan tugas dan wewenang sebagai berikut:

  1. Bertindak sebagai koordinator dalam pelaksanaan KKN.
  2. Merencanakan, membuat keputusan, mengarahkan, mengkoordinasi, mengawasi, mengevaluasi dan mengembangkan pelaksanaan KKN PPM.
  3. Bertanggung jawab kepada Kegiatan KKN.

E. KEPENGURUSAN KULIAH KERJA NYATA ( KKN )

1)      Dosen Pendamping Lapangan

a. Nama                 :

b. NIP                   :

2)       Ketua                   :   Asep Nurwahid

3)       Sekretaris             :  Casini  dan Gilang Kenari

4)       Bendahara            :  Kokom Nur’aqliyah dan Nurkhasanah

5)       Humas                  :  Siti Komariah,  Izmullabib dan Taufik Hidayat

6)       Konsumsi             :  Syuhadah + Mas’adah

F. Anggota KKN

No Nama Nim Jurusan
1 Asep Nurwahid 06410234 PAI – 1
2 Taufik Hidayat 06410266 PAI – 1
3 Raskadi 06430607 MTK
4 Kokom Nur’aqliyah 06440694 IPS
5 Ibnu Abas 06440689 IPS
6 Dian Anggraeni 06440683 IPS
7 Casini 06460878 Biologi
8 Suhadah 06460909 Biologi
9 Nurkhasanah 06430424 Biologi
10 Gilang Kenari 06430585 B. Inggris
11 Siti Komariah 06430614 B. Inggris
12 Mas’adah 06430602 B. Inggris
13 Moh. Munif 06310080 AAS
14 Izmullabib 06431010 B. Inggris
15 Ahmad Said 06430576 B. Inggris

Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas besar harapan Kami untuk di setujui untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) di Desa Kedungsana kecamatan Plumbon kabupaten Cirebon. Demikian kami buat dengan sesungguhnya.

Mengetahui

Cirebon, 25 Februari 2010

Ketua KKN                                                          P3M

___________________                                   ___________________

yuuk,,,kita belajar fisika,,,

ALAT-ALAT OPTIK

1. Mata

Mata manusia sebagai alat indra penglihatan dapat dipandang sebagai alat optik yang sangat penting bagi manusia. Bagian-bagian mata menurut kegunaan fisis sebagai alat optik :

Kornea merupakan lapisan terluar yang keras untuk melindungi bagian-bagian lain dalam mata yang halus dan lunak. Aqueous humor (cairan) yang terdapat di belakang kornea fungsi untuk membiaskan cahaya yang masuk ke dalam mata.

Lensa terbuat dari bahan bening (optis) yang elastik, merupakan lensa cembung berfungsi membentuk bayangan.Iris (otot berwarna) membentuk celah lingkaran yang disebut pupil. Pupil berfungsi mengatur banyak cahaya yang masuk ke dalam mata. Lebar pupil diatur oleh iris, di tempat gelap pupil membuka lebar agar lebih banyak cahaya yang masuk ke dalam mata.

Retina (selaput jala) terdapat di permukaan belakang mata yang berfungi sebagai layar tempat terbentuknya bayangan benda yang dilihat. Bayangan yang jatuh pada retina bersifat : nyata, diperkecil dan terbalik.

Bintik buta merupakan bagian pada retina yang tidak peka terhadap cahaya, sehingga bayangan jika jatuh di bagian ini tidak jelas/kelihatan, sebaliknya pada retina terdapat bintik kuning.

Permukaan retina terdiri dari berjuta-juta sel sensitif, ada yang berbentuk sel batang berfungsi membedakan kesan hitam/putih dan yang berbentuk sel kerucut berfungsi membedakan kesan berwarna.Otot siliar (otot lensa mata) berfungsi mengatur daya akomodasi mata.

Cahaya yang masuk ke mata difokuskan oleh lensa mata ke permukaan retina. Oleh sel-sel yang ada di dalam retina, rangsangan cahaya ini dikirimkan ke otak. Oleh otak diterjemahkan sehingga menjadi kesan melihat. Syarat kita dapat melihat benda adalah harus ada cayaha. Cahaya dapat berasal langsung dari sumber cahaya atau berasal dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang ada di sekeliling kita. Cahaya masuk menembus kornea, terus melewati lensa mata, dan akhirnya sampai ke retina. Bayangan benda jatuh tepat di bintik kuning, bersifat nyata, terbalik, dan diperkecil. Bayangan itu merupakan rangsangan atau informasi yang dibawa oleh syaraf penglihatan menuju pusat syaraf penglihatan di otak. Di otak, rangsangan ditafsirkan dan barulah kemudian kita mendapat kesan melihat benda.

Daya Akomodasi Mata.

Perlu diketahui bahwa jarak antara lensa mata dan retina selalu tetap. Sehingga dalam melihat benda-benda pada jarak tertentu perlu mengubah kelengkungan lensa mata. Untuk mengubah kelengkungan lensa mata, yang berarti mengubah jarak titik fokus lensa merupakan tugas otot siliar. Hal ini dimaksudkan agar bayangan yang dibentuk oleh lensa mata selalu jatuh di retina. Pada saat mata melihat dekat lensa mata harus lebih cembung (otot-otot siliar menegang) dan pada saat melihat jauh lensa harus lebih pipih (otot-otot siliar mengendor). Peristiwa perubahan-perubahan ini disebut daya akomodasi.

Daya akomodasi (daya suai) adalah kemampuan otot siliar untuk menebalkan atau memipihkan kecembungan lensa mata yang disesuaikan dengan dekat atau jauhnya jarak benda yang dilihat.

Manusia memiliki dua batas daya akomodasi (jangkauan penglihatan) yaitu :
1. titik dekat mata (punctum proximum)

adalah jarak benda terdekat di depan mata yang masih dapat dilihat dengan jelas. Untuk mata normal (emetropi) titik dekatnya berjarak 10cm s/d 20cm (untuk anak-anak) dan berjarak 20cm s/d 30cm (untuk dewasa). Titik dekat disebut juga jarak baca normal. Pada waktu berakomodasi maksimum, oto-otot silliaris atau otot-otot lensa mata bekerja sekuat-kuatnya agar lensa mata dalam keadaan secembung-cembungnya. Keadaan seperti itu menyebabkan kelelahan mata. Daya akomodasi maksimum pun terbatas. Semakin dekat benda dengan mata, semakin kuat lensa mata harus dicembungkan, sampai suatu saat tidak mampu lagi untuk dicembungkan. Hal itu terjadi apabila bendanya berada di titik dekat. Apabila bendanya didekatkan lagi melewati batas titik dekat, penglihatan kita akan semakin kabur.

Kemampuan otot-otot lensa mata untuk bekerja dipengaruhi usia seseorang. Pada usia anak-anak otot lensa mata sangat kuat untuk mencembungkan lensa mata. Oleh karena itu, anak-anak mampu melihat benda-benda yang sangat dekat jaraknya. Pada orang dewasa otot-otot lendsa matanya semakin lemah sehingga jarak punctum proximumnya makin jauh.
Pada mata emetrop atau mata normal anak-anak, jarak punctum proximumnya antara 10 cm sampai 15 cm, sedangkan pada orang dewasa antara 20 cm sampai 30 cm.

2. titik jauh mata (punctum remotum) adalah jarak benda terjauh di depan mata yang masih dapat dilihat dengan jelas. Untuk mata normal titik jauhnya adalah “tak terhingga”. Pada waktu lensa mata tidak berakomodasi (dalam keadaan sepipih-pipihnya), berkas-berkas sinar sejajar berkumpul di retina. Keadaan ini terjadi jika mata sedanng beristirahat atau mata melihat benda yang letaknya jauh sekali. Oleh karena itu punctum remotum mata normal berada di tempat yang jauh tak terhingga.

Cacat Mata

Berkurangnya daya akomodasi mata seseorang dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan mata untuk melihat benda pada jarak tertentu dengan jelas. Cacat mata yang disebabkan berkurangnya daya akomodasi, antara lain rabun jauh, rabun dekat dan rabun dekat dan jauh. Selain tiga jenis itu, masih ada jenis cacat mata lain yang disebut astigmatisma.
Cacat mata dapat dibantu dengan kacamata. Kacamata hanya berfungsi membantu penderita cacat mata agar bayangan benda yang diamati tepat pada retina. Kacamata tidak dapat menyembuhkan cacat mata. Ukuran yang diberikan pada kacamata adalah kekuatan lensa yang digunakan. Kacamata berukuran -1,5, artinya kacamata itu berlensa negatif dengan kuat lensa -1,5 dioptri.Berkurangnya daya akomodasi mata dapat menyebabkan cacat mata sebagai berikut.

Rabun jauh (miopi)


Rabun jauh yaitu mata tidak dapat melihat benda-benda jauh dengan jelas, disebut juga mata perpenglihatan dekat (terang dekat/mata dekat). Penyebab terbiasa melihat sangat dekat sehingga lensa mata terbiasa tebal. Miopi sering dialami oleh tukang arloji, penjahit, orang yang suka baca buku (kutu buku) dan lain-lain.

Untuk mata normal (emetropi) melihat benda jauh dengan akomodasi yang sesuai, sehingga bayangan jatuh tepat pada retina.Mata miopi melihat benda jauh bayangan jatuh di depan retina, karena lensa mata terbiasa tebal. Mata miopi ditolong dengan kacamata berlensa cekung (negatif).

Tugas dari lensa cekung adalah membentuk bayangan benda di depan mata pada jarak titik jauh orang yang mempunyai cacat mata miopi. Karena bayangan jatuh di depan lensa cekung, maka harga si adalah negatif. Dari persamaan lensa tipis, 1/f=1/So+1/Si si adalah jarak titik jauh mata miopi. so adalah jarak benda ke mataf adalah fokus lensa kaca mata.

Rabun dekat (hipermetropi)

Rabun dekat tidak dapat melihat jelas benda dekat, disebut juga mata perpenglihatan jauh (terang jauh/mata jauh). Rabun dekat mempunyai titik dekat yang lebih jauh daripada jarak baca normal. Penyebab terbiasa melihat sangat jauh sehingga lensa mata terbiasa pipih.
Rabun dekat sering dialami oleh penerbang (pilot), pelaut, sopir dan lain-lain. Rabun jauh ditolong dengan kacamata berlensa cembung (positif).

Bayangan yang dibentuk lensa cembung harus berada pada titik dekat mata penderita rabun dekat. Karena bayangan yang dihasilkan lensa cembung berada di depan lensa maka harga si adalah negatif. Dari persamaan lensa tipis, 1/f=1/So+1/Sisi adalah jarak titik jauh mata hipermetropi. so adalah jarak benda ke mataf adalah fokus lensa kaca mata.

Mata tua (presbiopi)

Mata tua tidak dapat melihat dengan jelas benda-benda yang sangat jauh dan benda-benda pada jarak baca normal, disebabkan daya akomodasi telah berkurang akibat lanjut usia (tua). Pada mata tua titik dekat dan titik jauh keduanya telah bergeser. Mata tua diatasi atau ditolong dengan menggunakan kacamata berlensa rangkap (cembung dan cekung). Pada kacamata dengan lensa rangkap, lensa negatif bekerja seperti lensa pada kaca mata miopi, sedangkan lensa positif bekerja seperti halnya pada kacamata hipermetropi.

Astigmatisma (mata silindris)

Astigmatisma disebabkan karena kornea mata tidak berbentuk sferik (irisan bola), melainkan lebih melengkung pada satu bidang dari pada bidang lainnya. Akibatnya benda yang berupa titik difokuskan sebagai garis. Mata astigmatisma juga memfokuskan sinar-sinar pada bidang vertikal lebih pendek dari sinar-sinar pada bidang horisontal.Astigmatisma ditolong/dibantu dengan kacamata silindris.

2.Kamera

Kamera digunakan manusia untuk merekam kejadian penting atau kejadian yang menarik. Banyak jenis dan model kamera dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kamera yang dipakai wartawan berbeda dengan yang dipakai fotografer. Kamera video dipakai dalam pengambilan gambar untuk siaran televisi atau pembuatan film. Kamera elektronik (autofokus) lebih mudah dipakai karena tanpa pengaturan lensa. Dewasa ini sudah ada kamera digital yang data gambarnya tidak perlu melalui proses pencetakan melainkan dapat dilihat atau diolah melalui komputer.

Bagian-bagian kamera mekanik (bukan otomatis) menurut kegunaan fisis :

  • lensa cembung berfungsi untuk membentuk bayangan dari benda yang difoto
  • diafragma berfungsi untuk membuat sebuah celah/lubang yang dapat diatur luasnya
  • aperture yaitu lubang yang dibentuk diafragma untuk mengatur banyak cahaya
  • shutter pembuka/penutup “dengan cepat” jalan cahaya yang menuju ke pelat film
  • pelat film berfungsi sebagai layar penangkap/perekam bayangan.Setiap benda yang di foto, terletak pada jarak yang lebih besar dari dua kali jarak fokus di depan lensa kamera, sehingga bayangan yang jatuh pada pelat film memiliki sifat nyata, terbalik dan diperkecil. Untuk memperoleh bayangan yang tajam dari benda-benda pada jarak yang berbeda-beda, lensa cembung kamera dapat digeser ke depan atau ke belakang.

3. Lup (kaca pembesar)

Lup (kaca pembesar) dipakai untuk melihat benda-benda kecil agar tampak lebih besar dan jelas. Oleh tukang arloji, lup dipakai agar bagian jam yang diperbaikinya kelihatan lebih besar dan jelas. Oleh siswa saat praktikum biologi, lup dipakai untuk mengamati bagian hewan atau tumbuhan agar kelihatan besar dan jelas.

Sebagai alat optik, lup berupa lensa cembung tebal (berfokus pendek). Sifat bayangan yang diharapkan dari benda kecil yang dilihat dengan lup adalah tegak dan diperbesar. Orang yang melihat benda dengan menggunakan lup akan mempunyai sudut penglihatan (sudut anguler) yang lebih besar daripada orang yang melihat dengan mata biasa. Ada dua cara memakai lup, yaitu dengan mata tak berakomodasi dan mata berakomodasi.

Melihat dengan mata tak berakomodasi

Untuk melihat tanpa berakomodasi maka lup harus membentuk bayangan di jauh tak berhingga. Benda yang dilihat harus diletakkan tepat pada titik fokus lup.
Keuntunganya adalah untuk pengamatan lama mata tidak cepat lelah, sedangkan kelemahannya dari segi perbesaran berkurang. Sifat bayangan yang dihasilkan maya, tegak dan diperbesar.

Perbesaran anguler yang didapatkan adalah :
M = PP/f
Keterangan :
M = perbesaran lup
PP= titik dekat mata
f = jarak titik fokus lensa

Melihat dengan mata berakomodasi

Agar mata dapat melihat dengan berakomodasi maksimum, maka bayangan yang dibentuk oleh lensa harus berada di titik dekat mata (PP). Benda yang dilihat harus terletak antara titik fokus dan titik pusat sumbu lensa.

Kelemahannya untuk pengamatan lama mata cepat lelah, sedangkan keuntungannya dari segi perbesaran bertambah.

Sifat bayangan yang dihasilkan maya, tegak dan diperbesar.
Perbesaran anguler yang didapatkan adalah :
M = PP/f + 1
Keterangan :
M = perbesaran lup
PP= titik dekat mata
f = jarak titik fokus lensa

4. Mikroskop


Penggunaan lup untuk mengamati benda-benda kecil ada batasnya. Jika kita menggunakan lup yang berjarak fokus kecil untuk mendapatkan perbesaran yang lebih besar, bayangan yang diperoleh tidak sempurna. Untuk itu, diperlukan mikroskop. Dengan memakai mikroskop kita dapat mengamati benda atau hewan renik, seperti bakteri dan virus yang tidak dapat dilihat mata secara langsung ataupun dengan memakai lup. Jenis mikroskop mutakhir yang sudah dibuat manusia adalah mikroskup elektron. Dalam subbab ini akan dipelajari mikroskop cahaya yang proses kerjanya memanfaatkan lensa cembung dengan menerapkan pembiasan cahaya.

Mikroskop cahaya mempunyai bagian utama berupa dua lensa cembung. Lensa yang menghadap benda disebut lensa objektif dan yang dekat ke mata disebut lensa okuler. Jarak fokus lensa objektif lebih kecil dari jarak fokus lensa okuler. Selain itu, mikroskop dilengkapi dengan cermin cekung yang berfungsi untuk mengumpulkan cahaya pada objek preparat yang akan diamati. Untuk mengatur panjang mikroskop agar diperoleh bayangan dengan jelas digunakan makrometer dan mikrometer.

Dasar kerja mikroskop

Obyek atau benda yang diamati harus diletakkan di antara Fob dan 2Fob, sehingga lensa obyektif membentuk bayangan nyata, terbalik dan diperbesar. Bayangan yang dibentuk lensa obyektif merupakan benda bagi lensa okuler. Lensa okuler berperan seperti lup yang dapat diatur/digeser-geser sehingga mata dapat mengamati dengan cara berakomodasi atau tidak berakomodasi.

Pengamatan dengan akomodasi maksimum
Untuk pengamatan dengan akomodasi maksimum, maka bayangan yang dibentuk oleh lensa okuler harus jatuh pada titik dekat mata (PP).

Perbesaran yang diperoleh adalah merupakan perbesaran oleh lensa obyektif dan lensa okuler yaitu:
M = Moby x Mok
M = (Si/So) x (PP/f okuler + 1)

Pengamatan dengan mata tidak berakomodasi

Untuk pengamatan dengan mata tidak berakomodasi, maka bayangan yang dibentuk oleh lensa okuler harus berada pada titik jauh mata. Perbesaran yang diperoleh adalah merupakan perbesaran oleh lensa obyektif dan lensa okuler yaitu:
M = Moby x Mok
M = (Si/So) x (PP/f okuler)

Panjang Mikroskop
Panjang mikroskop adalah jarak lensa obyektif terhadap lensa okuler dirumuskan :
Untuk mata berakomodasi
d = Si (ob) + So (ok)
Keterangan :
d = panjang mikroskop
Si (ob) = jarak bayangan lensa obyektif
So (ok) = jarak benda lensa okuler

Untuk mata tidak berakomodasi
d = Si (ob) + f (ok)
Keterangan :
d = panjang mikroskop
Si (ob) = jarak bayangan lensa obyektif
f (ok) = jarak fokus lensa okuler

5. Teropong (Teleskop)

A. Teropong bintang

Teropong bintang disebut juga teropong astronomi.

- terdiri dari 2 buah lensa cembung.

- jarak fokus lensa obyektif lebih besar dari jarak fokus lensa okuler.

Dasar Kerja Teropong

Obyek benda yang diamati berada di tempat yang jauh tak terhingga, berkas cahaya datang berupa sinar-sinar yang sejajar. Lensa obyektif berupa lensa cembung membentuk bayangan yang bersifat nyata, diperkecil dan terbalik berada pada titik fokus.

Bayangan yang dibentuk lensa obyektif menjadi benda bagi lensa okuler yang jatuh tepat pada titik fokus lensa okuler.

Penggunaan dengan mata tidak berkomodasi

Untuk penggunaan dengan mata tidak berkomodasi, bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif jatuh di titik fokus lensa okuler.

Perbesaran anguler yang diperoleh adalah :

M = f (ob) / f (ok)

Panjang teropong adalah :

M = f (ob) + f (ok)

Penggunaan dengan mata berkomodasi maksimal

Untuk penggunaan dengan mata berkomodasi maksimal bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif jatuh diantara titik pusat bidang lensa dan titik fokus lensa okuler.

Perbesaran anguler dapat diturunkan sama dengan penalaran pada pengamatan tanpa berakomodasi dan didapatkan :

M = f (ob) / So (ok)

Panjang teropong adalah :

M = f (ob) + So (ok)

B.  Teropong Bumi

Teropong bumi disebut juga teropong medan.
Terdiri dari 3 buah lensa cembung yaitu lensa obyektif, lensa okuler dan lensa pembalik.

Dasar Kerja Teropong Bumi :

Lensa obyektif membentuk bayangan bersifat nyata, terbalik dan diperkecil yang jatuh pada fob. Bayangan dibentuk oleh lensa obyektif menjadi benda bagi lensa pembalik jatuh pada jarak 2f pembalik sehingga terbentuk bayangan pada jarak 2f pembalik juga yang bersifat nyata, terbalik, dan sama besar .

Dengan adanya lensa pembalik panjang teropong dirumuskan menjadi :

d = f (ob) + 4f (pembalik) + f (ok)

Lensa pembalik berfungsi untuk membalikkan arah cahaya sebelum melewati lensa okuler, lensa okuler berfungsi seperti lup membentuk bayangan bersifat maya, tegak, dan diperbesar.
Adanya lensa pembalik tidak mempengaruhi perbesaran akhir, bayangan akhir bersifat maya, tegak dan diperbesar dengan perbesaran :
M = d = f (ob) / f (ok)

C. Teropong prisma (binokuler)

Teropong prisma terdiri atas dua pasang lensa cembung (sebagai lensa objektif dan lensa okuler) dan dua pasang prisma kaca siku-siku samakaki. Sepasang prisma yang diletakkan berhadapan, berfungsi untuk membelokkan arah cahaya dan membalikkan bayangan.
Bayangan yang dibentuk lensa objektif bersifat nyata, diperkecil, dan terbalik. Bayangan nyata dari lensa objektif menjadi benda bagi lensa okuler. Sebelum dilihat dengan lensa okuler, bayangan ini dibalikkan oleh sepasang prisma siku-siku sehingga bayangan akhir dilihat maya, tegak, dan diperbesar. Perbesaran bayangan yang diperoleh dengan memakai teropong prisma sama dengan teropong bumi.Beberapa keuntungan praktis dari teropong prisma dibandingkan teropong yang lain :

  1. Menghasilkan bayangan yang terang, karena berkas cahaya dipantulkan sempurna oleh  bidang-bidang prisma.
  2. Dapat dibuat pendek sekali, karena sinarnya bolak-balik 3 kali melalui jarak yang sama (dipantulkan 4 kali oleh dua prisma).
  3. Daya stereoskopis diperbesar, dua mata melihat secara bersamaan
  4. Dengan adanya prisma arah cahaya telah dibalikkan sehingg terlihat bayangan akhir bersifat maya, diperbesar dan tegak.

D. Teropong pantul astronomi .

Teropong pantul terdiri dari sebuah cermin cekung berjarak fokus besar sebagai cermin objektif, sebuah lensa cembung sebgai lensa okuler dan sebuah cermin datar sebagai pembelok arah cahaya dari cermin objektif ke lensa okuler.

E. Teropong panggung

Teropong panggung terdiri dari dua lensa, yaitu :
- lensa obyektif berup lensa cembung
- lensa okuler berupa lensa cekung

Dasar kerja dari teropong panggung

Sinar-sinar sejajar yang masuk ke lensa obyektif membentuk bayangan tepat di titik fokus lensa obyektif. Bayangan ini akan berfungsi sebagai benda maya bagi lensa okuler. Oleh lensa okuler dibentuk bayangan yang dapat dilihat oleh mata. Perlu diketahui bahwa bayangan yang dibentuk lensa okuler adalah tegak.

Perhatikan diagram dari proses terbentuknya bayangan benda pada gambar berikut. Dari gambar diatas untuk pengamatan tanpa berakomodasi), maka panjang teropong adalah :
d = f (ob) – f (ok)

Perbesaran anguler yang didapatkan adalah sama dengan perbesaran pada teropong bintang ataupun juga teropong bumi.
M = f (ob) / f (ok).

Silahkan anda klik disini untuk mempelajari lebih lanjut tentang teropong .

Soal Latihan

1. Sebuah lup memiliki fokus 2,5 cm. Berapakah perbesaran sudut lup untuk mata tak berakomodasi?
2. Seseorang yang memakai kacamata – 0,25 dioptri dapat melihat benda yang sangat jauh dengan jelas.  Jika orang tersebut melepas kacamatanya, berapakah jarak paling jauh yang masih dapat dilihatnya ?
3. Seseorang yang titik dekatnya 50 cm hendak membaca buku yang diletakkan pada jarak 25 cm. Hitung kekuatan kaca mata yang dipakai.
4. Seorang rabun dekat dapat melihat benda dengan jelas pada jarak kurang dari 75 cm. Jika ia menggunakan kacamata yang mempunyai kuat lensa 2,5 dioptri, berapa titik dekatnya setelah ia memakai kacamata ?
5. Sebuah mikroskop mempunyai jarak fokus lensa obyektif 2 cm dan jarak fokus lensa okuler 5 cm. Panjang mikroskop 25 cm. Jika mata normal melihat benda renik tanpa berakomodasi, hitung perbesaran total mikroskop.
6. Sebuah teropong bumi memiliki lensa obyektif berfokus 16 cm dan lensa okuler berfokus 10 cm dan lensa pembalik berfokus 2 cm. Jitung berapa panjang teropong.
7. Sebuah teropong bintang mempunyai daya perbesaran 20 X dan memberikan bayangan di tempat yang jauhnya tak terhingga. Jarak fokus lensa obyektif 100 cm. Hitung panjang teropong.

SUMBER ARTIKEL http://www.soal.yavenu.info

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.